Menyoal Perkawinan Remaja

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Bantaeng, era.id - Fellas, di antara kamu sudah ada yang berencana menikah? Kalau iya, percepatlah seluruh perencanaannya. Jika belum, maka kamu harus lebih bersegera, sebelum keduluan dua pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bantaeng, Sulawesi Selatan yang sudah kebelet menikah.

Dua remaja hijau itu bahkan sempat mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Bantaeng buat mendaftarkan permohonan menikah. Namun, permohonan itu ditolak oleh pihak KUA. Bukan apa-apa, KUA beranggapan keduanya masih terlalu muda untuk menikah.

Namun, blanko N9 tanda penolakan permohonan yang diterbitkan KUA enggak menyurutkan langkah keduanya. Dengan bantuan keluarga, mereka mengajukan permohonan dispensasi ke Pengadilan Agama Bantaeng. Pengadilan Agama Bantaeng pun menerima permohonan tersebut, hingga KUA enggak berdaya menolak pernikahan dini itu.

Menurut kabar, alasan menikah keduanya adalah lantaran sang wanita belia berusia 14 tahun itu sering ketakutan lantaran tinggal sendirian di rumahnya. Ibunya sudah meninggal dunia, sedang ayahnya bekerja di luar kota, sehingga sangat jarang pulang ke rumah.

Risiko menikah muda

Pernikahan jelas merupakan hal yang sangat baik. Tapi, bukan tanpa risiko, apalagi jika dilakukan di usia yang teramat muda seperti dua remaja di Bantaeng yang enggak mungkin disebutkan identitasnya itu. Setidaknya, ada dua dampak yang sangat mungkin terjadi dalam pernikahan di usia yang kelewat muda.

Pertama, efek psikologis. Berdasar beberapa sumber, risiko disharmoni keluarga sangat besar terjadi dalam pernikahan pasangan berusia di bawah umur. Alasannya, tentu saja emosi yang belum stabil. Secara pemikiran, sudut pandang para remaja tentang kehidupan tentunya terbatas. Hal itu membuat pemikiran para remaja cenderung tak matang. Intinya, secara psikologis, tingkat kedewasaan seseorang sangat menentukan kelangsungan hubungan pernikahan.

Selain itu, depresi juga jadi faktor yang sangat mungkin terjadi pada pasangan yang menikah di usia terlalu muda. Pernikahan dini cenderung membuat pasangan-pasangan muda menarik diri dari pergaulan. Hal itu tentu berpotensi merusak kondisi mental mereka yang sejatinya masih membutuhkan begitu banyak interaksi sosial.

Dari sisi medis, Bidan Senior dari Poli Obsgyn Rumah Sakit Halim Perdanakusuma, Ratih Sumirat mengatakan, secara fisik, rahim perempuan dibawah usia 20 tahun belum cukup siap untuk mengandung. Selain itu, pada usia tersebut, perempuan dianggap belum memiliki postur tubuh yang ideal untuk melahirkan. Lebar panggul yang belum cukup seringkali menjadi kendala dalam proses persalinan.

"Secara postur saja kan kadang kita bisa lihat secara awam. Badannya masih kecil sekali tapi sudah hamil, sudah mengandung. Jangankan untuk yang di bawah umur ya, untuk mereka yang umurnya ideal saja terkadang masih terkendala dengan panggul yang kurang lebar atau bagaimana. Dan yang jelas, rahim pada usia-usia seperti itu (remaja) kan belum siap untuk proses mengandung," papar Ratih kepada era.id, Senin (16/4/2018).

Selain itu, perempuan yang hamil di masa remaja berisiko lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi dan preeklamsia dibanding mereka yang hamil di usia 20-30 tahun. Tekanan darah tinggi yang menyerang ibu dapat berpengaruh pada tumbuh kembang janin di dalam kandungan. Selain pada ibu, calon bayi juga menanggung bahaya.
 
Berbagai risiko dapat terjadi pada anak yang lahir dari rahim ibu yang terlalu muda. Remaja yang mengandung di bawah usia 18 tahun memang lebih berisiko untuk melahirkan bayi prematur dan mengalami komplikasi. Bayi yang lahir terutama sebelum 32 minggu akan dihadapkan pada risiko gangguan pernapasan, pencernaan, penglihatan, serta otak.

Belum lagi ancaman kanker. Pernikahan di usia terlalu muda disebut-sebut bakal meningkatkan risiko kanker leher rahim. Menurut penelitian, kehamilan di bawah usia 20 tahun sangat rentan dengan serangan kanker leher rahim. Pada usia tersebut, sel-sel leher rahim belum matang, apabila terpapar human papiloma virus atau HPV, pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi kanker.

Selain itu, kehamilan di usia terlalu muda dapat meningkatkan berbagai risiko kehamilan. Dalam sudut pandang keilmuan, usia ideal bagi seorang perempuan untuk hamil dan melahirkan berada di kisaran 20 sampai 35 tahun. Di usia itu, kasus-kasus prematuritas dan cacat bawaan --mulai dari cacat fisik hingga mental, termasuk kebutaan dan ketulian sangat besar terjadi.


Infografis (Rahmad/era.id)

Aturan hukum

Dasar hukum yang mengatur syarat menikah telah diatur di dalam Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam Pasal 7 UU tersebut, telah diatur sejumlah poin terkait syarat usia perkawinan, yakni: 

1. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

2. Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita.

3. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua tersebut dalam Pasal 6 ayat (3) dan (4) Undang-undang ini, berlaku juga dalam hal permintaan dispensasi tersebut ayat (2) pasal ini dengan tidak mengurangi yang dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6).

 
Dasar hukum di atas sejatinya pernah dibawa ke Mahkamah Konstitusi (MK). Pemohon, yaitu Yayasan Kesehatan Perempuan dan Koalisi Indonesia untuk Penghentian Perkawinan Anak menghendaki usia minimal perkawinan ditingkatkan, bukan lagi 16 tahun. Menurut mereka, terlalu banyak risiko yang mengancam anak-anak dalam pernikahan dini mereka.

Dalam uji materi itu, para pemohon turut menghadirkan tiga saksi ahli. Ahli pertama, konsultan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi dokter Julianto Witjaksono memaparkan, risiko kematian bagi kehamilan perempuan di usia 20 tahun jauh lebih besar. Berdasar data yang ia miliki, sebagian besar kematian dalam kehamilan dan persalinan di usia tersebut terjadi akibat pendarahan dan infeksi.

Ahli kedua, dokter Kartono Mohamad mengatakan, kehamilan dan kelahiran merupakan penyebab utama kematian remaja usia 15-19 tahun secara global. Bahkan, kehamilan pada usia remaja meningkatkan risiko kematian bagi ibu dan janinnya. Menurut mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) itu, risiko kematian bayi yang dilahirkan ibu berusia di bawah 20 tahun berisiko 50 persen lebih tinggi.

Menurut ahli lain, yakni anggota Dewan Pembina Yayasan Kesehatan Perempuan Indonesia, Saparinah Sadli menilai UU yang berlaku sangat merugikan kaum perempuan. Menurutnya, mengizinkan perempuan menikah di usia 16 tahun sama dengan melegalkan bentuk perkawinan yang salah.

Tag: perkawinan remaja

Bagikan: