Presiden Rodrigo Duterte Dipuji Warga Filipina, Dibenci Internasional

Tim Editor

Presiden Filipina Rodrique Duterte (GMA News Filipino)

Jakarta, era.id - Perang narkoba yang diperintahkan oleh Presiden Rodrigo Duterte mendapat beragam respon berbeda. Meski dianggap melakukan pelanggaran hak asasi manusia oleh masyarakat internasional, nyatanya Duterte begitu dicintai oleh warga negaranya.

Dalam survei lembaga independen yang dilakukan Social Weather Stations mengungkapkan, 82 persen penduduk Filipina merasa sangat puas dengan perang berdarah yang dilakukan Duterte untuk melawan narkoba. Jajak pendapat itu diambil dari 1.200 masyarakat Filipina, terhadap kepresidenan Duterte selama tiga tahun terakhir. 

Kendati mendapat mayoritas dukungan dari masyarakat Filipina dalam melawan narkoba, namun 12 persen masyarakat lainnya justru merasa kurang puas dengan aksi koboi Duterte.  Mereka menilai aksi main hakim yang dilakukan polisi justru menimbulkan banyak pelanggaran.

Dalam laporan Reuters, kepolisian Filipina telah membunuh setidaknya lebih dari 6.700 pelaku dan pengedar narkoba. Otoritas kepolisian juga menyangkal keterlibatannya dalam pembunuhan misterius ribuan pengguna narkoba dengan target tertentu, serta memalsukan laporan, dan merusak barang bukti, seperti disangkakan aktivis HAM internasional.

"Jika benar bahwa ada pelanggaran HAM maka rakyat di negara ini akan bangkit terhadap pemerintahan," ucap Juru bicara kepresidenan, Salvador Panelo yang merasa pemahaman masyarakat internasional terkait situasi di Filipina, justru keliru.




Kecaman dunia internasional

Sejak tiga tahun terakhir, Duterte membuktikan janjinya untuk memberantas penyalahgunaan narkoba di Filipina dengan memberikan wewenangan kepada kepolisian untuk membunuh pecandu atau pengedar obat-obatan terlarang.

Dikutip dari The Guardian, pemerintah Filipina disebut telah melakukan serangkaian pembunuhan sistematis terhadap kaum papa di kota tersebut. Hal ini memicu kejahatan terhadap kemanusiaan.

Menengok laporan Amnesty Internasional, tercatat sekitar 6.000 orang telah terbunuh oleh kepolisian dalam operasi anti narkoba. Namun, para aktivis menyebutkan korban tewas mencapai 27 ribu orang. Hal itu kemudian diusut oleh resolusi PBB --yang dipimpin oleh Islandia dan 18 negara lainnya, untuk kejahatan perang terhadap kemanusiaan dalam pemberantasan narkoba. 

Selain itu, Mahkamah Internasional (ICC) juga tengah melakukan penyelidikan untuk mengusut dugaan pelanggaran HAM dalam perang narkoba yang dilakukan Duterte. Hal ini pula yang menyebabkan Filipina hengkang dari keanggotan ICC sejak 17 Maret 2018.
 

Tag: filipina presiden rodrigo duterte narkoba

Bagikan: