El Classico Jokowi dan Prabowo

Tim Editor

(Ilustrasi: Arno Mahendra/era.id)

Jakarta, era.id - Laga klasik berpotensi terjadi pada putaran final kontestasi politik lima tahunan 2019 mendatang. Presiden Joko Widodo (Jokowi) diprediksi akan menghadapi musuh bebuyutannya, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Narasi yang terdengar seperti pratinjau pertandingan olahraga di atas, sejatinya adalah harapan, agar pertarungan politik nanti berjalan sportif sebagaimana sebuah pertandingan olahraga.

Indikasi pertarungan klasik ini dapat dilihat dari hasil survei terakhir Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang masih hangat diperbincangkan dan diulas kembali dalam berbagai forum.

Dalam hasil survei tersebut, didapat tiga partai dengan elektabilitas paling tinggi. Di peringkat pertama, ada PDIP yang mengumpulkan 22,2 persen suara, Golkar (15,5%) dan Gerindra (14%).

Pertarungan sebetulnya bisa saja melibatkan tiga poros itu. Namun, Golkar nampaknya lebih memilih untuk berdiri bersama PDIP di satu sisi lapangan. Dengan begitu, hanya tersisa Gerindra --di antara tiga partai terkuat versi LSI-- yang berdiri sebagai lawan. 

"Saya tegaskan, sejak Munaslub sampai nanti, kita tetap usung Jokowi untuk Capres 2019. Titik!" kata Rizal Mallarangeng, Wakil Ketua Koordinator Bidang Penggalangan Khusus Golkar, menegaskan sikap partainya.

Tak seperti Jokowi yang kepastian pencalonannya sudah seratus persen, Prabowo nampak masih agak malu-malu. Meski indikasi itu makin kuat, dari hari ke hari.

Kemarin siang (25/1), kala ditemui era.id di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Ketua DPP Gerindra Muhammad Syafi'i menegaskan pengusungan Prabowo pada Pilpres 2019.

"Gerindra menang, Prabowo presiden!" seru Syafi'i sembari mengangkat satu tangannya.

Menurut Romo --sapaan Syafi'i, pencalonan Prabowo sejatinya telah sejak lama didorong oleh kader-kader Gerindra. Namun, memang belum ada deklarasi secara resmi.

Soal pendamping Prabowo, Romo bilang, langkah Gerindra belum sampai sana. Kata Romo, 2019 masih terlalu jauh untuk sebuah proses politik yang terlalu cair. “Politik ini kan cair. Probabilitasnya juga sangat besar," kata Romo.

Yang jelas, Romo optimistis melihat banyaknya tokoh-tokoh potensial untuk didorong sebagai pembangun bangsa. “Sekarang kan banyak orang hebat, ada Pak Gatot Nurmantyo atau ada yang lainnya. Kalau banyak pilihan kan makin bagus menurut saya ketimbang calon tunggal."

Terkait dengan kabar pendekatan politik Prabowo dengan kalangan ulama, santri dan partai politik berhaluan islam, Romo bungkam. Romo mengaku tak tahu menahu soal itu. Yang ia tahu, kunjungan ke kalangan ulama dan santri merupakan kegiatan rutin Prabowo sejak dulu. Dengan atau tanpa agenda politik.

“Namanya silaturahmi, pastikan tidak membatasi topik pembicaraan. Karena kunjungannya kunjungan ketua umum partai politik pasti terkait dengan persoalan-persoalan politik. Tidak menutup kemungkinan bahas soal pilkada, pilpres,” katanya.

Seperti Prabowo, Jokowi juga dikabarkan sudah ambil ancang-ancang, termasuk berburu pendamping. Bahkan, rumor yang meliputi Jokowi lebih ramai.

Selain mulai cari masukan kanan dan kiri, Jokowi juga dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menggandeng kalangan santri dan ulama. Selain itu, tentu saja rumor klasik soal Ketua Umum Golkar rangkap Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto yang disebut-sebut tengah disiapkan sebagai pendamping Jokowi pada Pilpres 2019. 


(Ilustrasi: Arno Mahendra/era.id)

Tag: pemilu 2019

Bagikan: