Peran Besar PB Djarum untuk Bulu Tangkis Indonesia

Tim Editor

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susi Susanti (Mahesa/era.id)

Jakarta, era.id - Tahun depan, 2020, tak akan ada lagi Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis dari Persatuan Bulu Tangkis Djarum. Padahal, sejak 1970-an, PB Djarum kerap melakukan seleksi calon atlet bulu tangkis yang menjadi terkenal di kelas internasional.

Penghentian audisi ini karena adanya imbauan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang menganggap ada unsur eksploitasi anak pada audisi ini. Mereka menganggap logo PB Djarum identik dengan merek rokok. Ini dianggap KPAI sebagai pelanggaran anak-anak tidak boleh dilibatkan dalam industri rokok. 

Kondisi seperti ini dianggap akan membuat kemunduran bagi dunia bulu tangkis Indonesia. Meski, banyak sekolah bulu tangkis, nyatanya sulit untuk menelurkan bibit unggul segencar PB Djarum.

"Memang ada klub lain, tapi tidak seintens PB Djarum untuk mengadakan audisi. PB Djarum audisinya juga tersebar dari Sabang sampai Merauke," kata Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susi Susanti saat ditemui era.id di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (11/9/2019).

Dalam setahun, PB Djarum mampu menggelar audisi di 8 kota. Pesertanya bisa mencapai 5.000 orang dan jatah beasiswanya bisa mencapai 100 orang. Sementara, klub lainnya paling cuma sekali menggelar audisi dalam setahun dan jatah beasiswanya masing-masing hanya 10 orang.

"Lalu pembiayaan untuk PBSI sendiri, Djarum menyumbang hampir 85 persen. Pemerintah hanya membantu sebesar 15 persen," tuturnya.

Susi menegaskan, menjadi klub pembina itu harus menopang atlet secara berkesinambungan. Sebab, untuk melatih atlet hingga mengukir prestasi, tak mungkin dilakukan dalam jangka waktu beberapa bulan saja.

Susi bisa bilang begini karena dirinya merupakan atlet senior yang sudah berkancah selama puluhan tahun. Kini, dia sudah pensiun dan membantu dunia bulu tangkis di lingkaran pemerintah.

"Untuk tunggal putri sendiri, setelah 20 tahun, kita mau ciptain lagi juara dunia union, untuk menjadi juara senior butuh waktu lagi, butuh pembinaan lagi," ungkapnya. 

"Sekarang dari awal, ujungnya saja sudah dihambat, terus kita mau cari di mana?" nada Susi meninggi. Ia teringat beratnya proses menuju prestasi yang diraih, salah satunya Dia medali emas di Olimpiade Barcelona pada 1992.



Lepasnya PB Djarum tentu meninggalkan beban PBSI dalam mempertahankan kemudi bibit atlet bulu tangkis. Apalagi, saat KPAI diminta ikut mencari solusi dari buntut masalah ini, mereka malah lepas tangan dan mengembalikan urusan ke PBSI. 

"Kata mereka, itu urusannya PB Djarum. Tapi, kata mereka, kalau mau membina ya semua logo enggak boleh ada. Sekarang begini, istilahnya kalau kita nyumbang pas kondangan aja nulis nama, terus nanti audisinya namanya apa dong?" tutur Susi. 

Harusnya, menurut Susi, ketika KPAI tak mau ada PB Djarum, maka carilah penggantinya. Caranya, bisa dengan mencarikan sponsor swasta lainnya yang punya kepedulian terhadap bulu tangkis.

"Jangan semua punya ego masing-masing mau menang sendiri dan melihat kepentingan dan potensi keberhasilan atlet lebih besar lagi," ucap dia.

Tak mungkin dipungkiri, peran PB Djarum dalam pengembangan bulu tangkis nasional. Sejarah panjang bertabur prestasi itu dimulai pada 1970, ketika karyawan PT Djarum mengubah fungsi brak --tempat karyawan melinting rokok-- di Jalan Bitingan Lama Nomor 35, Kudus, Jawa Tengah menjadi tempat berlatih bulu tangkis di setiap sore.

Seiring waktu, lapangan itu tak cuma jadi milik karyawan PT Djarum. Sejumlah pemain dari luar turut meramaikan. Mereka yang ikut dalam pelatihan itu kemudian menamai diri sebagai Komunitas Kudus. Dari sana, lahirlah Liem Swie King, salah satu legenda bulu tangkis termasyhur di dunia. Gelar juara Piala Munadi di sektor ganda putra tahun 1972 jadi prestasi pertama Liem bersama Komunitas Kudus.

Sejak itu, CEO PT Djarum, Budi Hartono --yang juga menggemari bulu tangkis-- memutuskan untuk mengembangkan Komunitas Kudus menjadi organisasi yang lebih besar, terbentuklah PB Djarum.

Di tahun 1974, organisasi ini diresmikan dan diketuai Setyo Margono. Sejak itu, PB Djarum tak pernah berhenti mencetak atlet-atlet unggulan dengan segudang prestasi mendunia.

Liem jadi pembuka jalan itu. Tahun 1978, ia menjadi pemain pertama PB Djarum yang berhasil menjuarai All England di sektor ganda putra. Kesuksesan yang dilanjutkan Liem di tahun selanjutnya. Nama Kartono dan Heryanto jadi catatan manis PB Djarum berikutnya. Kombinasi keduanya berhasil menyusul kesuksesan Liem. Setidaknya, dua trofi All England di tahun 1981 dan 1984 berhasil disabet ganda putra ini.

Kesuksesan Liem, Kartono dan Heryanto mendorong PB Djarum mengembangkan organisasi ke Jakarta pada 1985 dan di Surabaya pada 1986. Hingga hari ini, sederet atlet memperpanjang kisah sukses PB Djarum. Mereka yang berhasil menjuarai Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis dan Olimpiade, seperti Mohammad Ahsan, Kevin Sanjaya Sukamuljo, hingga Praveen Jordan dan Tontowi Ahmad.

Tag: bulu tangkis

Bagikan: