Penemu Obat Korona di Pontianak Terancam Pidana 10 Tahun

Tim Editor

BPOM Kota Pontianak (Antara)

Jakarta, era.id - Perhatian bagi orang-orang yang mengaku menemukan obat COVID-19. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Provinsi Kalbar, menyita ribuan kapsul obat herbal atau jamu Formav-D yang diklaim mampu menyembuhkan COVID-19 untuk diteliti khasiat dan efeknya buatan seorang mantan apoteker bernama Fachrul Luthfi.

"Penyitaan ini sebagai tindak lanjut dari kami karena ada keluhan dari masyarakat yang menggunakannya sehingga diketahui kandungan isinya," kata kata Plt BBPOM Kalbar, Ketut Ayu Sarwutini di Pontianak, Rabu kemarin.

Setiap obat atau jamu harusnya ada izin dari BBPOM dan setelah dilakukan uji laboratorium nantinya baru bisa diketahui.

"Obat itu tidak hanya untuk mengobati saja, tetapi perlu juga diketahui apakah obat itu ada efek samping atau tidak, hal itulah yang nantinya akan diteliti," ungkapnya seperti dikutip dari Antara.


Fachrul Luthfi (Youtube)

Hasilnya, BPOM menemukan kandungan bahan kimia seperti CTM (klorfeniramin)dan Natrium Diklofenac pada kandungan obat herbal tersebut. CTM adalah obat alergi, sedangkan Natrium Diklofenac adalah obat radang yang harus dengan resep dokter.

"Dari hasil uji laboratorium kami, salah satunya obat atau jamu racikan berinisial FL, ditemukan bahan kimia obat, yakni kandungan CTM dan Natrium Diklofenac pada jamu atau obat racikan yang diberi nama Formav-D tersebut," kata Pelaksana Tugas BBPOM Kalbar Ketut Ayu Sarwutini, di Pontianak, Jumat.

Dia menjelaskan, berdasarkan Permenkes No. 006 Tahun 2012 tentang Industri dan Obat Tradisional, Pasal 37 (a) bahwa setiap industri dan obat tradisional dilarang membuat obat tradisional, dan dilarang mengandung bahan kimia hasil isolasi atau sintetik yang berkhasiat obat.

"Sehingga FL diduga melanggar UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Pasal 196 dengan ancaman pidana 10 tahun penjara dan maksimal Rp1 miliar, atau Pasal 197 dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp1,5 miliar," ucapnya.

Selain itu, BBPOM Kalbar juga menemukan dan mengamankan berbagai jenis jamu dan obat racikan milik FL yang diduga tanpa izin lainnya.

Sementara itu, Fachrul Lutfhi mengaku kaget kalau obat herbal atau jamu racikannya ada kandungan CTM dan natrium diklofenac hasil uji laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Provinsi Kalbar.

"Bahan-bahan yang saya racik menjadi obat untuk COVID-19 ini, bahannya adalah obat herbal yang bisa dibeli di pasaran, tetapi kenapa lalu ada kandungan CTM dan diklofenac dalam obat herbal itu, sehingga menjadi tugas BBPOM-lah dalam menindaklanjutinya," kata Fachrul Lutfhi di Pontianak, Jumat (17/4/2020).

Ia menjelaskan, kandungan dalam racikan Formav-D yang bisa menyembuhkan pasien COVID-19, diantaranya mengandung vitamin yang untuk meningkatkan daya tahan tubuh yang juga di peroleh di pasaran.

"Kemudian ada obat herbal yang mengandung enzim yang bisa membunuh virus, obat herbal untuk menurunkan panas. Ketiga jenis itu dicampur atau diracik menjadi satu dengan komposisi tertentu atau dikenal dengan Formav-D yang bisa menyembuhkan pasien COVID-19, dan itu semua obat herbal yang saya beli di pasaran," ungkapnya.

Tag: obat korona

Bagikan: