Lulus SMK Sulit Dapat Kerjaan, Ini Alasannya

Tim Editor

Diksusi pendidikan. (Diah/era.id)

Jakarta, era.id - Jumlah pengangguran tahun 2017 didominasi oleh lulusan SMK. Sebanyak 11,41 persen lulusan SMK tidak bekerja. Padahal, pemerintah menggalakkan pendidikan vokasi tersebut sebagai lulusan yang siap kerja.

Ada banyak hal yang membuat lulusan SMK sulit mendapatkan pekerjaan. Kepala Subdit Penyelarasan Kejuruan dan Kerjasama Industri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Saryadi Guyatno menyebut, salah satu masalahnya adalah 40 persen lulusan SMK pada tanggal kelulusan, usianya belum 18 tahun.

"Itu juga mempengaruhi (lapangan) pekerjaan, karena banyak industri yang tidak mau menandatangani kontrak (kerja) kalau usianya belum 18 tahun. Mereka takut dituntut sebagai human trafficking," ujar Saryadi di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018).

Selain itu, Saryadi mengatakan, penyebab tingginya angka pengangguran lulusan SMK adalah persebaran geografis kesempatan kerja yang belum merata.

Lebih lanjut, Saryadi menyebut, akses informasi lapangan pekerjaan yang diterima oleh lulusan SMK khususnya di daerah juga sangat terbatas. 

"Lapangan kerja masih terpusat di Jawa. Industrialisasi di Jawa menciptakan lapangan kerja lebih banyak, sedangkan SMK kan lahir di seluruh wilayah Indonesia," sebutnya.

Di tempat yang sama, Anggota Komisi X DPR Ridwan Hisyam menilai Kemdikbud belum bekerja dengan baik. Menurutnya, anggaran pendidikan sebesar 9,3 persen yang diterima Kemdikbud tidak cukup banyak.

"Masyarakat melihat Kemdikbud tidak benar kerjanya. Padahal ini banyak kementerian yang ambil anggaran dari situ (selain Kemdikbud)," tutur Ridwan.

Diketahui, persentase pengangguran lulusan SMA yaitu 8,29 persen dari semua lulusan SMA. Hal tersebut lebih sedikit dari pengangguran yang berasal dari lulusan SMK sebesar 11,41 persen.

Tag: riwayat pendidikan tri mumpuni

Bagikan: