Toleransi Beragama antara Masjid dan Gereja di Tanjung Priok

Tim Editor

Masjid Al Muqarrabien dan GMIST Mahanaim, Jalan Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Diah/era.id)

Jakarta, era.id - Kalau ingin melihat bentuk toleransi beragama, kamu bisa datang ke Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud (GMIST) Mahanaim, Jalan Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kedua tempat ibadah ini letaknya bersebelahan dan cuma dibatasi tembok setinggi satu meter dengan disambung pagar di atasnya.

Pengurus dan jemaah dua rumah ibadah ini pun bisa saling berinteraksi dengan mudah. Bahkan, pengurus kedua tempat ibadah ini sangat akrab dan saling menghargai perbedaan satu sama lain.

"Sejak 50 tahun yang lalu, Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Mahanaim selalu harmonis. Tidak ada pernah konflik apa-apa dengan gereja, karena kami mengikuti ajaran agama," ujar pengurus Masjid Al Muqarrabien, Asyiah saat ditemui era.id, Selasa (22/5/2018).

Asyiah selalu mengingat ucapaan salah satu pendiri masjid yang berpesan jangan sampai ada keributan atau konflik antara masjid dengan gereja ini. 

Nah, kalau kamu datang ke tempat ini saat Ramadan, toleransi antar umat beragama bakalan kentara. Di sini, pihak gereja sering memberi takjil untuk jemaah masjid berbuka puasa. 

"Biasanya, saat bulan puasa ini mereka (pengurus gereja) memberi takjil kepada kita. Biasanya berkala, minggu pertama, kemudian minggu kedua, lalu minggu ketiga. Makanannya kadang kolak, es buah, kue, gorengan, dan makanan berbuka puasa lainnya," kata Asyiah.


Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud (GMIST) Mahanaim, Jalan Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Selain itu, Aisyah punya satu cerita yang diingatnya tentang toleransi antar kedua rumah ibadah ini. Pernah suatu ketika ada kegiatan agama antara Islam dan Kristen yang waktunya berbarengan. 

Saat itu, umat Islam merayakan Idul Adha yang jatuh pada hari Minggu. Nah, untuk menjunjung toleransi, pihak gereja memilih mengundur waktu ibadah paginya demi pelaksanaan kegiatan salat Idul Adha itu.

Tidak hanya itu, kedua tempat ibadah ini pun juga saling menyediakan lahan parkir jika salah satunya sedang melaksanakan kegiatan ibadah hari rayanya. 

"Misalnya, saat Natal, Tahun Baru, kalau mereka parkir bisa di halaman masjid. Begitupun saat hari raya, jemaah masjid dibolehkan parkir di dalam gereja," lanjutnya.

Soal komunikasi antar keduanya, jangan ditanya. Asyiah menyebut pengurus masjid dan gereja ini juga kerap bersilaturahmi. Ini pula yang membuat dua umat beragama ini kompak.

"Pernah juga kami, pengurus masjid dan gereja makan bersama, bersilaturahmi. Kami menyediakan makanan dan mereka memberikan mukena dan sarung kepada pengurus masjid," tutur Asyiah.

Tag: jaga toleransi eramadan

Bagikan: