Jawa Barat Kritik Ketidakadilan Fiskal Pemerintah Pusat

| 08 May 2020 14:12
Jawa Barat Kritik Ketidakadilan Fiskal Pemerintah Pusat
Ridwan Kamil (Dok. Humas Jabar)
Bandung, era.id - Dampak ekonomi dan sosial dari pandemi COVID-19 membuat kurang lebih 2/3 dari total populasi warga Jawa Barat membutuhkan bantuan. Karena itu pandemi yang bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan menjadi momentum solidaritas sosial.

"Dari kaca mata kami (Pemerintah Daerah Provinsi Jabar), narasi pembatasan sosial kedaruratan (berubah) menjadi solidaritas sosial. Apalagi ini bulan Ramadan, bulan keberkahan, bulan tolong menolong," kata Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat menjadi pembicara di Webinar Seri 4 Institut Pembangunan Jawa Barat (Injabar) Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Kamis (7/5).

Ia bilang, COVID-19 adalah perang yang meluluhlantahkan semua dimensi pembangunan, tidak hanya kesehatan, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.

Pria yang akrab disapa Emil ini menyebut terdapat peningkatan jumlah peduduk Jabar yang diberi subsidi yakni dari 9,4 juta jiwa menjadi 38 juta jiwa atau lebih dari 2/3 dari total 50 juta jiwa populasi di Jabar. Adapun kepadatan penduduk Jabar yang perlu dibantu mayoritas ada di wilayah selatan.

"Jadi, bapak dan ibu, 2/3 rakyat Jawa Barat hari ini meminta tanggungan dari negara. Dari 9,4 juta jiwa sekarang lompat menjadi 38 juta jiwa," tuturnya.

Ia pun menyoroti pentingnya keadilan fiskal, yakni perspektif anggaran yang perlu diterapkan pemerintah pusat ke daerah harus berdasarkan jumlah penduduk, bukan jumlah wilayah.

"Provinsi Jabar memiliki jumlah penduduk lebih besar namun anggaran yang diberikan pemerintah pusat lebih sedikit dibanding provinsi lain yang penduduknya lebih sedikit, lanjutnya. 

Contohnya berkaitan dana desa yang dibagikan berdasarkan jumlah desa bukan jumlah penduduk. Menurutnya, ada ketidakadilan fiskal dalam pemberian dana desa dari pemerintah pusat.

"Cara pemerintah pusat memberikan dana kepada daerah, proporsi penduduk itu tidak pernah dijadikan patokan, dan terasanya itu pada saat COVID-19, anggaran sedikit penduduk kita (Jabar) banyak, sementara provinsi lain penduduknya sedikit anggarannya lebih banyak, maka menolong orangnya akan lebih berkualitas," ucap Emil.

Selain itu, mantan Wali Kota Bandung ini juga menyampaikan bahwa saat ini Jabar mampu mengetes kurang lebih 2.000 sampel per hari dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di 15 laboratorium.

Selain itu, Jabar juga memiliki 54 lokasi pemakaman yang telah disiapkan untuk korban meninggal COVID-19. Pemprov Jabar akan memperbanyak pengetesan COVID-19 di tempat-tempat kerumunan seperti pasar tradisional.

“Saya laporkan jumlah pasien positif yang dirawat di rumah sakit. Dari jumlah 400-an (pasien) di akhir April, seminggu (awal Mei) ini sudah tinggal 300-an pasien positif yang ada di rumah sakit. Ini ada anomali, berita baik ini tolong sampaikan ke para dokter dan tenaga kesehatan bahwa di Jawa Barat jumlah pasien positif yang dirawat di rumah sakit turun,” kata Emil.

Kemudian angka kematian (akibat COVID-19) turun dari tujuh per hari menjadi empat kematian per hari. "Juga jumlah kesembuhan naik dua kali lipat, sehingga kita berharap tren positif ini terjaga," katanya.

 

Tags : ridwan kamil
Rekomendasi