Langkah Pemulihan Menyusul Bertambahnya Korban Rusuh Wamena

Tim Editor

Gubernur Lukas Enembe saat menemui warga Wamena (Paul Tambunan)

Jayapura, era.id – Korban jiwa atas kerusuhan di Wamena ibukota Kabupaten Jayawijaya, Papua terus bertambah. Kepolisian mencatat total 29 orang meninggal dunia hingga Rabu sore (25/9/2019).

Selain itu, terdapat 76 orang korban luka atas tragedi berdarah itu. Umumnya, korban jiwa dan luka lantaran terjebak dalam rumah dan tempat usahanya. Mereka ketakutan atas ulah massa yang beringas, hingga melakukan pembakaran dan penganiayaan terhadap warga di sekitar Kota Wamena.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal di Jayapura, mengatakan 29 korban jiwa itu rata-rata mengalami luka bakar dan terkena benda tumpul.

“Jumlah korban meninggal sampai hari ini, Rabu (25/9) sebanyak 29 orang. Para korban rata-rata meninggal karena luka bacok, luka bakar dan terkena benda tumpul,” kata Kamal kepada sejumlah wartawan di Media Center Polda Papua.

Dari 76 korban luka, enam orang di antaranya telah dirujuk ke beberapa rumah sakit di Kota Jayapura. Hal ini dikarenakan sejumlah pasien harus segera mendapatkan langkah operasi oleh medis. Layanan listrik di Wamena pun belum pulih pascarusuh. 

Informasi yang dihimpun era.id, hingga malam ini sekitar lima ribu pengungsi masih bertahan di Markas TNI, Polri, Rumah Ibadah maupun Kantor DPRD Jayawijaya.

Dinas Sosial Provinsi Papua pun telah mengambil langkah dengan mengirimkan pasokan bahan makanan ke Wamena, menggunakan pesawat dari badara Sentani, di Kabupaten Jayapura. Sementara pendistribusiannya akan dilakukan mulai besok pagi, Kamis (26/9). 

Laporan Polda Papua, kerusuhan di Wamena menimbulkan kerusakan parah. Tercatat 80 mobil, 30 sepeda motor, 150 rumah dan ruko serta lima kantor pemerintahan. “Jumlah ini belum ditambah kantor dan ruko yang dirusak oleh massa,” beber Kamal.


Pemulihan

Kamal turut mengklaim situasi di Kota Wamena sudah berangsur kondusif. Namun aparat gabungan TNI-Polri masih berjaga-jaga untuk mengantisipasi aksi susulan.

Sementara itu, Gubernur Papua Lukas Enembe, Rabu siang, berada di Wamena untuk melihat keadaan para korban jiwa dan luka di Rumah Sakit Umum Jayawijaya.

Enembe didampingi oleh Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI Herman Asaribab dan  Irjen Pol Paulus Waterpauw sebagai utusan Kapolri untuk Papua. Mereka juga menemui ribuan pengungsi yang masih ditampung di Markas Kodim 1702/Jayawijaya, Polres Jayawijaya, dan Kantor DPRD setempat.

"Saya minta pak Panglima dan Kapolda untuk membantu mengevakuasi korban menggunakan pesawat TNI dan Polri ke Jayapura supaya mendapat penanganan medis dan perawatan di sejumlah Rumah Sakit di Jayapura," pinta Enembe merespons permintaan Bupati Jayawijaya John R Banua dan Direktur RSUD Wamena, dr. Felly Sahureka terkait adanya korban yang memerlukan rujukan untuk penanganan medis lanjutan.


Sisa-sisa kerusuhan Wamena (Paul Tambunan)


Pangdam XVI Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab dan Irjen Pol Paulus Waterpauw menyatakan pihaknya mendukung langkah pemulihan keamanan serta penanganan korban kerusuhan Wamena. 

“Kita sudah membantu evakuasi jenazah akibat kerusuhan ini, dan akan terus kita dukung proses pemulihan,” kata Waterpauw yang juga pernah menjabat Kapolda Papua ini.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai saat ditemui era.id di Kota Jayapura, Rabu malam, menyebutkan, tiga rumah sakit rujukan di Jayapura telah disiapkan untuk penanganan korban kerusuhan Wamena. Ketiganya yakni RS Yowari di Sentani, RSUD Jayapura, dan RS Bhayangkara.

Sedangkan posko layanan medis di Wamena dipusatkan di RSUD Jayawijaya. “Stok obat-obatan cukup untuk kebutuhan korban di sana, namun kami masih butuh waktu mendata para korban jiwa dan luka. Besok Kamis kami umumkan,” katanya.

Sebelumnya, sekitar dua ratus pelajar sekolah menengah atas (SMA) menggelar aksi protes atas dugaan isu rasial yang dilakukan oleh oknum guru di wilayah Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pada Senin (23/9) lalu. Aksi protes berlangsung anarkis hingga berbuntut kerusuhan disertai pembakaran sejumlah gedung perkantoran dan puluhan rumah warga. 

Kapolda Papua Irjen Pol Rudolf Alebrth Rodja memastikan informasi bermuatan rasial tersebut adalah tidak benar atau hoaks. “Kami sudah memeriksa oknum guru itu, dan saya pastikan berita itu tidak benar,” tegasnya seraya mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar secara sepihak di media sosial. (Paul Tambunan)

Tag: kkb papua

Bagikan: