Cerita Mensos Tembus Medan Berat ke Asmat

Tim Editor

?Menteri Sosial, Idrus Marham (Yohanes Sebastian)

Jakarta, era.id - Pemerintah telah membentuk satuan tugas (satgas) khusus guna menangani kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan wabah campak di Kabupaten, Asmat, Papua.

Sejak September 2017, gizi buruk dan wabah penyakit di Asmat semakin parah. Hingga 24 Januari 2018, 70 orang meninggal dunia. Sebagian besar adalah anak-anak. Sebanyak 65 orang meninggal akibat gizi buruk, empat orang terkena campak dan satu lainnya terjangkit tetanus.

Di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), sejumlah institusi negara bersinergi dalam upaya menghentikan laju kematian dan penderitaan masyarakat di Asmat.

Sebagai bagian dari satgas, Kementerian Sosial (Kemensos) memiliki pandangan tersendiri. Kemensos melihat perlu adanya pelayanan terpadu yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Asmat dan Papua.

"Dalam rapat-rapat yang kita lakukan, dari kemensos sudah menyampaikan suatu gagasan bahwa untuk menangani masalah Asmat dan juga Papua secara umum perlu pendekatan terpadu," kata Menteri Sosial (Mensos), Idrus Marham usai rapat konsultasi eksekutif dan legislatif di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (1/2/2018).

Rekomendasi Kemensos didasari oleh hasil kajian yang dilakukan dalam kunjungan bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) beberapa waktu lalu. Menurut Idrus, penanganan KLB di Asmat harus dibarengi dengan upaya pemerataan pembangunan di seluruh nusantara.

Perjalanan Idrus ke Asmat

Kepada era.id, Idrus megisahkan perjalanannya ke Asmat beberapa waktu lalu. Baginya, medan maha berat jadi salah satu penyebab utama bagaimana pemerataan pembangunan begitu sulit dilakukan di sejumlah wilayah tanah air, termasuk Papua, khususnya Asmat.

Idrus mengatakan, Asmat merupakan salah satu dari sekian banyak wilayah Indonesia yang begitu terisolasi. Menurutnya, membuka akses ke Asmat adalah kata kunci untuk membenahi kualitas hidup masyarakat Asmat.

Dalam pengalamannya menempuh perjalanan ke Asmat, Idrus yang kala itu berangkat bersama rombongan Kemensos dan Kemenkes harus melewati perjalanan sangat panjang dengan waktu tempuh yang menurutnya amat lama.

Selain itu, minimnya akses transportasi umum di sekitaran wilayah Asmat membuat wilayah yang terletak di pegunungan itu semakin sulit dicapai.

Perjalanan Idrus dimulai dengan menaiki pesawat komersial dari Jakarta menuju Timika. Dari Timika, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang pesawat perintis dengan jarak tempuh 45 menit hingga satu jam.

Belum selesai. Turun dari pesawat perintis, Idrus masih harus melanjutkan perjalanannya, menaiki speedboat menuju Agats. Perjalanan menyusuri sungai itu pun meninggalkan kesan tersendiri bagi Idrus. Sebab, speedboat yang ia tumpangi, yang ukurannya tak seberapa itu harus membelah badan sungai yang memiliki lebar lebih kurang seratus meter.

Perjalanan menegangkan itu Idrus tempuh dalam waktu tiga puluh menit. Sebelum dirinya kembali melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor, melewati jalan sempit nan terjal, perbukitan hingga rawa lebat. 

"Rumah, rumah sakit, bahkan kantor dibangun di atas rawa. Kondisi lingkungan yang sangat tidak sehat ini sangat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat, itu kata kunci yang kedua," jelas Idrus.

Idrus menegaskan, dua hal itu perlu menjadi perhatian dalam penanggulangan KLB Asmat. Dan jika nantinya KLB ini berhasil diatasi, Kemensos bersama seluruh pemangku kepentingan terkait akan terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas manusia di Asmat.

Tag: asmat

Bagikan: