Ketika Pemijat Arsitek Naik Pitam

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (Wildan/era.id)

Jakarta, era.id - Tabir kematian Feri Firman Hadi (50), arsitek yang tewas membusuk di kediamannnya, Perumahan Poin Mas, Pancoran Mas Depok, Jawa Barat belum tersingkap. Asep Mulyadi, pria 21 tahun yang menancapkan gunting ke leher Feri masih membisu soal kedekatan hubungan keluarganya dengan korban.

Jauh sebelum bau busuk mayat Feri tercium pada Rabu (3/1) lalu, hubungan pelaku dengan korban begitu harmonis. Selama dua bulan, Asep kerap melayani panggilan memijat Feri yang telah lama menduda. Begitu pun saat malam pembunuhan 10 Desember 2017, ini kali ke-15 pemuda asal Bogor itu menyambangi rumah Feri untuk memijat.

Asep mendatangi rumah Feri setelah menelepon. Pemuda itu gundah karena kejaran biaya kontrakan rumah keluarganya sebesar Rp750.000. Dia bermaksud meminjam uang ke Feri. Asep dan keluarganya diminta untuk tinggal sementara dulu di rumah Feri. Ajakan yang lantas ditolak Asep. 

Polisi menduga pembunuhan itu dilakukan Asep karena tersinggung atas ucapan korban. Namun, kesimpulan itu pun masih harus didalami.

"Penjelasan tersangka terkait ucapan korban yang mengajak ibunya supaya datang ke rumah itu kan (saat itu) korban tidak berada di rumah? Baru diajak, kok marahnya sampai begitu? Jadi kami masih dalami," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Nico Afinta di Polda Metro Jaya, Selasa (9/1/2018).


(Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Nico Afinta (jafriyal/era.id)

Penelitian polisi menyimpulkan, seseorang memiliki keinginan membunuh karena dalam kondisi sangat marah. Bisa karena harga diri, terancam nyawanya atau putus asa. Polda Metro Jaya bermaksud melakukan olah tempat kejadian perkara kembali untuk membuktikan pengungkapan motif pembunuhan bukan sekedar intuisi.

Naik pitam Asep dinilai janggal, cuma karena tidak dipinjamkan uang sebesar Rp100 ribu atau Rp200 ribu. "Kok marahnya sampai seperti itu. Juga permintaan uang itu tidak besar," ujar Nico.

Bercak darah yang tercecer di meja, sofa, lantai dan tempat tidur menandakan sang arsitek tidak seketika tewas setelah dianiaya pelaku. Kendati, setelah menusukkan gunting ke leher korban, Asep memukulnya berulangkali dengan bangku. Feri diketahui masih sempat menelepon keluarganya dengan handphone yang dipegangnya. Tentunya, pembunuhan ini bukan karena hal sepele.



Tiga hari setelah penemuan mayat Feri menggemparkan warga Pancoran Mas, Asep yang melarikan diri ke Kampung Bojong, Desa Sukamulih, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, berhasil ditangkap, Sabtu (6/1). Asep menyesali perbuatannya. Bayang-bayang pembunuhan itu terus menghantuinya. Polisi menjerat Asep dengan pasal 338 KUHP. Asep terancam kurungan penjara maksimal 20 tahun.

Polisi memastikan, ini pembunuhan pertama yang dilakukan Asep. Kondisi psikologi Asep juga sehat setelah menjalani tes Biddokes Polri. Meski begitu, motif pembunuhan ini masih belum terungkap. 

"Ada beberapa kejanggalan dari keterangan yang diberikan oleh tersangka kepada kami. Besok, kita akan lakukan olah TKP kembali," tegas Nico.

Bagikan: