Kisah Negeri yang Alergi 'Ngak Ngik Ngok'

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (Rahmad Bagus/era.id)

Masih dalam artikel berseri Era Eksistensi Budaya. Setelah membahas Kita dalam Arus Globalisasi, dalam artikel ini kami akan bawa anda ke masa lalu, ke masa di mana kita pernah menjadi bangsa yang begitu anti terhadap budaya barat. Monggo dan enjoy!


Jakarta, era.id - "Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu Indonesia, kenapa mesti Elvis-Elvisan?" ujar Proklamator Sukarno dalam pidato peringatan kemerdekaan, 17 Agustus 1965 di hadapan Corps Gerakan Mahasiswa Indonesia.

Saat pidato itu diserukan, Tony, Nomo, Yon, dan Yok Koeswoyo sedang dikurung di sel nomor 15 bersama tiga orang tahanan lain. Hari itu, hampir genap dua bulan keempatnya mendekam di penjara Glodok, Jakarta.

Tepat 29 Juni 1965, Koes Bersaudara  --yang kini kita kenal dengan nama Koes Plus-- tengah mentas di rumah seorang kolonel. Dalam repertoarnya, sejumlah lagu Elvis Presley dan The Beatles mereka mainkan. Termasuk I Saw Her Standing There yang jadi lagu penutup penampilan mereka hari itu, sebelum aparat hukum mengakhiri dan menyeret keempatnya ke penjara.

Penolakan nasional terhadap musik barat bermula saat Sukarno mencetuskan gerakan Djalannya Revolusi Kita (Djarek). Pada masa berkobarnya revolusi tersebut, Sukarno menetapkan sistem pemerintahan Demokrasi Terpimpin. Artinya, demokrasi ini mengacu pada kepemimpinan satu tangan, yakni Sukarno.

Sukarno enggak begitu senang melihat budaya barat tumbuh di Indonesia. Ia anggap masuknya budaya barat ke Indonesia sebagai bentuk imperialisme budaya. Hal itu diungkapkan sendiri oleh Sukarno, dalam pidato 17 Agustus 1959 yang berjudul "Manipolusdek".

Kemudian, pada September 1959, pidato itu ditetapkan sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) oleh Dewan Pertimbangan Agung. "Saya kira dulu ada kekhawatiran memang dari Soekarno terhadap budaya barat," kata Dosen Ilmu Sejarah Universitas Indonesia (UI), Teuku Reza Fadeli saat dihubungi era.id, Senin (2/4/2018).

"Tahun 50-an pertengahan itu ada manifestonya Sukarno, Manipolusdek. Usdek kan Undang-undang Dasar (UUD) 1945, sosialisme Indonesia, demokrasi terpimpin, ekonomi terpimpin, dan kepribadian Indonesia. Itu ada alasan politik lah di balik kejadian itu,” tambah Teuku.

Saat itu, piringan-piringan hitam milik band-band barat jadi sasaran razia yang kemudian dimusnahkan secara massal. Selain itu, aturan pelarangan impor bagi rekaman-rekaman musik barat pun diberlakukan. Siaran radio yang menyiarkan musik-musik barat juga dilarang. Enggak terkecuali RRI.

Enggak cuma musik, gaya penampilan masyarakat pun jadi hal yang dipersoalkan pemerintah saat itu. Laki-laki berambut gondrong atau mereka yang gaya berpakaiannya mencerminkan budaya barat pun jadi sasaran razia aparat.

Menurut Teuku, segala bentuk kebudayaan barat yang datang saat itu adalah salah. Semua bentuk kebudayaan, mulai dari musik, film, fesyen dilarang karena pemerintah Orde Lama khawatir budaya barat dapat membuat generasi muda lepas dari perjuangan Manipolusdek yang telah jadi haluan negara saat itu.

“Tahun 50-an sudah banyak musik, film, pakaian, sudah mengglobal dari Amerika dan Australia, dari radio-radio, Voice of Amerika. Sukarno khawatir generasi muda lepas dari perjuangan Manipolusdek itu. Banyak artis yang dilarang main lagu barat, ada beberapa grup band juga. Koes Plus contohnya. Selain itu, ada festival yang berbau barat itu juga dilarang,” kata Teuku. 

Infografis (Rahmad Bagus/era.id)


Ngak Ngik Ngok 

Istilah musik Ngak Ngik Ngok mulai dikenal tahun 1963. Saat itu, pemerintah menerbitkan Penetapan Presiden (PP) Nomor 11 Tahun 1963 tentang Larangan Musik Ngak Ngik Ngok. Penerbitan itu kemudian jadi legitimasi dari gerakan pemerintah memberangus musik-musik yang dianggap berpotensi merusak budaya bangsa.

Musik barat sendiri mulai masuk ke Indonesia pada dekade 50-an. Otto Werner dalam The Origin and Development (1994) menjelaskan, pada tahun 1950-an, Elvis Presley dan Bill Haley and The Comet jadi pionir yang membangun pamor musik rock n roll.

Dengan segala hal keren yang ditawarkan, rock n roll pun menjelma sebagai sub-kultur yang amat digandrungi saat itu. Setelah Elvis, Rolling Stone muncul di Amerika Serikat, disusul The Beatles yang jadi penggerak awal British Invasion atau era di mana berbagai aspek dalam budaya Inggris merambah Amerika Serikat dan sejumlah negara lain kemudian, termasuk Indonesia.

Seperti di negara lain di dunia, 'virus' rock n roll enggak cuma memengaruhi selera musik kawula muda Indonesia saat itu. Rock n roll bahkan telah merasuk ke kulit mereka; Tony, Nomo, Yon, Yok, dan segelintir kaum muda lain di Nusantara. 
 
Sebut saja Los Suita, Eka Djaya Combo, hingga Dara Puspita, yang juga muncul sebagai ikon rock n roll dalam negeri. Memasuki pertengahan 1960-an, grup-grup musik tersebut mulai menciptakan dan menyanyikan lagu ciptaan sendiri yang amat kental dengan pengaruh barat, mulai dari musik hingga lirik. Selain itu, pertunjukan musik panggung mulai bermunculan, namun dengan skala yang masih kecil, seperti mengisi acara hajatan tetangga dan semacamnya.

Selain Koes Plus yang dipenjara, Los Suita saat itu juga jadi salah satu band yang disorot pemerintah. Menurut Mumu, dalam Sang Revolusioner The Beatles (2000) mengatakan, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jakarta mengeluarkan peringatan kepada Los Suita, bahwa pemerintah akan membubarkan mereka jika terus memainkan lagu-lagu Elvis.

Zaman telah berubah. Resistensi yang dibangun terhadap globalisasi pun mulai pudar, meski enggak sepenuhnya hilang. Sumpah, kami sepakat soal pentingnya mempertahankan budaya lokal. Tapi, kami cukup yakin, menutup diri dari budaya global bukan hal yang bijaksana untuk dilakukan pada zaman ini.

Jadi, bagaimana kamu menyikapi kondisi ini? 

Tag: era eksistensi budaya

Bagikan: