Pemkab Bantaeng Jemput Bola Tangani Kesehatan Warga

Tim Editor

Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah (Leo/era.id)

Bantaeng, era.id - Pemerintah Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan, membangun unit Brigade Siaga Bencana (BSB). Unit tersebut berisi tenaga kesehatan yang bertujuan siaga menolog warga dalam keadan darurat.

Program yang digulirkan sejak 2009 ini cukup efektif, khususnya dalam mengurangi angka kematian anak dan ibu bersalin. Selain karena respons yang cepat, BSB juga rajin mengedukasi warga yang membutuhkan pelayanan.

"Angka kematian di Bantaeng ini tahun 2013 itu udah menjadi nol," kata Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah kepada era.id di Rumah Dinas Bupati Bantaeng, Sulawesi Selatan, Selasa (6/2/2018).  

Terfokusnya Pemkab Bantaeng di sektor kesehatan masyarakat, karena melihat banyak kasus persalinan yang menyebabkan kematian di Bantaeng. Pada 2008 dalam setahun ada 20 kasus meninggal karena persalinan.

"Saya merasakan betul 2008 itu begitu mudah anak-anak kita meninggal karena lambat penanganan," ujar Nurudin.

Dalam praktiknya, BSB didukung 20 dokter umum, 4 perawat, dan 4 sopir. Sistem shift pun diberlakukan. Setiap hari terjadi pergantian staf yang bertugas. Staf tersebut sebelumnya juga telah diberikan pelatihan tanggap darurat. 

Masyarakat yang membutuhkan bantuan BSB dapat meminta pertolongan melalui call center 113 (telepon rumah–gratis) dan 0413- 22724 (telepon selular). 

Mulanya program ini sempat mendapatkan penolakan dari warga Bantaeng. Penolakan tersebut berbentuk telepon misterius hingga pelemparan kotoran ke mobil BSB yang sedang bekerja. 

"Awalnya kita suka dapat telpon gelap, pas kita datang ke lokasi korbannya tidak ada. Mobil kita juga pernah dilempari oleh warga," kata Kepala Dinas Kesehatan Andi Ihsan di kantor BSB, Bantaeng, Sulawesi Selatan. 

Saat ini BSB memilki 30 unit mobil ambulans yang ditempatkan di 5 cabang BSB yang disebar di beberapa desa di Kabupaten Bantaeng. 


Ambulans BSB Pemkab Bantaeng (Leo/era.id)


Fasilitas di dalam ambulans BSB (Leo/era.id)

"Alhamdulillah kita punya kendaraan itu. Kita lengkapi dengan peralatan alat-alat dasar misalnya ada heating, alat jahit luka, termasuk juga parkuset untuk proses melahirkan itu juga kita siapkan kendaraan termasuk obat-obat emergency itu juga ada di kendaraan," ungkap Andi. 

Dalam Standard Operasional Person (SOP) BSB, Andi menerangkan bahwa bantua BSB akan tiba di rumah korban paling lama 45 menit setelah mendapat panggilan dari telpon. 

Nantinya sebuah mobil ambulans akan dilengkapi dengan dokter, bidan dan perawat akan datang untuk kemudian melakukan observasi guna mencari tahu apakah pasien perlu dirujuk ke rumah sakit atau tidak.

BSB pun mengklasifikasi pasiennya kedalam tiga warna, hijau, kuning dan merah. Kategori hijau bagi mereka yang menderita sakit ringan dan boleh pulang, adapun merah adalah korban dengan sakit atau luka berat dan harus dirujuk. 

Untuk jam praktik, kendati akhir pekan dipastikan BSB tetap beroperasi "Dulu ada bahasa jangan sakit sabtu-minggu karena dokternya ke Makassar, dengan adanya BSB bahasa tersebut tidak ada lagi," tambahnya.

"Apapun penyakitnya kita tangani, kadang-kadang ada orang gatal-gatal (panuan) kita tetap datang," pungkasnya.

Tag: perlindungan perempuan dan anak

Bagikan: