Sinar Matahari Vs Virus Korona: Diteliti Amerika, Dipercaya Jokowi, Dibantah WHO

Tim Editor

Ilustrasi (Hops.id)

Jakarta, era.id -Argumen Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang virus korona baru yang cepat mati bila terkena panas matahari nampaknya didukung oleh penelitian ilmuwan Amerika. 

Peneliti dari Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat menemukan jika virus korona tampaknya melemah lebih cepat ketika terkena sinar matahari, panas dan kelembaban. 

"Virus bertahan paling lama di dalam ruangan dan dalam kondisi kering, serta melemah ketika suhu dan kelembaban naik, terutama ketika terkena sinar matahari," kata Kepala Direktorat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika, William Bryan, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (24/4/2020).

Para anak buah Trump itu meneliti pada permukaan yang tidak berongga seperti baja antikarat, virus SARS-CoV-2 punya umur 18 jam untuk kehilangan setengah kekuatannya di lingkungan yang gelap dengan kelembaban rendah.

Dalam lingkungan dengan kelembaban tinggi, umurnya turun menjadi enam jam, dan ketika virus terkena kelembaban tinggi dan sinar matahari, umurnya hanya menjadi dua menit.


William Bryan (CNN)

Para peneliti menemukan efek yang sama dengan virus korona yang berada di udara. Mereka menyimulasikan batuk atau bersin yang sering menyebarkan penyakit. 

"Di ruangan gelap, virus mempertahankan setengah kekuatannya selama satu jam. Tetapi ketika terkena sinar matahari, ia kehilangan setengah kekuatannya dalam 90 detik," kata Bryan.

Pemerintah Indonesia ternyata juga percaya sinar matahari bisa menghalau korona. Presiden Jokowi rupanya sudah mendengar hasil penelitian dari Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika di atas. 

"Semakin tinggi temperatur, semakin tinggi kelembapan, dan adanya paparan langsung sinar matahari akan semakin memperpendek masa hidup virus COVID-19 di udara dan di permukaan yang tidak berpori," kata Jokowi melalui keterangan resmi, Jumat (24/4/2020). 

Beberapa menteri juga sempat mengungkapkan manfaat panas sinar matahari untuk pencegahan COVID-19. Menteri Koordinator Investasi dan Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan virus SARS-CoV-2 tidak akan tahan panas dan lembab.

"Dari hasil modelling kita yang ada, cuaca Indonesia, ekuator ini yang panas dan juga humidity (kelembaban) tinggi itu untuk COVID-19 ini enggak kuat," ujar Luhut awal April lalu. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak sependapat, Menurut WHO berjemur sinar matahari dengan temperatur lebih dari 25 derajat celsius tidak bisa mencegah infeksi virus korona baru.

Virus SARS-CoV 2 penyebab COVID-19 tetap bisa menginfeksi manusia meskipun berada di negara dengan suhu yang panas sekalipun. Terbukti, wilayah Timur Tengah, dan Asia Tenggara seperti Indonesia, Singapura, dan Malaysia jumlah kasus penularannya tetap sangat tinggi.

Trump berulang kali mengatakan, wabah COVID-19 di akan berakhir saat Negeri Paman Sam memasuki musim panas. Paparan matahari dan kelembapan akan membunuh virus yang sudah menginfeksi dua juta orang lebih di planet Bumi itu.

 

Tag: obat korona

Bagikan: