Ikutan 'Lebaran' Petani Tembakau dan Menangkap Keresahan soal Naiknya Cukai Rokok

Tim Editor

Ilustrasi foto tembakau (Monica Volpin/Pixabay)

Bandung, era.id - Ratusan orang berkaus merah memenuhi Gedung Budaya Sabilulungan di Soreang, Kabupaten Bandung. Mereka adalah petani tembakau yang merayakan World Tobacco Growers Day (WGTD) 2019, lebarannya petani tembakau sedunia. Satu hal kami tangkap saat mengunjungi perayaan ini. Para petan ternyata tengah terancam dengan berbagai kebijakan pengelolaan tembakau. Di Indonesia maupun di dunia.

Memasuki area tersebut, kami menemukan tenda-tenda pameran yang menggelar produk-produk tembakau dari berbagai daerah, mulai dari Garut, Sumedang, Kabupaten Bandung, Subang, Lampung, DIY, dan sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Daerah-daerah tersebut adalah bagian dari 17 Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) se-Indonesia.

Aroma harum tembakau tertangkap hidung. Acara kemudian dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan kesenian tradisional khas Priangan. Tamu yang hadir juga disuguhkan ngadu bako bersama si Cepot dan dalang Eso Wiasa Sunandar. Selain itu, penyelenggara juga menggelar sebuah talk show bertajuk Tobacco Creative bersama Paperka, lomba pencak silat, dan bako kreatif bersama Orkes PHB.

Lewat acara ini, para petani berkesempatan memperkenalkan produk tembakau tanah mereka. Para petani juga memanfaatkan acara ini sebagai ajang konsolidasi antarsesama. Satu hal yang mereka soroti dalam konsolidasi ini adalah kebijakan pemerintah yang tak berpihak pada kelangsungan industri tembakau lokal yang bakal berdampak pada hidup para petani tembakau lokal.

“Kami bangga dengan petani tembakau. Mereka telah bekerja sepenuh hati demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan dengan tetap menjaga lingkungan serta merawat masyarakat sekitar," tutur Ketua Umum APTI Soeseno ditemui di sela acara, Rabu (30/10/2019).

"Petani tembakau menerapkan praktik kerja yang baik serta menjalankan berbagai prakarsa sosial dan lingkungan untuk secara konsisten meningkatkan mutu hidup keluarga mereka serta masyarakat secara umum. Selama ratusan tahun, petani tembakau juga merupakan bagian penting dari sistem ekonomi masyarakat. Tembakau adalah warisan kita,”, tambah Soeseno.


Gelar tembakau di WGTD 2019 (Iman Herdiana)


Akar masalah tembakau

Di Tanah Priangan, potensi tembakau luar biasa besar. Tembakau yang berasal dari Jawa Barat biasanya dijual ke pasar tembakau di Sumedang untuk kemudian dikirim ke Payakumbuh, Sumatera, lalu ke Malaysia. Dengan kata lain, tembakau Jawa Barat telah memenuhi standar kualitas ekspor. Segala capaian ini lah yang ingin diingatkan kembali. Segala capaian dan prestasi yang sempat diraih para petani tembakau Jawa Barat.

Acara ini juga menjadi bentuk promosi tembakau Jawa Barat. Produk-produk terbaik tembakau akan dilaporkan ke ITGA. Dengan begitu, dunia luar akan bisa melihat produk tembakau yang ada di Jawa Barat, Indonesia. “Tapi tembakau Jabar khas. Penghasil devisa,” kata Soeseno.

Kebesaran pertanian tembakau di Jawa Barat juga dapat dilihat dari luas area perkebunan. Dilihat dari sisi ini, Jawa Barat menempati posisi tiga setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

“Lewat momen ini kita promosikan bahwa petani tembakau selama ini mandiri. Mereka berkreasi dalam kesehariannya, hidup dari sistem pertanian tembakau. Di Indonesia, hampir setiap provinsi ada tanaman tembakau, dari Aceh sampai Sulawesi Selatan,” kata Soeseno.

Menurutnya, kemandirian para petani tembakau perlu dikabarkan dan diungkap. Selama ini para petani tembakau kurang mendapat perhatian dari pemerintah yang cenderung setuju dengan gerakan antitembakau. Padahal, tembakau juga memberikan kontribusi tidak sedikit pada pendapatan negara. Tahun ini, kata Soeseno, cukai produk tembakau memberikan Rp170 triliun pada negara.

”Pada cukai tiap batang rokok mengalir keringat petani tembakau dan petani cengkih. Mereka berkontribusi kepada negara,” katanya.


Kenaikan cukai m?endatang

Kebijakan terbaru yang disoroti para petani tembakau adalah kenaikan cukai 21,3 persen dan naiknya harga eceran sebesar 35 persen pada tahun 2020. Ia mengingatkan, kebijakan tersebut akan mengurangi serapan tembakau. Pabrik akan mengurangi konsumsi tembakaunya. Ujung-ujungnya, kebijakan tersebut akan merugikan petani tembakau karena serapan hasil panen mereka berkurang.

Pun saat ini. Kata Soeseno, walaupun kebijakan kenaikan cukai baru akan diterapkan 2020, namun dampaknya sudah terasa. Para pedagang besar mulai memainkan isu untuk mengurangi pembelian produk tembakaunya. Mereka tidak akan membeli banyak-banyak. Dan hal ini akan menimbulkan goncangan bagi para petani.

Namun, ia meminta para petani agar tidak khawatir dan turun semangat. Sebab, ini bukan kali pertama hidup para petani tembakau ditekan kebijakan. Tekanan parah sebelumnya dialami pada 2010. “Tapi kami yakin petani tembakau akan tetap solid dan itu untuk bangsa dan negara. Ingat, 170 triliun cukai,” katanya.

Ia juga yakin peringatan hari tembakau dunia ini akan memompa semangat para petani tembakau. Bahwa para petani tembakau sudah biasa kerja dalam tekanan dan akan terus hidup. “Kegiatan ini akan dikenal di seluruh dunia, bahwa di Bandung ada tembakau bagus dan diekspor. Dengan kegiatan ini semoga petani tetap jaya,” harapnya.


Gelar tembakau di WGTD 2019 (Iman Herdiana)


Acara tersebut dihadiri aktivis petani dari dalam dan luar Jawa Barat, antara lain Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia Budidoyo, perwakilan dari pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bandung, juga anggota DPRD.

Menurutnya, lebih dari 40 juta petani dan pekerja di seluruh dunia menggantungkan hidupnya pada tembakau. Akan tetapi, terjadi tren penurunan drastis atas permintaan hasil tembakau di berbagai belahan dunia sejak 2009. Hal ini diperkirakan terjadi atas konsekuensi dari ketatnya peraturan yang diberlakukan terhadap produk hasil tembakau dan berdampak terhadap kualitas hidup para petani tembakau.

Tekanan terhadap pertanian tembakau juga disebabkan oleh Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang menyatakan bahwa tanaman tembakau seharusnya digantikan dengan tanaman lain. Terkait permasalahan tersebut, sekarang saatnya untuk mempersiapkan pasar baru untuk terus memastikan kesejahteraan petani tembakau, khususnya di Indonesia.

Maka, International Tobacco Growers Association (ITGA) bersama afiliasinya yaitu Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) dan APTI berada di garis depan untuk membela hak-hak petani tembakau di seluruh dunia, terutama bagi negara yang menggantungkan harapan besar pada tembakau seperti Indonesia.

Salah satu perlawanan terhadap tekanan pada tembakau ialah dengan menyelenggarakan WTGDay. Terhitung sejak 2012, berbagai Asosiasi Petani Tembakau di seluruh dunia merayakan WTGD. Di Indonesia tahun ini, peringatan hari tembakau dipusatkan di Jawa Barat, yakni di Soreang, Kabupaten Bandung.

Tag: merokok di pesawat

Bagikan: