Ada Pengkhianat di Kemenkumham

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Budi Waseso. (jafriyal/era.id)

Jakarta, era.id - Ada pengkhianat di Kementerian Hukum dan HAM. Ini yang menyebabkan 50% peredaran narkoba bersumber dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Budi Waseso meluapkan kegeraman itu usai meringkus Kepala Rutan Kelas II B Purworejo, Jawa Tengah, Cahyono Adhi Satriyanto yang menerima pencucian uang dari narapidana narkoba.

Buwas mengaku tak segan memberondong seorang pengkhianat dengan peluru tajam. Bayangkan saja, hasil penyelidikan petugas menemukan 18 transaksi kotor dari penghuni Lapas Pekalongan, Jawa Tengah bernama Christian Jaya Kusuma alias Sancai masuk ke rekening Cahyono.

Puluhan kali transaksi itu menggendutkan rekening Cahyono senilai Rp313.500.000. Uang haram itu digunakan Cahyono untuk biaya hidup, dan keperluan pribadi.

"Bahkan oknum ini bicara soal permintaan untuk memberikan upeti ke atasan. Oknum jelas minta sejumlah uang. Bukti-bukti transfer itu saya ikuti," tegas Budi Waseso di Gedung BNN, Rabu (17/1/2018).

Uang tersebut diberikan Sancai sebagai pelicin untuk mengendalikan aliran sabu miliknya dari balik jeruji besi. Cahyono menggunakan rekening atas nama SUH dan SUN untuk menerima uang haram Sancai.

"Ke sekian kali, tiap tindak pidana narkotika kita tindaklanjuti dengan TPPU. Ini kita ungkap narkotika dengan TPPU baru keliatan oknum pejabat kepala lapas," kata jenderal bintang tiga itu.

Perkenalan Cahyono dan Sancai bermula di Lapas Nusakambangan Cilacap, Jawa Tengah. Saat itu Cahyono menjabat sebagai Kepala Lapas Nusakambangan, dan Sancai merupakan penghuni lapas.  Selain dengan Cahyono, Sancai juga bertransaksi dengan Charles Cahyadi dan Saniran.

BNN menangkap Charles dan Saniran di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada Kamis, (11/1). Dari tangan Charles dan Saniran BNN menyita 2 emas batangan seberat 1.350 gram, dan uang tunai senilai Rp400.000.000.

Para tersangka dijerat Pasal 3,4,5, dan 10 UU No 8 Tahun 2010 Tentang TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) dan Pasal 137 UU No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.



Tembak ramai-ramai

Pengkhianat seperti Cahyono ini yang menyuburkan peredaran narkoba di Lapas. Ini yang membuat BNN kesulitan memberantas penyalahgunaan narkoba di Indonesia, kata Buwas. Pantas saja, 50% peredaran narkoba berasal dari lapas.

Buwas mengaku tidak segan-segan menghukum oknum pengkhianat yang menghalangi pemberantasan narkoba, termasuk oknum pengkhianat tersebut berada di BNN. 

"Kita fair tidak pilih kasih. Kalau ada oknum polisi berkhianat kita selesaikan. Saya sudah bilang ke Deputi Pemberantasan, kalau ada pengkhianat di BNN tembak pakai senjata BNN sendiri. Kalau Kepala BNN berkhianat tembak ramai-ramai oleh anggota," tegasnya.

Budi meminta penanggung jawab lapas jangan menutupi kesalahan oknum. Jangan dibela jika ada yang berkhianat harus dibenahi dan ditindak.

"Kita ada menghadapi masalah internal negara terkait narkoba, karena ada salah satu instansi negara yang tidak komit dalam melaksanakan perintah presiden," ujarnya.

Tag: narkoba

Bagikan: