Generasi Adat Bali Terancam Hilang karena KB

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (Pixabay)

Amlapura, era.id - Calon Gubernur Bali, Wayan Koster meminta pemerintah memodifikasi Program Keluarga Berencana (KB) di Bali, dari semula dua anak menjadi empat anak.

Alasannya, kalau Program KB membatasi jumlah dua anak, maka beberapa nama yang jadi identitas adat generasi di Bali terancam hilang. 

"Kalau program KB dua anak, berarti ada generasi Bali yang hilang yakni Nyoman (atau Komang) dan Ketut. Bali kehilangan kultur dan budaya," kata Koster, sebagaimana dikutip dari Antara, Kamis (15/3/2018).

Program KB memang kerap terbentur dengan sejumlah dogma, baik adat, budaya ataupun agama. Ya, di Bali ini contohnya. Tapi, pemerintah tetap yakin, pengendalian kelahiran adalah niscaya

Di Bali, masyarakat mengenal empat nama adat yang menandai urutan kelahiran setiap anak. Ada Wayan atau Gede atau Putu yang biasanya digunakan untuk nama anak pertama, Made dan Kadek untuk nama anak kedua, Nyoman atau Komang untuk nama anak ketiga, dan Ketut untuk nama keempat.

"Ya, struktur anak dalam satu keluarga di Bali memang terdiri dari empat orang," kata Koster.

Selain potensi hilangnya generasi, ada pula kerugian Bali dalam bidang penganggaran. Sebab, makin sedikit jumlah penduduk, maka alokasi dana bantuan dari pemerintah pusat akan makin kecil.

"Semua itu dihitung pada jumlah manusia. Misalnya dana BOS, itu dihitungnya berdasarkan jumlah komposisi penduduk di satu wilayah. Jadi, semakin sedikit jumlah orang, semakin sedikit pula bantuan yang didapat," ujarnya.

Koster menilai kebijakan KB dua anak tak tepat diterapkan di Bali. Ke depan, ia akan melobi pemerintah pusat agar Bali bisa diberikan kebebasan untuk melaksanakan Program KB empat anak.

Tag: polemik dua anak di bali keluarga berencana

Bagikan: