Bangkrut, Cambridge Analytica Ditutup

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Masih ingat dengan firma analisis data Cambridge Analytica yang dimiliki oleh Aleksandr Kogan. Setelah kasus kebocoran data pengguna Facebook terungkap, perusahaan yang bergerak di jasa konsultan politik dan pemasaran media ini dikabarkan tutup.
 
Dilansir dari Reuters, Kamis (3/5/2018) Cambridge Analytica dikabarkan tutup bersama induk perusahaan SCL Group (Strategic Communication Laboratories). Hal tersebut disampaikan oleh manajer perusahaan dalam laporan Wall Street Jurnal.
 
Kendati demikian belum ada keterangan lebih lanjut mengenai rencana ditutupnya perusahaan konsultan yang turut membantu Donald Trump memenangkan Pemilu Amerika Serikat pada tahun 2016 itu.
Menurut laporan harian Amerika Serikat The New York Times, Cambridge Analytica didirikan di tahun 2013, dengan fokus pemilihan presiden di Amerika Serikat, dengan dana $ 20 juta (sekitar Rp 40 miliar) dari donor besar Partai Republik Robert Mercer.
 
Dalam kasus kebocoran data Facebook, Cambridge Analytica diduga memanen data pengguna Facebook melalui aplikasi kuis #thisisyourdigitallife. Diperkirakan 87 juta data pengguna Facebook telah bocor dan dimanfaatkan untuk kepentingan kampanye politik.


 
Tak cuma Facebook, Cambridge Analytica juga diketahui sempat memiliki akses terhadap pengguna microbloging Twitter. Jumlah akses data yang dimilikinya dari Twitter juga diperkirakan tidak sedikit.

Baca Juga: Facebook Resmi Batasi Akses Pihak Ketiga
 
Hal itu diungkapkan Twitter yang diketahui pernah menjual akses data miliknya itu ke Global Science Research (GSR). Aleksandr Kogan mendapat akses terhadap data mengenai unggahan di Twitter lewat firma buatannya bernama Global Science Research (GSR). Akses tersebut memungkinkan GSR untuk menjangkau seluruh unggahan dalam periode tertentu dalam sehari pada 2015 lalu.
 
"Pada 2015, GSR mendapatkan akses API selama satu hari terhadap sampel acak dari kicauan para user yang dilakukan pada periode Desember 2014 hingga April 2015," ujar Twitter.
 
"Berdasarkan laporan terkini, kami telah melakukan penyelidikan internal dan tidak menemukan data sensitif dari user yang diakses (oleh GSR)," lanjutnya, kutip era.id dari Bloomberg, Rabu (2/4).

Tag: facebook kebocoran data

Bagikan: