Kisah Para Gundik yang Biasanya Berakhir Sengsara

Tim Editor

    Gundik dari Jawa. (Foto: Istimewa)

    Jakarta, era.id - Nama Puteri Novitasari Ramli mendadak jadi perbincangan hangat di Twitter beberapa waktu lalu. Hal itu gara-gara postingan sebuah akun bernama @digeeembok yang membongkar skandal petinggi maskapai Garuda Indonesia. Dalam kicauannya, Novitasari disebut sebagai gundik atau wanita simpanan Ari Akshara, yang notabene seorang Direktur Utama Garuda.

    Terlepas dari benar atau tidaknya kabar itu, pergundikan memang sudah dikenal lama di Indonesia. Praktik ini mula-mulanya masyhur pada masa kolonial. Pergundikan tidak diikat dengan hubungan perkawinan. Alasan paling umum biasanya karena perbedaan status sosial, ras, dan agama. Pada masa Hindia Belanda, pergundikan melahirkan kelas masyarakat yang kemudian disebut dengan istilah kaum Indo pada abad ke-19 dan ke-20.

    Cerita tragis para gundik menemui puncaknya ketika Perang Dunia II pecah. Diceritakan dalam buku Reggie Bay, Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, keluarga-keluarga dengan hubungan campur --salah satunya hasil pergundikan-- pun dicerai-berai oleh penjajah Jepang. Dalam rangka melakukan Japanisasi, para laki-laki Eropa ditawan dan dimasukkan ke dalam tenda-tenda. 

    Namun karena berdarah Asia, isteri pribumi mereka pun tidak diusik. Penjajah Jepang lantas menciptakan kelas-kelas yakni orang Belanda berdarah murni, pribumi, dan berdarah campuran. Dari mereka yang berdarah campuran diharapkan dan diasumsikan bahwa mereka akan merasakan keterikatan dengan penduduk Pribumi, demikian dikutip laman sejarahjakarta.com.

    Agar bisa membedakan antara orang Eropa berdarah murni dengan yang berdarah campuran, Jepang kemudian mengadakan wajib pencatatan. Pelaksanaannya pencatatan ini kemudian memicu kekacauan dan berbagai situasi aneh. Kriteria penggolongannya agak rancu dan penerapannya pun agak sembarangan. Ini mengakibatkan anak-anak yang lahir dari pasangan campur yang sama dimasukkan ke dalam kategori-kategori berbeda.


    Roebiam (seorang Nyai) bersama kedua putrinya. Foto diambil pada 1920 sebelum putri tertuanya dibawa ke Belanda. (Foto: Istimewa)

    Keberadaan seorang ibu, nenek moyang pribumi atau Asia mendadak menjadi sangat penting bagi anak-anak yang lahir dari hubungan campur. Berkat keberadaan perempuan tersebut, mereka akan mendapat asal-oesoel, yaitu sebuah bukti bagi keturunan Asia yang dikeluarkan oleh arsip negara dan karena itu mereka tidak dianggap sebagai orang Eropa oleh penjajah Jepang. Dengan asal-oesoel tersebut banyak keturunan perempuan pribumi yang tinggal di luar tenda-tenda penampungan.

    Tidak berhenti sampai situ, pasca-kemerdekaan, sebuah periode kekacauan pun kembali dimulai. Muncul sebuah situasi baru di Hindia Belanda yang dapat dilihat dari perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini lantas memberikan dampak-dampak fatal kepada keluarga-keluarga campuran di Hindia Belanda. Asal usul keturunan yang berbeda kembali memainkan peran yang menentukan.

    Dalam konteks perang kemerdekaan Indonesia, nyai atau perempuan pribumi yang kimpoi dengan orang Eropa mengalami konflik kesetiaan yang fundamental. Menjadi bagian dari dunia manakah dirinya, Apakah ia memilih suami Eropa dan anak-anaknya, atau memilih keluarga dan bangsanya sendiri? Pilihan ini menjadi sangat sukar pada saat itu.

    Semua orang sudah tahu bahwa upaya meraih kebebasan akan mengarah kepada kemerdekaan dan terjadinya repatriasi. Apakah ia akan mengikuti laki-laki Eropa yang telah bertahun-tahun hidup bersamanya, menuju masa depan yang tidak pasti di sebuah negeri yang sama sekali asing baginya? Atau tinggal di negeri sendiri di antara bangsanya sendiri yang berakibat dirinya tidak hanya akan kehilangan suaminya tapi juga anak-anaknya yang merupakan orang Eropa?

    Salah satu ciri mencolok dari hubungan antar-ras di koloni adalah perbedaan umur yang jauh. Para laki-laki Eropa bahkan tidak jarang jauh lebih tua dari isteri Indonesia mereka. Selisih 10–20 tahun merupakan hal yang biasa. Sama seperti praktik pergundikan yang terjadi saat ini, usia lelaki biasanya terpaut jauh lebih tua dari si gundik.

    Ada banyak perempuan yang menjadi janda pada masa dekolonisasi. Alasannya karena suami mereka telah meninggal dunia akibat perang atau usia lanjut. Karena hal tersebut maka mereka memilih untuk tinggal di Republik Indonesia yang baru. Sebagai akibatnya tidak sedikit perempuan pribumi yang kehilangan kontak dengan anak-anak mereka yang berangkat ke Belanda sebagai orang Eropa. 


    Potret keluarga Van der Velden di Bandung, 1900-an. Nyai Van der Velden tak diketahui namanya. Putrinya Johanna. (Foto: Istimewa)

    Ketika anak-anaknya --para Belanda-Indies-- semakin terlihat di Belanda, sang nyai pun mulai menghilang dari pandangan. Di Belanda hidupnya kerap tidak menonjol dan berakhir dalam kesunyian. Ia hidup di sebuah dunia yang sama sekali asing. Satu-satunya hal yang masih mengikatnya dengan kehidupan di Belanda adalah anak dan cucunya.

    Namun kebanyakan cucunya tidak memahami bahasanya sedikit pun, hanya segelintir saja yang mampu menguasai bahasa asing dengan baik. Kebanyakan dari mereka terhalang dari masa lalunya dan karena keterbatasan bahasa juga terhalang dari lingkungannya. Hal ini tentu menjadi kondisi yang menyakitkan.

    Sang nyai kerap tidak dapat mengajukan berbagai pertanyaan (kalaupun ada ketertarikan) atau tidak dapat menjawab pertanyaan dengan cukup jelas karena kendala bahasa. Hal ini menjelaskan mengapa, bagi banyak orang Belanda-Indies masa kini, pengetahuan akan nenek moyang mereka sendiri sering kali tidak lebih dari sekadar beberapa gambaran samar.

    Di samping itu ketidaktahuan mengenai sejarah sang nyai merupakan pantulan dari gambaran negatif dirinya yang terus bergaung setelah hampir 60 tahun berakhirnya koloni Hindia Belanda.

    Sekadar informasi, Putri Laurentien yang merupakan isteri Pangeran Constantijn atau putra bungsu Ratu Beatrix juga merupakan keturunan perempuan pribumi bernama Mankam. Mankam dahulu kala hidup dalam pergundikan bersama salah seorang kakek buyut Putri Laurentien. 

    Tag: sejarah nusantara

    Bagikan :