Batik dan Novel Indonesia yang Dikenal Dunia

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (era.id)

Masih membicarakan Era Eksistensi Budaya di era.id. Sebelumnya, kami membawakan produk makanan lokal yang mendunia. Kali ini kami akan menyajikan artikel tentang mode dan karya sastra Indonesia yang mendunia. Sebagai contoh, Batik Keris dan Novel Ronggeng Dukuh Paruk yang namanya sudah dikenal dunia.

Jakarta, era.id - Mode dan karya sastra merupakan bagian dari budaya masyarakat. Lewat mode, seseorang bisa dicirikan orang lain, dari mana dia berasal. Sedangkan lewat karya sastra, budaya sebuah kelompok orang bisa diceritakan ke khalayak.

Mode dalam hal ini, pakaian, tak bisa dipisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia. Dia dimetaforakan sebagai kulit sosial yang membawa pesan dan gaya hidup suatu masyarakat tertentu yang merupakan bagian dari kehidupan sosial. 

Sementara, lewat karya sastra, produk budaya menjadi mudah disampaikan kepada orang lain. Melalui karya sastra ini pula, budaya nenek moyang bisa diwariskan ke generasi selanjutnya. Selain itu, karya sastra dapat membukakan mata pembaca untuk mengetahui realitas sosial, politik dan budaya dalam bingkai moral dan estetika. Salah satu bentuk karya sastra itu adalah novel.

Batik Keris

Batik Indonesia secara resmi diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity dalam sidang ke-4 Fourth Session of the Intergovermental Committee di Abu Dhabi pada 2008. Salah satu batik yang terkenal di dunia adalah Batik Keris.

Batik Keris didirikan pada 1946 di daerah sekitaran Sukoharjo oleh Kasoem Tjokrosapoetra. Jauh sebelum itu, sekitar tahun 1920, orang tua Kasoem sudah menjadi pembatik sebagai usaha rumahan. Kemudian, di tahun 1970, Batik Keris resmi mendaftarkan diri sebagai perseroan terbatas yang mempekerjakan sekitar 2 ribu karyawan.
 
Batik ini adalah salah satu brand batik yang sangat populer di Indonesia. Komoditas utama dari perusahaan ini adalah baju batik dengan berbagai pola dari Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Batik Keris ini tercatat memiliki lebih 120 gerai di seluruh Indonesia dan telah menyebarkan sayapnya di sejumlah negara Asia, Timur Tengah hingga Amerika Serikat.

Baca Juga : Kisah Negeri yang Alergi 'Ngak Ngik Ngok'

Dalam laman resminya, Batik Keris memiliki tujuan untuk melestasikan budaya batik di tengah jaman modern. Namun demikian, Batik Keris tidak ngotot dengan satu pakem, sebaliknya, brand besutan Handianto Tjokrosaputro ini juga membuka diri terhadap modifikasi atau persilangan budaya yang mungkin ditimbulkan dari batik. Sejak 2013, dalam setiap pagelaran busananya, Batik Keris selalu memasukkan unsur China dan Eropa dalam karya-karyanya. Ini menjadi salah satu upaya Batik Keris dikenal kalangan mancanegara.
 
Sejumlah media yang meliput pagelaran busana tersebut menyebut karya Batik Keris mengedepankan unsur tradisional dari sebuah batik namun tidak lupa menonjolkan kombinasi sisi modernnya seperti dengan manik-manik khas China ataupun pola-pola tertentu yang biasanya ada dalam busana Eropa, seperti bunga, burung dan siluet tertentu.


 (Ilustrasi/era.id)
 
Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) adalah sebuah trilogi terkenal karya Ahmad Tohari. RDP diterbitkan pada 1982 dan berkisah tentang kisah asmara antara Srintil dan Rasus yang kemudian berkembang melibatkan sejumlah tradisi lokal Dukuh Paruk seperti ronggeng, peristiwa nasional semacam Pembantaian 1965 dan praktik-praktik kotor seperti prostitusi, hukuman tanpa pengadilan maupun perjuangan mengubah pola pikir masyarakat yang masih primitif. 

Yang menarik, novel RDP telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Jepang, Belanda, Inggris dan Jerman. Selain itu, novel ini juga diadaptasi ke dalam film Darah dan Mahkota Ronggeng (1983) dan Sang Penari (2011). Pada tahun 2014, podcast novel RDP diluncurkan dengan Butet Kartaredjasa sebagai pengisi suaranya.

Gaya menulis Tohari boleh dibilang berbeda dengan kebanyakan novelis di zamannya yang menggunakan narasi relatif berat. Alur narasi dalam keseluruhan trilogi novel itu cenderung ‘polos’ dan mengalir. Selain itu, kisah cinta Srintil-Rasus yang dibalut berbagai peristiwa lokal-nasional menjadikan alur novel itu sangat dinamis dan menyimpan pesan moral tinggi.

Baca Juga : Kita dalam Arus Globalisasi
 
Dilansir beberapa media, salah satu pesan moral paling kuat dari novel RDP adalah agar masyarakat sadar politik. Bedanya Tohari menekankan pada fakta masyarakat seringkali apolitis dan itu justru menjadikan mereka rentan sebagai korban politik. Dikisahkan dalam novel tersebut, Dukuh Paruk, dengan segala pernak-pernik di dalamnya, menjadi luluh lantak karena dianggap sebagai pengkhianat negara. Pasalnya sederhana saja, acara ronggeng yang pernah menari di acara Partai Komunis Indonesia secara serta-merta diasosiasikan sebagai pendukung gerakan kudeta 1965. Akibatnya, seluruh pengisi acara ronggeng itu dihukum karena dituduh komunis. Konyolnya, mereka semua pasrah menerima hukuman itu.

Tohari seolah ingin berkata agar masyarakat tidak apolitis dan berani berubah. Persis seperti yang dilakukan Rasus di bagian akhir novel ini. Rasus yang sudah berkecukupan namun ‘kehilangan’ Srintil bertekad mengubah Dukuh Paruk yang primitif menjadi modern, menghilangkan takhayul dan praktik perzinahan yang selama ini dianggap ‘lumrah’ semata karena kebiasaan/dilakukan berulang-ulang. Sebuah pesan modernitas yang sangat kuat dari Tohari agar masyarakat bisa keluar dari kemiskinan, kelaparan dan kebodohan.
 


 (Ilustrasi/era.id)

Tag: era eksistensi budaya

Bagikan: