Pepesan Kosong Nota Perdamaian Israel dan Palestina

Tim Editor

PM Israel Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina Yasser Arafat berjabat tangan di halaman Gedung Putih AS. (Sumber: Commons Wikimedia)

Jakarta, era.id - Akhir tahun 1917, tepatnya saat Perang Dunia I berlangsung, Pemerintah Britania mengumumkan dukungan pendirian tanah air bagi orang Yahudi di Palestina. Kala itu, wilayah tersebut merupakan kawasan Utsmaniyah dengan populasi minoritas Yahudi. 

Pernyataan publik yang dikenal dengan deklarasi Balfour itu tercantum dalam sebuah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Britania Raya Arthur Balfour kepada Lord Walter Rothschild, seorang pemimpin komunitas Yahudi Britania, untuk transmisi ke Federasi Zionis Britania Raya dan Irlandia. 

Sejak saat itu, konfik antara kedua negara yakni Israel dan Palestina dimulai. Bahkan sampai perjanjian perdamaian antara ke dua negara yang terangkum dalam "Declaration of Principles" digelar yaitu pada 13 September atau 26 tahun lalu, upaya damai masih jauh panggang dari api. 


Teks deklarasi Balfour diterbitkan dalam pers pada 9 November 1917. (British Library/Commons Wikimedia)

Proses perdamaian tersebut sudah dibuka sejak tahun 1991 setelah Perang Teluk. Negosiasi berikutnya bergulir menjadi serangkaian obrolan bilateral antara Israel dengan negara-negara tetangganya yang dihelat di Washington, dan beberapa "jalur multilateral." Serangkaian pertemuan-pertemuan itu dimaksudkan untuk mengatasi masalah regional secara komprehensif. 

Awalnya, Israel mengadakan negosiasi mengenai wilayah teritori dengan delegasi yang masing-masing merepresentasikan Palestina dan Kerajaan Yordania. Namun secara tak terduga, Israel malah diam-diam membuat deklarasi yang menurut Joseph W. Dellapenna dalam Exploring The Oslo Accords: Recipe for Peace or Footnote to History? (2002) disebut sebagai prinsip yang sengaja dibuat ambigu mengenai banyak masalah, bahkan tidak menjelaskan secara eksplisit soal masalah nasib wilayah Yerussalem dan pemukiman Israel di Tepi Barat dan Gaza.

Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) merumuskan perjanjian itu secara rahasia di Oslo, Norwegia. Perumusan itulah yang menjadi dasar perjanjian "Declarations of Principles" tersebut.

Kesepakatan itu menyerukan penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza dan kota Jericho di Tepi Barat dan pembentukan pemerintah Palestina yang pada akhirnya akan diberi wewenang atas sebagian besar wilayah Tepi Barat. Di Gedung Putih, Presiden Bill Clinton memimpin upacara. Sementara lebih dari 3.000 penonton hadir, termasuk mantan presiden George Bush dan Jimmy Carter, turut menyaksikan ketika Arafat dan Rabin menyegel perjanjian dengan jabat tangan.

Declaration of Principles membawa angin optimisme bahwa perdamaian final akan terjadi pada akhir tahun 1998. Optimisme itu terlihat dari jabatan tangan antara Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina Yasser Arafat di halaman Gedung Putih, Amerika Serikat.

Dalam sambutannya, Rabin, seorang mantan jenderal militer Israel, mengatakan kepada khalayak, "Kami para prajurit yang telah kembali dari pertempuran yang berlumuran darah, kami yang telah melihat kerabat dan teman kami terbunuh di depan mata kami, kami yang telah berperang melawan Anda, Palestina, kami katakan kepada Anda hari ini dengan suara keras dan jelas: Cukup pertumpahan darah dan air mata itu. Cukup!" Kata Rubin. 



Sementara dari perwakilan Palestina, Arafat, menyatakan bahwa "Pertarungan untuk perdamaian adalah pertempuran paling sulit dalam hidup kita. Ini layak untuk upaya terbaik kami karena tanah perdamaian merindukan perdamaian yang adil dan komprehensif," katanya di depan khalayak. 

Perjuangan mereka bukan tanpa rintangan. Selalu ada upaya oleh para ekstremis dari kedua sisi untuk menyabotase proses perdamaian dengan kekerasan. Kendati demikian di awal masa perjanjian, Israel menarik militer mereka dari Jalur Gaza dan Jericho pada Mei 1994. Sementara Pada bulan Juli, Arafat memasuki Jericho dan menyampaikan kabar gembira kepada warga Palestina karena akan segera membentuk pemerintahannya -Otoritas Palestina. 

Pada Oktober 1994, Arafat, Yitzhak Rabin, dan Shimon Peres bersama-sama dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian atas upaya rekonsiliasi tersebut.

Kemudian pada bulan September 1995, Rabin, Arafat, dan Peres menandatangani perjanjian perdamaian yang mengatur perluasan pemerintahan sendiri Palestina di Tepi Barat dan pemilihan demokratis untuk menentukan kepemimpinan Otoritas Palestina.

Lebih dari sebulan kemudian, pada tanggal 4 November 1995, kabar buruk datang. Rabin dibunuh oleh seorang ekstremis Yahudi pada sebuah demonstrasi damai di Tel Aviv. Dia digantikan oleh Peres sebagai perdana menteri dan berjanji untuk melanjutkan proses perdamaian. 

Namun, serangan teroris oleh para ekstremis Palestina pada awal 1996 mempengaruhi opini publik Israel, dan pada Mei Benjamin Netanyahu dari Partai Likud -- partai sayap kanan ekstrimis Yahudi-- terpilih sebagai perdana menteri. Netanyahu bersikeras bahwa Ketua Otoritas Palestina Arafat memenuhi kewajibannya untuk mengakhiri terorisme oleh para ekstremis Palestina, tetapi serangan sporadis berlanjut dan proses perdamaian terhenti.

Perjanjian yang sudah diperjuangkan dengan susah itu mulai memudar khususnya ketika Bibi --sapaan Benjamin Netanyahu-- memimpin. Perpecahan antar keduanya mulai terlihat kembali. Pada gilirannya, kedua belah pihak menolak implementasi penuh dari prinsip deklarasi itu. 


Suasana pemukiman penduduk di Jalur Gaza, Palestina, yang hancur pada tahun 2015. (Foto: Pixabay)

Misalnya ketika Israel memperluas permukiman dan membangun jalan menuju permukiman yang melewati kota-kota Palestina, padahal sebelumnya mereka berjanji untuk melihat Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai satu unit teritorial tunggal yang satu kesatuan.

Demikian juga dengan Palestina yang enggan untuk menolak pasal-pasal dalam dokumen perjanjian damai, sementara mereka menyerukan penghancuran Israel. Palestina secara terbuka mendukung kelanjutan kelompok pejuang bersenjata melawan Israel. Itu adalah dua hal yang telah mereka janjijan sebelumnya. 

Bahkan sampai detik ini, perseteruan antara Israel dan Palestina masih terus berlangsung. Terbaru, setelah terpilih lagi untuk yang kesekian kalinya, Netanyahu menjanjikan kepada rakyatnya bahwa ia berencana untuk mencaplok wilayah Tepi Barat.

Tag: israel-palestina

Bagikan: