Rini yang Hobi Rombak Direksi Pertamina

Tim Editor

Menteri BUMN Rini Soemarno (Ilustrasi Wildan/era.id)

Jakarta, era.id - Untuk kesekian kalinya, di bawah Menteri BUMN Rini Soemarno, jajaran Direksi Pertamina dirombak. Yang terbaru adalah pencopotan Elia Massa dari posisi Direktur Utama pada Jumat (20/4) lalu.

Bukan cuma Elia yang kena rombak. Ada juga Muchamad Iskandar (Direktur Pemasaran Ritel), Toharso (Direktur Pengolahan), Dwi Wahyu Daryoto (Direktur Manajemen Aset), dan Ardhy N. Mokobombang (Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia) yang dicopot dari jabatannya.

Nama-nama itu kemudian diganti oleh Nicke Widyawati sebagai Plt Direktur Utama sekaligus Direktur SDM, Budi Santoso Syarif (Direktur Pengolahan), Basuki Trikora Putra (Direktur Pemasaran Korporasi), Mas'ud Khamid (Direktur Pemasaran Retail), M Haryo Junianto (Direktur Manajemen Aset), Heru Setiawan (Direktur MPP) dan Gandhi Sriwidjojo (Direktur Infrastruktur).

Sekadar informasi, bukan kali ini aja jajaran direksi Pertamina dirombak oleh Rini. Tim riset kami menemukan fakta menarik kalau Rini cukup sering merombak direksi Pertamina.

28 November 2014, Rini menunjuk Dwi Soetjipto sebagai direktur utama PT Pertamina. Dwi sebelumnya adalah Dirut Semen Indonesia. Saat itu, pesaing Dwi adalah Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia Sofyan Basir dan Dirut General Electrik (GE) Indonesia Handry Satriago. Sofyan Basir belakangan kita ketahui kini duduk manis sebagai Dirut PLN.

Dua tahun kemudian, 20 Oktober 2016, Rini menunjuk Ahmad Bambang sebagai Wakil Direktur Pertamina untuk mendampingi Dwi Soetjipto. Namun 3 Februari 2017, kurang dari empat bulan, Dwi dan Ahmad dicopot oleh Rini. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Pertamina menunjuk Yenni Andayani sebagai Plt Dirut.

"Dalam satu struktur tidak berjalan sesuai dengan intensi struktur itu karena kecocokan dari manusianya," ujar Komisaris Utama Pertamina Tanri Abeng saat itu.


Infografis perombakan di Pertamina (Wildan/era.id)

Kemudian Rini menunjuk Elia Massa Manik sebagai Direktur Utama Pertamina pada 16 Maret 2017. Penunjukan Elia Massa selaku Dirut Pertamina itu dituangkan dalam Salinan Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Selaku Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pertamina nomor : SK-52/MBU/03/2017, tentang Pengangkatan Direktur Utama PT Pertamina.

Elia Massa saat itu dipuji karena dianggap dapat memenuhi kebutuhan Pertamina dalam menjaga soliditas sebagai perusahaan energi nasional. Penunjukan Elia Massa juga didasarkan pada kinerjanya selama menjabat sebagai Dirut PT Perkabunan Negara (PTPN) III, sejak 13 April 2016 lalu.

"Dalam kurun waktu 2016-Maret 2017, Elia telah melakukan Holding perkebunan dengan membenahi aspek operasional, finansial, teknologi & SDM (Sumber Daya Manusia). Sejalan dengan langkah tersebut, hingga Februari 2017 PTPN III Holding memperoleh capaian laba sebesar Rp193 miliar yang bersumber dari laba 8 PTPN," tulis siaran pers Kementerian BUMN saat itu menanggapi penunjukan Elia.

Baru lima bulan, Rini melakukan perombakan jajaran direksi dan nomenklatur Pertamina. Rini memberhentikan Gigih Prakoso dari Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko dan Arhdy N Mokobombang dari Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia

9 Februari 2018, Rini kembali mengganti direksi. Dalam RUPS, mengubah nomenklatur berupa perubahan Direktur Pemasaran menjadi Direktur Pemasaran Ritel. Penambahan posisi baru yaitu, Direktur Pemasaran Korporat dan Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur, serta menghapus Direktur Gas.

Kebiasaan Rini yang sering gonta-ganti direksi Pertamina mendapat kritik keras dari bekas staf khusus Menteri ESDM, Muhammad Said Didu. Kata Didu, ada efek besar dari seringnya merombak perusahaan sekelas Pertamina. Ke depan, akan sulit mendapatkan profesional yang murni untuk bikin perusahaan ini sehat.

"Yang bisa bertahan adalah orang yang bunglon, orang yang mengikuti kemauan atasan saja," kata Didu kepada era.id, Jumat (27/4/2018).

Yang parahnya lagi, kondisi ini bisa dengan mudah dimanfaatkan mafia minyak yang terkenal ganas. Apalagi pergantian seringkali tidak dibarengi dengan indikator penilaian yang jelas.

"Para mafia merasa punya peluang untuk mempengaruhi kalau dia dihalangi oleh direksi," lanjut Didu.

"Tidak sehat, sama sekali tidak sehat. (Cara tersebut) menghancurkan Pertamina," tandasnya.

Baca Juga : Beredar Rekaman Percakapan 2 orang Bahas Fee Proyek

Tag: rini soemarno pertamina bumn

Bagikan: