Kenalan dengan Viral, Polusi Dunia Maya

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Viral! Pria Jambi Bugil Naik Sepeda Motor; Pria di Kalimantan Taklukan King Cobra Raksasa; Iqbal, Bocah Pemilik Suara Merdu Viral di Instagram; Video Pasangan Ditelanjangi Setelah Kepergok Mesum di Indekos.

Ngaku deh, pasti kamu sering banget menemukan judul-judul yang mirip di atas tadi. Baik di media sosial maupun media massa. Virus virtual atau yang lebih terkenal dengan sebutan viral, menjelma layaknya polusi di dunia maya. Alasan penyebaran informasi hingga akhirnya menjadi viral pun menarik untuk dicari tahu, karena mungkin kamu salah satu di antara yang menyebarkan kabar viral itu.

Sayangnya, jumlah pengguna sosial media di Indonesia, berbanding lurus dengan banyaknya orang yang terjerat kasus Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) di Indonesia. Per Januari 2018, Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat, ada 796.237 aduan yang berkaitan dengan pelanggaran ITE. 183 di antaranya merupakan kasus ujaran kebencian, 18 kasus pelanggaran keamanan informasi, dan 136 konten negatif yang beredar di Internet.

Kembali ke pertanyaan tadi, mengapa berita atau informasi tersebut jadi viral? Kenapa juga yang lain tidak? 


Infografis (era.id)

Dari mana asal viral?

Keputusan membagikan sebuah informasi tidak hanya dibuat atas dasar kira-kira orang lain akan menyukainya atau tidak. Profesor asal Amerika Serikat, Jonah Beger, dalam bukunya Contagious (2013) menjelaskan bagaimana sebuah informasi menjadi viral. Lewat konsepnya, STEPPS (social currency, triggers, emotion, public, practical value, story) kita akan melihat bagaimana informasi cepat tersebar. Termasuk motivasi orang menyebarluaskan informasi.

Pertama, faktor social currency atau mata uang sosial. Orang biasanya mencari topik-topik terkini dan lalu menyebarkan sebuah informasi agar dirinya dilihat keren dan tidak kuper. Nah, ini jadi alasan kenapa seseorang sering membagikan konten populer. Tak lain untuk menunjang image keren tersebut.

Berikutnya, triggers atau pemantik. Fungsi dari triggers adalah memberikan konteks terhadap sebuah konten. Dalam konteks mengajarkan kebaikan, misalnya, kisah tentang orang Samaria dan gelandangan yang terluka (kisah Alkitab) seringkali dijadikan rujukan. Kisah ini punya pesan moral yang begitu kuat dan mengharukan. Bagaimana seorang Samaria yang dituduh bejat, ternyata berperilaku jauh lebih alim ketika menghadapi seorang yang tengah sekarat. Konten inilah yang memicu emosi netizen hingga akhirnya ikut menyebarkan informasi.

Selanjutnya faktor emosi menjadi hal yang berperan signifikan ketika seseorang ingin berbagi konten. Emosi tak pernah absen dari hampir semua postingan Facebook yang viral. Contoh video adalah yang melibatkan orang Samaria di atas. Kisah itu viral karena berhasil membuat orang terharu dengan pesan moral di dalamnya. 

Baca Juga : Kegaduhan Tak Berkesudahan


Infografis (era.id)

Baca Juga : Viral, Populer, Lalu Tenggelam Kemudian

Setelah emosi, selanjutnya ada publik. Profesor Jonah menyimbolkan dengan huruf P. Publik dimaksudkan sebagai titik di mana seseorang memutuskan untuk menyebarkan sebuah konten. Premisnya sederhana. Semakin populer sebuah konten, semakin besar kemungkinan seseorang tertarik dengannya. Dan ketika sebuah fenomena telah meluas, seseorang akan berusaha menjadi bagian di dalamnya dengan berperan sebagai penyebar informasi. 

Lalu practical value, Jonah juga menyimpulkan dengan huruf P. Di sini, Jonah berargumen, selain untuk tetap update, ada juga sekelompok orang yang membagikan konten supaya berbagi informasi yang dianggap berguna. Artinya, subjektifitas sangat bermain di sini. Ketika orang menganggap sebuah konten berguna bagi publik, boleh jadi mereka akan segera men-share konten tersebut. Share ini biasanya dilabeli 'penting' atau 'hot' untuk memancing perhatian khalayak luas.

Bayangkan multiplier effect dari pola pikir semacam ini, ada lebih dari 100 juta pengguna aktif facebook di Indonesia pada 2017 lalu. Kalau ada 1 juta akun (1 persen dari total akun) berpikir demikian, sebuah konten bisa di-share hingga 1 juta kali dalam periode tertentu. Kalau berita itu positif, kalau palsu apalagi fitnah, gimana ya?

Terakhir adalah story. Studi menunjukkan, satu-satunya cara otak kita bisa tetap fokus adalah dengan mengonsumsi atau memproses cerita. Otak kita akan menghalangi semua gangguan dan mengunci fokus kita pada cerita yang ada. Orang-orang sulit menahan diri dari cerita yang 'bagus' dan cenderung membagikannya karena alasan-alasan yang telah disebutkan sebelumnya. Ingat, definisi bagus sangat subjektif dan seringkali berkaitan dengan selera personal seseorang.

Setalah membaca artikel ini, apakah kamu akan berpikir membagikannya? Menurut Profesor Jonah jawabannya ada di lima poin di atas..


Infografis (era.id)

Tag: era kebebasan semu

Bagikan: