Sambutan Prabowo Tanpa Ucapan Selamat dan Terima Kasih

Tim Editor

Prabowo-Sandi (Mery/era.id)

Jakarta, era.id - Sambutan Prabowo Subianto kemarin malam menimbulkan tanda tanya. Capres nomor urut 02 ini luput mengucapkan selamat kepada penyelenggara pemilu. Bahkan, mantan Danjen Kopassus itu tidak mengucapkan selamat kepada pasangan 01 Jokowi-Ma'ruf yang memenangkan sidang MK. 

Prabowo hanya menyampaikan terima kasih kepada sejumlah orang, termasuk kepada sejumlah kelompok masyarakat, setelah usai pengumuman sidang Mahkamah Konstitusi (MK) Kamis malam (27/6). Prabowo memberi sambutan di markas Kertanegara, dengan didampingi Cawapres Sandiaga Uno serta pimpinan Partai Gerindra.

Berbeda dengan Jokowi, selain mengucapkan terima kasih kepada pasangan 02 Prabowo-Sandi, dia juga menyebut keduanya sebagai, "Sahabatku."

Kamis malam itu juga seusai sidang, Jokowi didampingi Ma'ruf Amin memberikan sambutan di Bandara Halim Perdana Kusuma, sebelum dia bertolak ke Jepang.

Balik lagi, tak jelas apa makna yg tersembunyi dari sambutan Prabowo itu. Sebab, mustahil dia lupa sehingga tidak menyebut ucapan terima kasih kepada sang pemenang pilpres. 

Majelis hakim konstitusi (Anto/era.id)

Menurut Pengamat Komunikasi Politik Ujang Komaruddin, alasan Prabowo tak mengucapkan selamat kepada lawan politiknya karena memang masih ada masih ada ganjalan di dadanya. 

"Di satu sisi, dia menerima keputusan MK, tapi di sisi lain dia dalam tanda petik masih kesal karena gugatannya ditolak, dikalahkan oleh Mahkamah Konstitusi," kata Ujang kepada era.id, Jumat (28/6/2019).

Lagipula, kita semua kan tahu bahwa kekalahan Prabowo bukan hanya kali ini saja. Dua kali kalah sebagai capres, ditambah satu kali kalah sebagai cawapres berpasangan dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. 

Bisa jadi, dalam pandangan Prabowo dan kubu 02, kecurangan yang diajukan bisa jadi dalam pandangan mereka terjadi, tapi kan ternyata kubu 02 enggak bisa membuktikannya. 

Sementara, persidangan di MK mengharuskan pemohon membeberkan secara gamblang kecurangan itu dengan bukti-bukti nyata. Nah, inilah yang menurut Ujang, membuat sulit bagi kubu 02 untuk membuktikan kecurangan secara nyata itu.

"Oleh karena itu rasa kesal itu muncul. Menurut saya manusiawi, kan dia kalah lebih dari sekali. Ditambah, Ada beberapa pendukungnya yang menjadi tersangka masuk penjara, ini kan jadi luka tersendiri bagi Prabowo kubu 02. Ini yang masih disimpan dalam sanubari mereka," jelas Ujang. 

Lebih jauh, tim 02, tampak sangat gigih merebut kemenangan kursi RI periode 2019-2024. Setelah menolak hasil quick count dan real count dan menolak pengumuman KPU, kini Prabowo masih mencari upaya hukum lain meski sidang MK merupakan benteng terakhir perjuangan hukum sengketa pilpres.


Ilustrasi (Ilham/era.id)

Ujang heran, karena menurut dia tidak ada langkah hukum lain dalam sistem demokrasi Indonesia selain MK. Hanya MK yang diberikan kewenangan untuk menyelesaikan persoalan perselisihan hasil pemilu, sifatnya mengikat dan final. 

Meskipun Direktur Komunikasi dan Media BPN Hashim Djojohadikusumo pernah berwacana untuk melaporkan dugaan kecurangan pemilu ke mahkamah internasional, menurut Ujang, itu hanya sekadar wacana. 

"Tidak ada institusi lain yang menjadi tempat untuk mencari keadilan tahap berikutnya setelah dari MK. Tidak ada tempat atau kasus terkait dengan sengketa pemilu yang bisa diajukan mahkamah internasional," ucap Ujang.

"Wacananya Hashim itu mengada ada. Pengadilan internasional itu hanya ada dua, yaitu pengadilan HAM lalu sengketa antarnegara. Perselisihan presiden di satu negara, itu enggak ada ruangnya di internasional," lanjut dia. 

Pak Prabowo, lebih baik enggak usah pusing mikirin langkah konstitusi selanjutnya. Dan satu hal lagi, sejatinya mengakui kekalahan itu baik, tapi bagaimanapun mengucapkan selamat dan terima kasih itu lebih baik. 

"Dalam berdemokrasi, semestinya juga harus mengakui kemenangan lawan," tutup Ujang. 

Tag: perlawanan terakhir prabowo

Bagikan: