Jokowi tiba di Bandara Internasional Minangkabau, 7 Februari, sekitar pukul 09.30 WIB. Tidak lama setibanya di sana, dia langsung naik helikopter menuju Kabupaten Dhamasraya untuk meninjau irigasi di Kecamatan Sitiung.
Jokowi juga menyerahkan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada 4.500 warga. Pada siang harinya, Jokowi datang ke GOR Dhamasraya, Koto Baru, untuk membagikan sertifikat tanah pada 4.000 orang. Kegiatan serupa juga dia lakukan saat berkunjung ke Kabupaten Solok dan Sawahlunto.
Pada 2015, Jokowi datang ke Pariaman, Pesisir Selatan, dan Kota Bukittinggi, bersama Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Desa PDT Marwan Jafar, dan Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki. Dalam kesempatan itu, Jokowi meninjau lokasi bencana asap di Sumatera Barat.
Setahun kemudian, Jokowi kembali ke Sumatera Barat. Kali ini dalam rangka shalat Idul Fitri di Masjid Raya Sumatera Barat, Padang. Jemaah shalat Idul Fitri di masjid yang terkenal dengan arsitektur “Bagonjong” khas rumah adat Minang itu diperkirakan mencapai 10.000 orang.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, menilai kedatangan Jokowi ke Sumbar dalam rangka mendekati masyarakat setempat. Namun, kunjungannya belum tentu bisa menambah dukungan dari warga di sana.
Menurut Hendri, jika Jokowi datang untuk memastikan program berjalan serta bermanfaat bagi peningkatan taraf hidup masyarakat Sumbar, maka dukungan untuknya bisa membesar. Namun, dukungan akan semakin merosot jika Jokowi hanya sibuk acara seremonial dan pencitraan.
“Jokowi sedang pendekatan itu, tapi ya harus tulus. Kalau kelihatan pencitraannya bukan malah nambah suaranya, malah makin dikit,” kata Hendri, kepada era.id, Jumat (16/2/2018).
Prabowo Subianto (instagram)
Pada Pilpres 2014, meski menang secara nasional, tapi perolehan suara Jokowi-Jusuf Kalla hancur di Sumbar. Jokowi-JK dapat 559.308 suara (23 persen) di Sumbar, sedangkan Prabowo-Hatta menang telak dengan 1.797.505 suara (77 persen). Dari 19 kabupaten/kota di Sumbar, Jokowi-JK hanya menang di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Secara nasional, Jokowi-JK unggul 8.528.656 suara dari pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Tapi kenyataannya, Prabowo masih unggul di sepuluh provinsi, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Banten, NTB, Kalimantan Selatan, Gorontalo, dan Maluku Utara.
Saat ini, elektabilitas Jokowi masih di atas Ketua Umum Partai Gerindra itu. Berdasarkan hasil survei Indo Barometer pada akhir Januari 2018, elektabilitas Jokowi 32,7 persen dan Prabowo Subianto 19,1 persen.
Bisa jadi keduanya kembali bertemu pada Pilpres 2019. Jokowi yang sudah mendapat dukungan Golkar, Nasdem, dan Hanura, hanya tinggal menunggu waktu diusung kembali oleh PDI Perjuangan sebagai calon presiden.
Adapun Prabowo juga masih berpeluang jadi capres. Dukungan dari internal Gerindra sangat kuat untuknya, namun Prabowo nampak masih malu-malu mendeklarasikannya. Gerindra punya 73 kursi di DPR sehingga wajib berkoalisi jika ingin mengusung capres.