OK Otrip Belum Oke

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Angkot OK Otrip di Terminal Kampung Melayu (Yohanes/era.id)

Jakarta, era.id - One Karcis One Trip (OK Otrip) jadi salah satu program kerja Anies-Sandi yang paling dinantikan realisasinya. OK Otrip merupakan pola transportasi umum terintegrasi.

Integrasi akan mencakup tiga aspek, mulai dari pelayanan, manajemen hingga integrasi pembayaran. Menganut sistem transaksi elektronik dengan biaya terjangkau, OK Otrip disebut-sebut jadi pilihan tepat bagi masyarakat Ibu Kota era now.

Lalu, bagaimana kabar program itu pada 100 hari kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno?

Beberapa waktu lalu, era.id menjajal uji coba program ini, menelusuri salah satu rute OK Otrip Kampung Melayu ke Duren Sawit. Selain Kampung Melayu-Duren Sawit, ada juga rute Kampung Rambutan-Lubang Buaya yang sama-sama berada di area operasi Jakarta Timur.

Rute OK Otrip lain yang juga tengah diuji coba adalah Semper-Rorotan di Jakarta Utara dan Lebak Bulus-Ragunan untuk Jakarta Selatan. Uji coba ini dilakukan selama tiga bulan, yakni 15 Januari hingga 15 April 2018.

Hingga akhir Januari, PT Transjakarta sebagai operator dan mitra kerja Dinas Perhubungan (Dishub) menetapkan tarif Rp0 kepada seluruh penumpang. Selanjutnya, mulai Februari hingga akhir masa uji coba, operator akan mengganjar penumpang dengan tarif Rp3.500.

Seusai masa uji coba, ketika program berjalan efektif, para penumpang akan dikenakan tarif normal, yakni Rp 5.000 untuk satu kali perjalanan. Dengan pelayanan dan pembayaran yang terintegrasi, penumpang dapat menggunakan layanan Bus TransJakarta, Feeder Bus TransJakarta dan sejumlah angkutan kota (angkot) terintegrasi OK Otrip, kemanapun, sejauh masih dalam cakupan rute OK Otrip dan belum melewati batas tiga jam sejak terhitung Top In terakhir.


(Infografis: Mia Kurniawati/era.id)


Pelayanan angkot OK Otrip

Nurmala (68), seorang penumpang, mengaku kebingungan. Mikrolet nomor 03 rute Kampung Melayu-Simpang Media Massa yang biasa ia naiki tak terlihat. Yang terlihat malah angkot berkode operasi OK-2 milik Pemprov DKI jurusan Kampung Melayu-Duren Sawit.

Ternyata, angkot 03 kini sudah digantikan dengan OK-2. Seperti mikrolet pada umumnya, kapasitas satu armada OK-2 dapat diisi oleh delapan sampai sepuluh penumpang. Sistem operasi OK-2 dirancang dengan prinsip kedisiplinan. Artinya, OK-2 hanya mengantar dan mengangkut penumpang di halte-halte resmi.

Sebagaimana konsep integrasi yang diusung, halte-halte pemberhentian OK-2 terlihat berdekatan dengan halte TransJakarta. "Selain pengganti angkot konvensional, fungsi angkot OK Otrip ini kan komplimenter untuk penumpang Bus TransJakarta yang ingin lanjut akses ke jalan-jalan kecil di luar rute operasi BUS TransJakarta.

Di perjalanan, Muhammad Irfan (46), sopir OK-2 yang ditumpangi era.id menuturkan, sistem pembayaran OK-2 telah disesuaikan dengan konsep transaksi elektronik OK Otrip. Jadi, penumpang tinggal melakukan tap, tak lagi membutuhkan uang receh.

"Kartu OK Otrip yang berisi saldo Rp20.000 dapat dibeli dengan harga Rp40.000 di Halte Transjakarta. Satu kartu itu berlaku untuk satu orang. Nah, kalau mau turun, penumpang harus tapping lagi," kata Irfan. 

Belum optimal

Kebingungan Nurmala di awal perjalanan OK Otrip menggambarkan tidak berjalanannya sosialisasi soal OK Otrip ini. Ia sampai kebingungan, angkot yang biasa ia naiki telah berganti wajah tanpa sepengetahuannya.

Tak hanya itu, berada di tengah perjalanan OK-2 pun cukup membingungkan. Para penumpang mengaku kebingungan lantaran tak ada peta yang dapat menggambarkan rute mereka.

Selain itu, beberapa halte pemberhentian dinilai kurang efektif karena berada di jalanan padat. Sebut saja Halte Universitas Borobudur 1 dan 2. Terkait fasilitasnya, era.id memantau belum tersedianya kursi di beberapa halte yang dilalui OK-2.

Berdasar catatan era.id, butuh waktu 43 menit untuk menghabiskan total perjalanan dari Kampung Melayu hingga titik terjauh rute Duren Sawit yang berdekatan dengan Kantor Kecamatan Duren Sawit.

Setiap harinya, 15 bus yang beroperasi di antara pukul 05.00 hingga 22.00 WIB. "Ini dikarenakan rute angkot OK-2 yang harus melewati komplek Perumahan PWI yang portalnya ditutup pukul 22.00 WIB. Kalau angkot masih beroperasi di atas jam sembilan lewat lima, kita enggak bisa balik lewat rute halte," kata Irfan.

Tag: 100 hari anies-sandi

Bagikan: