Pertanyaan tentang Pernyataan Amien Rais soal Partai Setan

Tim Editor

Politikus PAN, Dollu

Jakarta, era.id - Amien Rais, politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN) membuat pernyataan kontroversial soal dikotomi antara partai-partai politik yang ia sebut partai Allah dan partai setan. Pernyataan itu Amien sampaikan saat bertausiyah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/4).

Pernyataan Amien itu langsung memancing berbagai reaksi dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan partai politik. Memang sih, Amien enggak menyebut partai-partai mana saja yang ia golongkan sebagai partai setan. Yang jelas, selain PAN, hanya Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang ia sebut masuk golongan partai Allah.

Terkait itu, Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar, Dolly Kurnia mendesak Amien untuk mengungkap secara terang, partai-partai mana saja yang menurutnya tergolong sebagai partai setan. Menurut Dolly, hal itu penting untuk diungkap agar enggak ada prasangka buruk yang muncul.

Lebih lanjut, Dolly juga mengaitkan pernyataan Amien dengan pernyataan pengajar ilmu filsafat Universitas Indonesia (UI), Rocky Gerung soal fiksi dan fiktif yang juga sempat dipersoalkan banyak pihak. Menurut Dolly, pernyataan Amien adalah bentuk konkret dari pengertian fiktif yang sempat disinggung Rocky.

Baca: Memaknai Apa Itu Fiksi

"Agar tidak menjadi fiktif, saya kira Pak Amien harus menjelaskan lebih rinci siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang anti Tuhan dan partai mana pula yang beliau sebut sebagai partai besar yang masuk kategori partai setan," kata Dolly dalam keterangannya, Minggu (15/4/2018).

Politisasi Agama

Menanggapi polemik yang sama, Ketua Masjid Sunda Kelapa, Aksa Mahmud dengan tegas menolak politisasi yang dilakukan dari atas mimbar masjid. Menurutnya, amat tak elok menjadikan tepat ibadah sebagai sarana berpolitik.

"Dulu kencang orang pakai mimbar bicara politik menjelekkan orang, sekarang enggak boleh," tutur Aksa di Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (15/4/2018).

Selan itu, Aksa mengatakan, politik dalam agama Islam adalah politik yang bermartabat. Politik yang dikenal Islam, menurut Aksa adalah bagaimana membangun pemerintahan yang baik, yang lebih dari sekadar perebutan kekuasaan.

Hal itu disampaikan Aksa saat mendeklarasikan bergabungnya 106 organisasi remaja masjid dan komunitas pemuda Islam dari berbagai kota dalam Indonesia Islamic Youth Economic Forum (ISYEF).

Aksa juga meminta ISYEF tetap pada jalur dakwah tanpa muatan politisasi. "Saya berpesan jangan dibawa organisasi ini ke partai Politik," katanya.

Si ceriwis

Ini bukan pertama kalinya Amien bikin pernyataan yang memancing kehebohan. Beberapa waktu lalu, Amien juga sempat menyatakan bahwa program bagi-bagi sertifikat tanah yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai tipu-tipu belaka.

Pernyataan itu kemudian langsung dibalas oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim), Luhut Binsar Panjaitan. Lutuh bilang, Amien enggak boleh asal sebut untuk masalah semacam itu. 

"Ini pengibulan, waspada bagi-bagi sertifikat, bagi tanah sekian hektare, tetapi ketika 74 persen negeri ini dimiliki kelompok tertentu seolah dibiarkan. Ini apa-apaan?" kata Amien, di Bandung, Minggu (18/3).

Ceriwisnya Amien pun sempat diakui oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK) yang bahkan menyebut, "bukan Amien Rais kalau enggak mengkritik." 

Tag: politisasi agama amien rais pemilu 2019 flyover pancoran

Bagikan: