Ketika Musik Keras Berdamai dengan Gamelan

Tim Editor

Ilustrasi (Hilmi/era.id)

Jakarta, era.id - Keberadaan musik lokal, dewasa ini, semakin kehilangan panggung. Seperti tamu di rumah sendiri, musik lokal harus rela berbagi tempat dengan musik impor yang datang tak terbendung. 

Salah satu cara untuk tetap eksis dengan cita rasa lokal yakni berdamai dengan keadaan. Seperti yang dilakukan band asal Indonesia, Discus. Dibalik prestasinya yang gemilang, racikan musik dari band ini ternyata berhasil memadupadankan nuansa musik lokal. 

Band yang digawangi Iwan Hasan, Fadhil Indra, Anto Praboe, Kiki Caloh, Eko Partitur, Yuyun, Krisna, dan Hayunaji ini sering bereksperimen dengan menggabungkan berbagai jenis musik yang sudah ada, mulai dari jazz, rock, dan menariknya mereka juga menggabungkan musik etnik Jawa.

“Sebenarnya itu lebih ke artistik dari beberapa genre yang dipadu. Bahasa rock adn roll-nya kita membabaskan produktivitas untuk mencampur. Tiba-tiba ada ide genre jazz, nanti yang lain ada genre rock, dan ada yang karawitan, tinggal kita secara artistik kita bikin bridge-nya,” kata Fadhil Indra saat dihubungi era.id, beberapa waktu lalu.
 

Baca Juga : Pertarungan Sudjojono Lawan Seni Rupa Barat

Jika mendengar album pertama yang berjudul Contrasts, aransemennya kental dengan alunan musik karawitan yang diadopsi dari lagu Gambang Suling, Narto Sabdo.

Selain itu, Discus juga meramu lagu nasional, RA Kartini yang dibalut dengan musik bergenre Internasional. "Itu kita bikin musiknya dengan genre-genre dunia, ada hard rock, ada jazz," tambah Fadhil.

Band progresif rock ini sudah menelurkan dua album, pertama 1st yang dirilis Mellow Records (Italia), dan album kedua Tot Licht di Rusia. Awalnya Discus memang ingin meramaikan belantara musik Indonesia, namun bak gayung tak bersambut, Discus malah lebih disambut hangat di luar Negeri.




Baca Juga : Kesenian Jathilan Nyaris Punah, Salah Siapa?

Banyak prestasi dunia yang sudah mereka sabet, bahkan sebuah majalah musik Amerika Serikat Expose menjuluki band ini sebagai best of the year stuff pada tahun 1999.

Selain Expose, majalah-majalah lain terbitan Eropa juga turut memberikan pujian kepada band aliran rock progresif ini. Selain itu, sejumlah kritikus musik rock progresif di Eropa sepakat menempatkan album Discus 1st sebagai lima besar album prog-rock terbaik Eropa di akhir 1999.

Mirisnya, kendati sudah berdamai dengan musik impor, Discus ternyata tetap terasing di negerinya sendiri.

Tag: era eksistensi budaya musik rock album musik

Bagikan: