Berantas Sampah Plastik di Laut

Tim Editor

Suasana di Pintu Air Manggarai. (Tiwi/era.id)

Jakarta, era.id - Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan World Bank, Pemerintah Norwegia, dan Pemerintah Denmark untuk melakukan pengelolaan limbah padat dan penjagaan kelestarian biota lautan. Upaya kerja sama ini dimulai dari meninjau Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa (30/1/2018) untuk melihat sampah yang ada di tempat tersebut.

Indonesia dianggap sebagai penyumbang sampah plastik kedua terbesar di dunia setelah China. Dalam setahun, Indonesia memproduksi 64 juta ton, termasuk 3,2 juta ton sampah plastik yang 1,3 juta ton-nya berakhir di lautan lepas.

Jakarta menjadi salah satu kota pesisir di Indonesia yang memberikan kontribusi itu.  Data yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta, ada sekitar 7.000 ton sampah per hari, yang berarti 2,3 juta ton per tahun.

"Penanganan sampah memerlukan peran aktif para warga. Saat ini kita masih dalam tahap 2.0 di mana Pemda sebagai penyedia jasa, warga membuang sampah, pasukan oranye membersihkan. Nah, kita ingin menuju ke tahap 3.0 di mana semuanya aktif menjaga lingkungan dan bergotong royong," tutur Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di lokasi, Selasa (30/1/2018).

Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Rasmus Kristensen dalam kesempatan ini membandingkan kondisi Jakarta dengan Denmark. Denmark dulunya adalah wilayah pesisir yang menjadi salah satu tempat polutan. Namun berkat kerja keras pemerintah dan warga, kini Denmark dinobatkan menjadi salah satu negara terbersih di dunia.

"Anda bahkan bisa berenang di danau di Copenhagen. Itu yang biasa kami lakukan di akhir pekan, karena airnya sangat bersih. Di sana jarang sampah dibuang sampai ke tempat pembuangan akhir, karena kebanyakan pasti didaur ulang atau kembali pakai," tutur Kristensen.

Dalam kerja sama ini, Pemerintah Norwegia memberikan dana hibah sebesar 1,4 juta USD dan Denmark sebesar 875.000 USD. Dana ini akan dikelola langsung oleh World Bank untuk meningkatkan pengelolaan sampah di berbagai kota di Indonesia, salah satunya adalah Jakarta. Anggaran ini akan digunakan selama lima tahun.

Ikan di pesisir Jakarta tercemar

Sampah plastik di sungai Jakarta mengalir sampai pesisir dan laut Jakarta. Ini pula yang membuat ikan di laut Jakarta tercemar.

Deputi Bidang Maritim Menko Kemaritiman Havas Oegroseno mengatakan, 28 persen ikan yang dijual di Jakarta mengkonsumsi sampah plastik.

"Survei yang dilakukan oleh Universitas Hassanudin Makassar menyatakan bahwa di satu pasar ikan (di Jakarta) 28% ikan yang ada di sana itu mengkonsumsi sampah plastik," ujarnya.

Ia menuturkan bahwa sampah-sampah plastik itu berukuran 0,2 milimeter. Sampah plastik itu baru bisa terurai ketika sampai di laut setelah dibuang ke sungai. Sampah yang terurai itu, banyak dimakan oleh ikan-ikan teri di perairan sekitar Jakarta.

Namun, dengan kerja sama ini, Havas yakin pengurangan sampah nasional bisa berkurang. Dia menargetkan Indonesia, khususnya Jakarta, bisa bebas sampah di lautan pada tahun 2020.

"Jadi bayangkan kalau Ikan Teri saja sudah makan plastik, berarti kita juga makan teri yang ada plastiknya. Itu bisa menimbulkan penyakit di badan kita," tuturnya.
 

Tag: 100 hari anies-sandi

Bagikan: