Soal Startup Unicorn Prabowo Bisa Kehilangan Swing Voters

| 17 Feb 2019 23:50
Soal <i>Startup Unicorn</i> Prabowo Bisa Kehilangan <i>Swing Voters</i>
Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto (Wardhany/era.id)
Jakarta, era.id - Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto bilang, kalau Capres 02 Prabowo Subianto gagal paham soal perkembangan industri 4.0 dan startup Unicorn. Menurut Hasto, Prabowo punya kekhawatiran berlebih terkait hal-hal yang berkaitan dengan luar negeri. Hal ini membuatnya tak memahami kompetisi anak bangsa.

"Sehingga persoalan infrastruktur kebijakan untuk Unicorn pun gagal dipahami," kata Hasto di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (17/2/2019).

Sekjen PDI Perjuangan itu merasa kegagalan Prabowo dalam memaparkan masalah industri 4.0 dan startup bisnis Unicorn membuatnya bisa kehilangan suara dari generasi milenial. Terlebih soal komitmen dan visi-misi Prabowo dalam pengembangan teknologi informasi yang jadi syarat penting kemajuan bangsa.

Terlebih sikap Prabowo yang justru terkesan pesimis. Padahal, menurut Hasto sebagai pemimpin harusnya bisa mencari peluang dan menjawab tantangan dengan terobosan baru, seperti yang dilakukan oleh Jokowi.

"Dalam kebijakan industri 4.0, di bawah Jokowi, Indonesia membuat prestasi yang membanggakan di mana tujuh unicorn di Asean, empat berasal dari Indonesia," ungkapnya.

Selain itu ditambahkannya, generasi milenial adalah generasi digital yang  berpandangan luas dan erat hubungannya dengan teknologi. Hasto memprediksi kalau pertanyaan Jokowi soal Unicorn kepada Prabowo akan membuat dukungan swing voters beralih ke paslon 01.

"Dengan pertanyaan substansif Jokowi yang sangat menohok terkait unicorn tersebut, dipastikan preferensi para pemuda, generasi milenial, dan mereka yang masih ragu-ragu, akan dipastikan bergeser ke Jokowi," tutupnya.

Debat Pilpres yang kedua ini dipimpin oleh moderator Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki. Pertanyaan-pertanyaan dipandu dari kalangan akademisi dan para pakar yang sesuai dengan tema debat. Mulai dari Rektor ITS Profesor Joni Hermana, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nur Hidayati, Rektor IPB Arif Satria, juga ahli pertambangan ITB Profesor Irwandy Arif. Belum lagi pakar energi Ahmad Agustiawan, pakar lingkungan Undip Sudharto P. Hadi, dan Sekjen Konsorsium Pengembangan Agraria Dewi Kartika.

Rekomendasi