Mendorong Kelahiran Unicorn Kelima Indonesia

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Besarnya potensi ekonomi digital telah membuka mata pemerintah. Seperti telah dibahas dalam berita Muda, Tajir, dan Punya Pengaruh Kuat, empat startup Indonesia masuk dalam kelas Unicorn.

Pertumbuhan iklim usaha startup digital seolah tak terbendung. Saat ini Indonesia memiliki empat startup berkaliber Unicorn, yakni Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Tahun 2020, pemerintah pasang target, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Di 2020, pemerintah menargetkan kelahiran seribu teknopreneur dengan nilai bisnis 10 miliar USD. Di tahun itu juga, pemerintah menargetkan capaian transaksi e-commerce hingga 130 miliar USD.

Meski terdengar sangat ambisius, target pemerintah sejatinya sangat realistis, kok. Saat ini, ada lebih dari 1.700 usaha rintisan yang bergerak dalam ekosistem digital di Indonesia.

Berdasar hasil riset termutakhir yang dilakukan McKinsey, potensi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia menunjukkan tanda-tanda yang sangat baik.

Riset McKinsey meramalkan, di masa mendatang, lebih dari 60 persen pekerjaan sekarang akan terganti teknologi otomatis di masa depan. Saat ini, pemerintah juga telah menelurkan 16 paket kebijakan untuk menciptakan iklim investasi, daya saing, pertumbuhan ekspor, sumber pertumbuhan baru dan peningkatan pertumbuhan konsumsi masyarakat.



Melahirkan Unicorn baru

Kesuksesan empat Unicorn Indonesia diharapkan dapat diikuti startup lain di dalam negeri. Tahun depan, pemerintah menargetkan kelahiran satu Unicorn lagi dari Indonesia.

Pemerintah sadar betul, gairah itu harus dijaga. Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga gairah itu tetap menyala. Salah satunya dengan menjembatani startup dengan investor.

Jika mengacu pada syarat bahwa hanya perusahaan-perusahaan dengan nilai valuasi mencapai 1 miliar USD yang dapat digolongkan ke dalam kelas Unicorn, maka blibli.com dan Mataharimall.com adalah startup paling potensial.

Berdasar data yang dihimpun, per tahun 2015, blibli.com sudah mampu menawarkan lebih dari 350 ribu produk dari 6.000 merek, serta bermitra dengan lebih dari 2.500 merchant partner dan 15 bank.

Berdiri sejak 2011, blibli.com telah mendapat suntikan dana dari Global Digital Niaga sebesar 100 juta USD, setara dengan Rp1,4 triliun. Selain itu, Bank Central Asia (BCA) diketahui juga telah menyuntikkan dana segar, meski tak dapat ditemukan nilainya. Valuasi blibli.com diperkirakan berkisar antara Rp1-5 triliun.

Sedang Mataharimall, penelusuran data menyebut, di tahun 2016, perusahaan ini mendapat tambahan dana sebanyak 100 juta USD dari Mitsui & Co. Menurut kabar berembus, Lippo Group bahkan dikabarkan akan kembali menanam investasi sebanyak 500 juta USD. Belum ada kepastian soal kabar tersebut. Tapi, sejumlah sumber menyebut valuasi Mataharimall saat ini berkisar di angka Rp1-5 triliun.
 

Tag: muda beda dan berbahaya

Bagikan: