Hope dan Ancaman Kehidupan Orang Utan

Tim Editor

    Hope (Foto: Twitter @Sutopo_PN)

    Jakarta, era.id - Usia induk orang utan malang itu 30 tahun. Saat ini, ia kritis. Sejumlah luka akibat serangan benda tajam dan 74 peluru yang bersarang di tubuh mengancam kelangsungan hidupnya. Kini, di tengah kondisi hidup dan mati, orang utan itu diberi nama Hope. Semoga nama itu betul-betul memberi harapan bagi Hope untuk tetap hidup.

    Meski mengamini harapan di atas dengan sepenuh hati, sayangnya kami perlu bilang, ada hal yang lebih penting daripada memberikan nama Hope untuk seekor orang utan sekarat. Hal penting itu bernama perlindungan bagi kehidupan mereka, bahwa konflik antara orang sadis dan orang utan harus segera diakhiri.

    Enggak bisa enggak. Sudah terlalu lama banyak manusia hidup dalam pandangan salah tentang orang utan. Kera besar itu selalu dianggap masalah bagi perkebunan sawit garapan manusia. Karena terlanjur dianggap sebagai hama, manusia pada akhirnya terus melakukan perburuan dan penyerangan terhadap orang utan.

    Sulit memang bicara konservasi orang utan di tengah tingginya produksi sawit di negeri ini. Sulit, namun bukan mustahil. Edy Sudiono, Manajer Kemitraan The Nature Conservancy Indonesia untuk Indonesia Terrestrial Program di Kalimantan Timur yang bilang, masih ada cara menjembatani kepentingan konservasi dan ekonomi.

    Menurut Edy, otoritas harus membangun keterpaduan perencanaan tata ruang untuk mengamankan habitat asli orang utan dengan menetapkan Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT) di wilayah perusahaan yang mempertimbangkan konektivitas dengan kawasan hutan alam yang lebih luas.

    "Begitupun para pemegang konsesi yang terpaksa membuka hutan, sebaiknya tidak menimbulkan kantong-kantong hutan yang terfragmentasi. Kemudian, diterapkannya prinsip praktik pengelolaan terbaik pada setiap unit pengelola," terang Edy lewat tulisan yang kami kutip dari Kompas, Rabu (13/3/2019).

    Penetapan KBKT ini jadi penting untuk menjaga habitat orang utan dari aktivitas manusia. Sebab, jika merujuk analisis GLOBIO (Global Methodology for Mapping Human Impact on the Biosphere), tahun 2030 nanti diperkirakan 99 persen habitat orang utan akan terpengaruh aktivitas manusia.
     


    Populasi menyusut

    Analisis yang disusun Nelleman dan Newton pada tahun 2002 ini menunjukkan meningkatnya potensi konflik antara orang utan dan manusia di masa mendatang. Dan prediksi ini sejatinya nampak seirima dengan laju penyusutan populasi orang utan.

    Artinya, peristiwa yang menimpa Hope di wilayah BKSDA Aceh sejatinya hanya gambaran kecil dari sebuah permasalahan yang jauh lebih besar. Hope saat ini masih ditangani tim medis setelah ditemukan terluka parah di bagian tangan kanan, kaki kanan, serta punggung plus 74 peluru senapan angin yang bersarang di tubuhnya.

    Hope ditemukan bersama bayi orang utan berumur satu bulan yang juga menunjukkan kondisi mengenaskan. Bayi orang utan itu pun mati di perjalanan menuju Pusat Karantina di Sibolangit, Sumatera Utara dalam kondisi kekurangan nutrisi parah dan shock berat.

    Sumatera dan Kalimantan jadi dua wilayah yang juga amat berbahaya bagi kelangsungan hidup orang utan saat ini. Jurnal Current Biology menunjukkan angka penyusutan populasi orang utan Kalimantan hingga angka seratus ribu sejak tahun 1999. Dan penyebabnya, enggak lain adalah meluasnya perkebunan kelapa sawit dan industri kertas.

    Temuan ini sejalan dengan temuan International Union for Conservation (IUCN) pada tahun 2016 yang mengamini betapa terancamnya populasi orang utan di Kalimantan.

    Sementara itu, angka penyusutan populasi orang utan yang paling kacau terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki banyak hutan tropis yang dialihfungsi menjadi perkebunan sawit. Jadi, selain serangan langsung, penebangan liar dan alihfungsi lahan juga jadi faktor yang paling mengganggu kelangsungan hidup orang utan.

    Dengan berbagai fakta di atas, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dituntut untuk bekerja lebih serius. Bukan hanya menindak tegas para pembunuh orang utan yang sifatnya dilindungi, tapi juga menyusun formulasi untuk menjembatani kepentingan ekonomi dan konservasi orang utan.

    Dengan begitu, Hope akan menjadi harapan sesungguhnya, bukan hanya jadi nama yang bersifat simbolis.

    Tag: orang utan satwa dilindungi

    Bagikan :