Peluang Bahasa Indonesia Jadi Lingua Franca

Tim Editor

Ilustrasi (era.id)

Jakarta, era.id - Sulitnya berbahasa Indonesia telah dibuktikan lewat sejumlah kajian data dan informasi. Berdasar data yang dihimpun dari sebuah situs lembaga pendidikan bahasa, Effective Language Learning, bahasa Indonesia diklasifikasikan sebagai salah satu bahasa paling sulit dipelajari.

Menurut Effective Language Learning, rata-rata orang membutuhkan waktu hingga 900 jam untuk mempelajari bahasa Indonesia. Dengan hasil hitungan itu, bahasa Indonesia terklasifikasi dalam Kategori III, bersama beberapa bahasa lain di dunia seperti bahasa Malaysia dan Swahili.

Dengan kondisi itu, mungkinkah bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa internasional?

Berkaca pada bahasa Inggris

Tantangan untuk mendorong bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional begitu besar. Berkaca pada bahasa Inggris misalnya, yang telah menjadi bahasa internasional sejak tahun 1946, nyatanya butuh ratusan tahun hingga akhirnya ditahbiskan sebagai bahasa internasional oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Bahasa Inggris memang istimewa. Bukan hanya bahasa internasional resmi versi PBB, bahasa Inggris juga berkembang menjadi lingua franca atau bahasa dunia. Lingua franca dapat diartikan sebagai bahasa penyambung, bahasa yang secara umum digunakan di seluruh dunia.

Dalam sejarah, lingua franca diartikan juga sebagai bahasa perdagangan. Merujuk pada sejarah interaksi manusia antar belahan dunia pada abad lampau yang banyak disambung lewat aktivitas perdagangan. Dalam sudut pandang komunikasi sosial, lingua franca berarti dialek yang secara sistematis digunakan untuk melakukan komunikasi di antara dua orang yang tidak memiliki latar belakang penggunaan bahasa yang sama.

Selain sebagai bahasa perdagangan, pada perkembangannya, lingua franca juga berperan besar dalam pertukaran budaya, diplomasi, penyebaran agama hingga administratif dalam ranah dunia modern.

Penyebaran Bahasa Inggris

Sebuah ungkapan lama menyebut, butuh seribu tahun penantian hingga bahasa Indonesia ditahbiskan sebagai bahasa internasional. Mungkin ada benarnya. Kenyataannya, sejarah mencatat perjalanan panjang bahasa Inggris hingga akhirnya menjadi lingua franca.

Lagi-lagi kita memang harus berkaca pada bahasa Inggris untuk mencari tahu sebesar apa peluang bahasa Indonesia untuk jadi bahas internasional. Hobi negeri sepak bola itu menjajah negara-negara di berbagai belahan dunia jadi salah satu yang paling berpengaruh dalam penyebaran bahasa Inggris di dunia. 

Pada abad ke-18, Inggris memulai langkah itu, dan terus memperluas cakupan jajahannya hingga kini. Matahari tak pernah padam bagi Britania Raya. Secara geopolitik, Inggris memang sangat dominan dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Hal itulah yang kemudian mendorong kepopuleran bahasa Inggris di dunia.

Sejumlah negara di Amerika Utara, India, Australia, hingga beberapa negara Afrika akhirnya mengadopsi bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Beberapa bahkan mengangkat bahasa Inggris sebagai bahasa resmi yang digunakan di negara mereka. Amerika Serikat (AS) misalnya, yang mulai mengenal bahasa Inggris sejak abad ke-20. Dan sejak itu juga bahasa Inggris jadi begitu populer hingga dijadikan bahasa resmi Negeri Paman Sam.

Sampai di mana kita?

Berdasar informasi yang dihimpun dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), bahasa Indonesia sangat potensial untuk dijadikan bahasa internasional. Tingginya minat bangsa lain mempelajari bahasa Indonesia jadi indikatornya.

Menurut data Kemendikbud, hingga tahun 2015, sebanyak 174 pusat pembelajaran bahasa Indonesia telah didirikan di 45 negara. Dan Jepang jadi negara yang memiliki minat paling tinggi dengan mendirikan 38 pusat pembelajaran bahasa Indonesia, disusul Australia yang mendirikan 36 pusat pembelajaran.

Di PBB sendiri, sudah ada enam bahasa yang diakui sebagai bahasa internasional. Selain bahasa Inggris, ada bahasa Arab, Mandarin, Perancis, Rusia dan Spanyol.

Tapi, Indonesia sebenarnya boleh berbangga karena kerap dianggap kaya dalam bahasa, terutama soal jumlah kosakata. Tapi, apa iya kita sekaya itu? Entahlah. Rasanya butuh waktu lebih panjang untuk mencari tahu soal itu.


Infografis (Rahmad Bagus/era.id)

Tag: cinta bahasa indonesia cinta bahasa ibu

Bagikan: