Lautan Baru Itu Bernama Citarum

Tim Editor

Banjir Bandung selatan. (Iman Herdiana/era.id)

Bandung, era.id – Banjir yang melanda Bandung selatan telah melumpuhkan ekonomi warga sekitar. Selain memutus akses lalu lintas, banjir juga merusak harta benda warga. Seperti yang dialami Kosim, pemilik toko bangunan di Jalan Cigebar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

"Sebagian semen-semen saya terendam, tidak terselamatkan," keluh Kosim, Rabu (18/12/2019). 

Pria 60 tahun ini menyebut ada 160 karung semen yang tersimpan di gudang saat banjir melanda. Semen-semen seharga Rp52 ribu per karung itu baru saja didatangkan dari Jakarta. Selain itu, banjir juga merendam papan lapis jenis GRC. Papan jenis ini akan keropos jika terendam air.


Menurut Kosim, air Sungai Citarum mulai naik sejak pukul 19.00 WIB, Selasa (17/12). Saat itu, ia sedang berada di rumahnya yang tak jauh dari toko bangunannya. Kosim juga tidak mengira hujan deras yang terjadi sejak siang kemarin akan menimbulkan banjir.

Ia mengetahui air Sungai Citarum meluap ketika hendak salat Isya di masjid. Saat ia membuka pintu rumah, air sudah memenuhi jalan. Ketinggian air diperkirakan mencapai satu meter. Saat itulah ia mulai ingat nasib toko bangunannya yang berada di pinggir Sungai Citarum. 

"Kemarin kirain airnya enggak bakalan gede. Pas saya lihat, Citarum sudah kayak laut," ujarnya.

Banjir Bandung selatan. (Iman Herdiana/era.id)

Malam itu juga Kosim berusaha menyelamatkan material bangunan yang terendam. Evakuasi semen berlangsung hingga pukul 24.00 WIB. Evakuasi sulit dilakukan mengingat luapan Sungai Citarum sedang deras-derasnya. "Air dari samping toko deras sekali merendam ke jalan," katanya. 

Menurut Kosim, banjir kali ini di luar perkiraan. Tahun lalu, meski daerah tersebut sudah terbiasa banjir, barang-barang di toko bangunannya masih bisa diselamatkan. Untuk itu, ia berharap solusi banjir Sungai Citarum bisa segera ditemukan. "Kalau kita ingin cepat-cepat saja ketemu solusinya. Sekarang kan sedang dikeruk, tapi kalau hujan deras tetap saja banjir," katanya.

Hingga pukul 12.00 WIB, Rabu (18/12/2019), banjir masih menggenangi jalan utama di depan toko bangunan milik Kosim. Jalan tersebut bersebelahan dengan Sungai Citarum. Bisa dibilang ketinggian jalan dengan sungai sejajar.

Pemandangan serupa juga terjadi di Jalan Raya Dayeuhkolot, tepatnya di sekitar pasar Dayeuhkolot. Hingga berita ini ditulis, sebagian jalan masih terendam. Kendati demikian, kendaraan roda empat maupun dua tetap memaksakan diri melintasi jalan. Tidak sedikit kendaraan yang mogok di tengah jalan akibat mesinnya kemasukan air.

Sementara pantauan era.id di Jalan Moh Toha, genangan air masih tampak di sekitar pabrik tekstil. Kendaraan juga memaksa menembus jalan yang terendam. Dalam kondisi tersebut, sejumlah warga banyak yang meminta sumbangan pada pengguna jalan.

Terpantau juga sejumlah gang atau jalan yang menuju ke permukiman warga masih tergenangi banjir. Warga yang hendak berpergian pun harus memakai perahu karet untuk melintasi genangan.

Sementara data sementara Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung menyebut, jumlah pengungsi korban banjir di Kecamatan Baleendah dan Kecamatan Dayeuhkolot sebanyak 59 keluarga (209 jiwa). Para pengungsi ini dievakuasi ke Aula Desa Dayeuh Kolot dan Posko Inkanas.

Kemacetan juga terjadi di sejumlah titik pintu masuk dari dan menuju Kota Bandung akibat banjir di Bandung selatan tersebut, di antaranya Jalan Raya Bojongsoang dan Jalan Moh Toha.

Tag: banjir bencana alam

Bagikan: