Polemik Penjiplakan Merek Gudang Garam vs Gudang Baru

Tim Editor

Ilustrasi

Setelah mendalami berbagai kasus plagiarisme, penjiplakan, hingga isu tiru-meniru lewat berbagai artikel yang terhimpun dalam artikel berseri Era Mirip-mirip, kali ini kita bakal melihat dampak hukum dari penjiplakan melalui kisah perlawanan Gudang Baru melawan raksasa industri rokok, Gudang Garam dalam polemik perebutan hak merek.

Jakarta, era.id - Sebuah perlawanan panjang terpaksa ditempuh Ali Khosin, bos PR Jaya Makmur, perusahan yang memproduksi merek rokok Gudang Baru, setelah raksasa industri rokok, Gudang Garam menuntutnya. Alasannya, Gudang Baru dituduh menjiplak merek dagang Gudang Garam.

Gudang Garam agaknya betul-betul enggak bisa terima penggunaan merek dagang yang dipilih PR Jaya Makmur. Buktinya, Gudang Garam sampai mengajukan dua tuntutan, di ranah perdata iya, secara pidana pun juga.

Segala kerumitan perkara hukum antara dua produsen rokok kretek tersebut bermula di situ. Secara perdata, Mahkamah Agung (MA) memutuskan bahwa pemilihan merek dagang Gudang Baru bukan sebuah penjiplakan.

Majelis kasasi yang terdiri dari Hakim Agung, Valerina JL Kriekhoff yang memimpin panel, beserta anggota hakim agung, Soltoni Mohdally dan Abdurrahman bulat mengetuk palu. Dalilnya, para hakim melihat enggak ada persamaan bentuk, cara penempatan, apalagi persamaan bunyi atau similarity in sound antara Gudang Baru dan Gudang Garam.

Namun, bunyi putusan dalam hukum pidana berbeda. Dalam ranah pidana, Gudang Baru justru dinyatakan telah menjiplak merek dagang Gudang Garam. Karenanya, MA pun menolak peninjauan kembali (PK) yang diajukan Ali. Atas putusan itu, Ali Khosin pun dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh bulan.

Sebelum divonis penjara sepuluh bulan, sejatinya Ali telah melakukan berbagai perlawanan, secara perdata atau pun dalam ranah pidana. Di ranah perdata, Gudang Baru sebenarnya sempat dinyatakan menjiplak oleh Pengadilan Niaga PN Surabaya. Namun, di tingkat kasasi, Gudang Baru dinyatakan bebas dari tuduhan penjiplakan.

Sedangkan di ranah pidana, nasib Ali justru bertolak 180 derajat. Keputusan penjara buat Ali sejatinya sudah jatuh sebelum perkara ini sampai ke MA. Di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Jawa Timur, Ali divonis sepuluh tahun penjara. Vonis tersebut kemudian dikuatkan oleh putusan Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya. 

Usai putusan PT Surabaya dijatuhkan, Ali langsung mengajukan PK. Pertimbangannya, Ali yakin, putusan perdata yang menyatakan enggak ada penjiplakan yang dilakukan Gudang Baru bisa jadi modal penting. Namun, malang bagi Ali karena PK-nya justru ditolak. Hakim nyatanya enggak melihat putusan perdata Ali sebagai pertimbangan buat membebaskan Ali.


Infografis merek dan hak cipta (Yuswandi/era.id)

Garis berbayang

Hak merek adalah kata kunci dari persoalan yang membelit Gudang Baru dan Gudang Garam. Secara umum, hak merek telah digolongkan ke dalam bagian Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI), sebagaimana hak cipta dan hak paten. Namun, kita seringkali dibuat bingung oleh istilah-istilah tersebut. Imbasnya, banyak orang yang terjebak garis berbayang dalam jalur penegakan hukum terkait HAKI.

Padahal, pada prinsipnya setiap istilah telah diatur dalam UU yang berbeda. Hak merek misalnya diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek. Sedangkan aturan tentang hak cipta telah dituangkan dalam UU 28/2014 tentang Hak Cipta. Untuk hak paten, UU 14/2001 jadi tuntunannya.

Hak merek dapat didefinisikan sebagai komponen yang dapat dibuat untuk melindungi merek dagang atau jasa yang dimiliki. Maksud merek di sini bisa berarti logo, tagline, atau hal istimewa lain yang menjadi trademark dari sebuah produk barang atau jasa.

Lalu, hak cipta adalah hak eksklusif yang dimiliki seseorang atas segala hal yang menjadi ciptaannya. Sederhananya, hak cipta lah yang membuat nama John Lennon selalu tercantum setiap kali seseorang merekam dan mendistribusikan ulang lagu Imagine.

Sedangkan hak paten adalah pengukuhan dan pengakuan terhadap seseorang yang telah menemukan atau pun memproduksi sesuatu. Hak paten bekerja dengan cara yang sama dengan hak cipta. 

Tag: era mirip-mirip

Bagikan: