Perjuangan Tanpa Kekerasan Mahatma Gandhi

Tim Editor

Mahatma Gandhi (Wikimedia)

Jakarta, era.id - Hari ini dunia memperingati Hari Antikekerasan Internasional. Tanggal peringatan ditetapkan sejak 15 Juni 2007 oleh Majelis Umum PBB. Pemilihan tanggal 2 Oktober diambil dari hari lahir pejuang tanpa kekerasan, Mahatma Gandhi, 150 tahun lalu. Bagaimana kisah perjuangan Gandhi nan legendaris?

Lahir dengan nama Mohanda Karamchand Gandhi, ia lahir pada 2 Oktober 1869 di Porbandar, Gujarat, India. Ayahnya, Kaba Gandhi merupakan seorang pekerja di Pengadilan Rajasthanik. Sementara, ibunya, Putlibai adalah ibu rumah tangga. Keluarga mereka tergolong dalam kasta Bania dan menganut agama Hindu dari sekte Vaishnav. Masyarakat Hindu di India terdiri dari kasta-kasta yang berbeda. Brahmana adalah yang tertinggi. Orang-orang Brahmana adalah kasta para imam.

Di bawah Brahmana ada juga golongan kasta yang masih dianggap kasta tinggi, termasuk Kasta Bania atau Agarwal yang merupakan kasta Gandhi. Selain Bania, ada juga kasta Rajput dan Mahratta yang tergolong dalam kasta tinggi. Sedangkan suku yang termasuk dalam kasta yang rendah di antaranya suku Lingayat, Yadava, Kurmi, dan Teli.


Gandhi kecil mengenyam pendidikan dasar dan menengah di kota Rajkot lantaran harus mengikuti sang ayah yang pindah ke kota itu. Saat dirinya berusia 13 tahun, Gandhi dinikahkan dengan Kasturbai. Pernikahan Gandhi di usia belia tergolong biasa. Pada saat itu, nikah di bawah umur merupakan tradisi. Dari pernikahan itu, Gandhi dikaruniai tiga putra. 

Selesai menempuh pendidikan menengah, Gandhi melanjutkan kuliah di Samaldas College. Namun, karena mendapat kesulitan dalam mengikuti kuliah di universitas tersebut, Gandhi akhirnya keluar. Selanjutnya, Mavji Dave, seorang sahabat keluarga menganjurkan Gandhi untuk kuliah hukum di Inggris, mengingat pengacara lulusan Inggris akan mudah mendapat pekerjaan di India. Setelah mendapat persetujuan dari keluarga, Gandhi pun akhirnya kuliah di Inggris pada tahun 1888.

Di Inggris, Gandhi mulai banyak menyerap ilmu dan gaya hidup ala barat. Seperti dijelaskan Agnes Sri Poerbasari dalam "Nasionalisme Humanistis Mahatma Gandhi" (2007), Gandhi mulai sering membaca koran, belajar dansa, bermain biola. serta belajar bahasa Prancis. Untuk menjadi pengacara, Gandhi menempuh pendidikan di London Matriculation. Selama studi, ia mempelajari hukum Inggris, hukum Romawi, dan bahasa Latin. Kala itu, hukum India dan Hindu tidak diajarkan di dalam kampus. Ilmu itu baru dipelajari Gandhi ketika ia tiba di India.

Gandhi lulus ujian pengacara pada tanggal 10 Juni 1891. Keesokan harinya, ia mencatatkan diri ke Pengadilan Tinggi dan pada tanggal 12 Juni 1891 ia pulang ke India. Setibanya di India, Gandhi merasa kesulitan. Bagaimana tidak. Gandhii sama sekali belum menyentuh persoalan hukum di tanah kelahirannya itu. Perjalanan karirnya di India --tepatnya di Kota Rajkot-- hancur karena kota tersebut penuh dengan permainan politik dan ketidakadilan terhadap suku minoritas yang merupakan klien Ghandi.
 

Berawal di Afrika Selatan

Suatu waktu, Gandhi menerima tawaran perkara dari Dada Abdullah & Co di Afrika Selatan. Maka pada tahun 1893 Gandhi berlayar
menuju Durban, Natal di Afrika Selatan. Kiprah Gandhi di Afrika Selatan membentuk dirinya sebagai pembela kaum yang terpinggirkan, tokoh nasionalis yang humanis sekaligus pemimpin moral bagi bangsanya. Masih menurut Agnes Sri Poerbasari (2007), salah satu peran besar Gandhi di sana adalah menentang kebijakan-kebijakan diskriminatif yang dibuat oleh para koloni-koloni Imperium Inggris di Afrika Selatan. 

Daerah Natal, Transvaal, dan Orange Free State merupakan koloni-koloni dari Imperium Inggris di Afrika Selatan. Pada 1860, Pemerintah Natal dan India menandatangani persetujuan pengiriman buruh-buruh kontrak India untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan tebu di Natal. Seiring waktu, jumlah migrasi buruh-buruh kontrak ini semakin banyak. Migrasi itu diikuti oleh kedatangan para pedagang muslim yang berasal dari pantai barat India. Menurut catatan dalam tulisan Agnes, pada 1895 di Natal terdapat 46.000 jiwa orang India.


Mahatma Gandhi di Afrika Selatan (Wikimedia)


Pada 1904 jumlahnya meningkat mencapai 100.418 melebihi orang Eropa yang ada sebanyak 97.109 jiwa. Meningkatnya jumlah orang India merupakan ancaman ekonomi bagi warga kulit putih. Untuk menekan orang-orang India, mereka mulai mendesak Dewan Legislatif Natal agar memberlakukan berbagai Undang-Undang yang bercorak diskriminatif. Hal serupa juga terjadi di Orange Free State dan Transvaal.

Contoh dari pemberlakuan UU diskriminatif itu adalah ketika Gandhi di Durban. Gandhi merasa terhina karena diharuskan membuka sorban di pengadilan. Ia juga ditolak ketika masuk ke dalam gerbong kereta api kelas satu di Charlestown dan dilarang duduk bersama orang kulit putih di kereta. Aturan diskriminatif itu mencapai puncaknya ketika orang-orang India dicabut hak politiknya. 


Melawan diskriminasi

Dalam rangka menentang kebijakan-kebijakan nan diskriminatif tersebut, Gandhi lantas membentuk komite kerja. Ia juga mendirikan partai Natal Indian Congress dan menggalang kekuatan politik yang mampu mempersatukan orang India dari berbagai agama, seperti Hindu, Islam, Parsi, dan Kristen yang berasal dari wilayah Gujarat, Madras, Tamil. Melalui gerakan ini, Gandhi memberikan kesadaran politik bahwa mereka adalah satu. Gandhi juga menunjukkan pentingnya hak-hak politik sehingga harus diperjuangkan.

Situasi di Afrika Selatan telah menumbuhkan kesadaran Gandhi untuk mengangkat martabat bangsanya yang mayoritas buta huruf dan bekerja sebagai kuli kontrak. Kelompok ini yang nantinya sangat menderita ketika berbagai Undang-Undang diskriminatif diberlakukan, seperti pemberlakuan pajak yang cukup besar, The Asiatic Registration Bill --upeti dari pemerintah khusus untuk bangsa Asia-- di Transvaal dan sebagainya.

Sebagai upaya menentang ketidakadilan dalam Undang-Undang tersebut, Gandhi membangun gerakan yang dikenal dengan satyagraha, yakni suatu bentuk perlawanan tanpa kekerasan yang dapat berupa pembangkangan sipil (civil disobedience), boikot dan passive resistance. Gerakan satyagraha secara besar-besaran terjadi pada tahun 1906 dan 1908.

Pada tahun 1908, ribuan orang India melintasi Transvaal tanpa sertifikat dan sebagian berdagang tanpa ijin. Mereka dengan sengaja melanggar hukum sebagai pernyataan damai tentang hak-hak mereka yang telah dihapus. Keberhasilan Gandhi di Afrika lantas dibawa ke India. Di Bombay, Karachi, Lahore, dan Calcutta, Gandhi melakukan agitasi untuk mendidik rakyat tentang perlunya penghapusan buruh kontrak.

Di Champaran, Bihar, ia melakukan reformasi sosial untuk menghapus sistem Tinkathia --kewajiban petani penggarap untuk menanam nila pada tiga petak dari 20 petak tanah miliknya. Setelah itu, di Kheda, Gandhi melakukan reformasi di bidang hukum melalui upayanya menghapus sistem pajak yang mencekik rakyat. Kemudian, di Ahmedabad, ia pernah menjadi mediator konflik perburuhan.

Langkah Gandhi dalam mempersiapkan gerakan satyagraha tidak serta mulus di negerinya. Gerakan satyagraha gagal karena kerusuhan meletus di Ahmedabad. Dari situ Gandhi menangguhkan gerakannya hingga rakyat menangkap makna damai, yang menurut Gandhi hanya bisa didapat bila rakyat sudah dapat bertindak menurut Ahimsa.

Ahimsa merupakan prinsip sentral Gandhi yang ditemukan dalam ajaran agama, namun oleh Gandhi digunakan sebagai dasar dalam konsep-konsep sosial politiknya. Konsep damai yang digagas Gandhi berpuncak pada saat Perang Dunia II meletus. Gandhi menyerukan anggota kongres untuk mencari langkah-langkah kompromi dengan Inggris, dibanding mengambil kesempatan untuk melakukan konfrontasi. Ia tidak ingin kemerdekaan India diraih dari Inggris yang hancur karena PD II. Pasalnya, cara seperti itu bertentangan dengan ajaran tanpa kekerasan. 

Singkat cerita, setelah kehancuran Inggris dan revolusi India selesai, Ganhdi mendorong dua negara untuk membicarakan peralihan kekuasaan. Hingga akhirnya pada 15 Agustus 1947, peralihan kekuasaan dilakukan. Setahun pasca kemerdekaan India, tragedi tragis terjadi pada 30 Januari 1948. Saat hendak pergi ke suatu upacara agama, Gandhi ditembak mati oleh seorang pemuda Sikh yang mencurigai langkahnya untuk mendamaikan massa yang bergolak.

Tag: peristiwa hari ini

Bagikan: