Ekspedisi Laut Dalam Pertama di Indonesia

Tim Editor

Pemimpin ekspedisi peneliti dari LIPI, Dwi Listyo Rahayu (Yohanes/era.id)

Jakarta, era.id - Indonesia dan Singapura bekerja sama melakukan ekspedisi laut dalam pertama di perairan selatan Pulau Jawa. Sebanyak 31 peneliti dan staf pendukung dari Indonesia dan Singapura terlibat dalam ekspedisi ini.

Ekspedisi ini yang berlangsung mulai dari 23 Maret hingga 5 April ini merupakan eksplorasi biota laut dalam pertama yang dilakukan di beberapa titik laut Indonesia yang belum terjamah.

Dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai wahana penelitian, ekspedisi ini akan menjadi kolaborasi ilmiah antara peneliti-peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dengan Lee Kong Chian Natural History Museum dan Tropical Marine Institute National University of Singapore (NUS). Ekspedisi ini melibatkan beberapa peneliti dari Singapura, Perancis, dan Taiwan.

Ekspedisi ini dibagi dalam dua kegiatan besar. Pertama, pengambilan sampel dengan peralatan seperti beam trawl dan epibhentic sledge, penanganan sampel, serta kompilasi data selama 14 hari. Lalu, penanganan lanjutan sampel, penyusunan laporan sementara, dan workshop.

Peneliti dari LIPI, Dwi Listyo Rahayu mengatakan, ekspedisi ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragam jenis biota laut dalam. Destinasi yang dituju adalah sekitaran Selat Sunda dan selatan Pulau Jawa.

"Ekspedisi akan dimulai dari sekitar Selat Sunda, dekat Krakatau ke arah timur menuju perairan Cilacap pada kedalaman 500 sampai 2.000 meter di bawah permukaan laut," jelas Dwi di Widya Graha LIPI, Setia Budi, Jakarta Pusat, Jumat (23/3/2018).

Ekspedisi akan fokus mengumpulkan sampel dari berbagai organisme laut alam yang biasanya sulit didapatkan, seperti Crustacea (kepiting dan udang), Mollusca (kerang), Porifera (spons laut), Cnidaria (ubur-ubur), Polychaeta (cacing), Echinodermata (bintang laut dan bulu babi), dan ikan.

Temuan itu nantinya akan diteliti. Studi tentang sampel ini diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun dan hasilnya akan dibagikan dan didiskusikan dengan dunia pada lokakarya khusus yang akan diadakan di Indonesia pada tahun 2020.

"Kita butuh 2 tahun karena kita memulainya dari nol. Tidak ada jurnal, dan selama 2 tahun itu, belum tentu datanya sudah kami olah semua," jelas Dwi.


(Istimewa)

Kepala Peneliti dari Lee Kong China Natural History Museum of NUS, Peter Ng menjelaskan, Laut Jawa yang disebutnya sebagai daerah uncharted land ini mengandung kekayaan keanekaragaman hayati yang belum banyak dikenal dan dikaji dalam ilmu pengetahuan.

"Memahami kekayaan ini penting karena kita tidak bisa melindungi kekayaan ini tanpa mengetahuinya terlebih dahulu," jelas Peter.

Kendala Cuaca

Namun, saat ini, tim peneliti mendapatkan kendala. Faktor cuaca menjadi kendala utama yang akan dihadapi tim ini. Meski demikian, dia mengatakan tidak akan berpengaruh kepada penlitian. Sebab, kapal riset baru yang akan digunakan ini memilik dek kapal yang bisa digunakan untuk meneliti sampel yang dikumpulkan dari kedalaman 500 hingga 2.000 meter di bawah permukaan laut.

"Storm sky is coming. Sekarang ini kan (siklon tropis) markus, ekor badainya markus. Akan datang low depression yang akan membentuk badai," lanjut Dwi.

Diharapkan hasil penelitian ekspedisi ini akan menambah database spesies baru dan menjadi acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya. Lebih lanjut lagi, sambungnya, ekspedisi ini juga diharapkan mampu melatih peneliti-peneliti muda lndonesia untuk melakukan pekerjaan taksonomi morfologi bersama dengan peneliti dari negara lain.

Pembiayaan sepenuhnya dibiayai oleh pihak Singapura. Diperkirakan anggaran yang digunakan mencapai Rp5 miliar untuk pendanaan ekspedisi. Anggaran itu digunakan untuk keperluan logistik, pengadaan alat ekspedisi laut dalam serta laboratorium dalam kapal dan biaya lainnya.

Bagikan: