Amarah Kelam Tragedi Sinila

Tim Editor

Ilustrasi (YouTube)

Jakarta, era.id - Kawasan pegunungan Dieng yang berada di antara wilayah Kabupaten Batang, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Banjarnegara menyimpan sejarah besar akan amarah alam. Pada 20 Februari 1979,  sebuah tragedi kelam terjadi akibat adanya letusan di Kawah Sinila yang mengakibatkan gempa bumi dan munculnya paparan gas beracun. Peristiwa kelam tersebut dikenal dengan nama Tragedi Sinila.

Pegunungan Dieng memiliki ciri berbeda dibandingkan pegunungan lain di Indonesia. Jika Gunung Sinabung, Gunung Merapi, maupun Gunung Agung bererupsi, Pegunungan Dieng tidak. Tapi, Dieng memiliki sifat yang menghasilkan gas beracun CO2 (karbon dioksida) yang tidak berbau dan tidak berwarna.

Tragedi Sinila terjadi pada dini hari, saat warga sedang tertidur maupun melakukan salat subuh. Gempa vulkanik ini mengguncang keras rumah warga hingga membuat mereka berlarian. Sejumlah warga bahkan ada yang sudah bersiap-siap mengungsi karena takut terpapar gas beracun.

Ada dua aktivitas yang dilakukan warga saat gempa terjadi. Pertama, warga yang menolak dievakuasi sampai sore hari. Kedua, warga yang berlari menuju arah barat desa di saat warga lainnya berlari ke arah selatan. Akibatnya, warga yang memilih berlari ke arah barat desa terjebak gas beracun yang berasal dari Kawah Timbang akibat efek samping dari gempa di Kawah Sinila.

Tubuh mereka lemas akibat menghirup gas tersebut. Beberapa di antaranya bahkan mengalami perubahan fisik seperti pendarahan pori-pori kulit dan ruam biru di kulitnya. Sejarah mencatat, 149 penduduk tewas di tempat. 

Laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat, emisi gas beracun yang terjadi pada tragedi tersebut merupakan erupsi freatik yang terjadi pada pukul 05.04 WIB di Kawah Sinila dan dilanjutkan pada pukul 06.50 WIB di Kawah Timbang.

Kematian warga didasari adanya akumulasi gas CO2 yang mencapai sekitar 200.000 ton dalam waktu cepat dan bergerak menuruni lereng dan lembah. Selain itu, akumulasi terjadi pada retakan jalan yang terkena gempa di mana tidak hanya gas CO2 yang menyebar, tetapi juga gas H2S (hidrogen sulfida).


(Infografis: era.id)
 

Tag: eranusantara

Bagikan: