Trump, Kenapa Harus Ada Pembatas di Antara Perdamaian?

Tim Editor

Yin dan Yang (Abid Farhan Jihandoyo/era.id)

Jakarta, era.id - Donald Trump resmi membatalkan pertemuannya dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Bukan saja mengecewakan, tapi juga membuat sosok Presiden Amerika Serikat itu makin kokoh bertengger di papan atas jajaran orang-orang paling menyebalkan di dunia.

Bagaimana enggak. Jelas, kelakuan Trump membatalkan pertemuan ini bakal berdampak pada upaya-upaya perdamaian yang baru saja dijajaki oleh kedua negara, plus Korea Selatan yang selalu jadi buntut Amerika Serikat. 

Gilanya, Trump bukannya enggak sadar manuver yang ia lakukan ini bakal berdampak pada perdamaian dunia secara keseluruhan. Trump, lewat akun Twitter bercentang biru @Realdonaldtrump sempat berkicau, mengungkapkan sebuah kalimat yang rasanya sangat aneh.

"Saya telah memutuskan untuk mengakhiri KTT yang direncanakan di Singapura pada 12 Juni. Meskipun banyak hal dapat terjadi dan peluang besar ada di depan, saya yakin ini adalah kemunduran yang luar biasa bagi Korea Utara dan memang kemunduran bagi dunia."

Trump memang menyebalkan, manuvernya sungguh enggak masuk akal. Apalagi jika kita melihat alasan Trump membatalkan pertemuan ini: tak terima Wakil Presiden Mike Pence disebut dungu oleh pejabat tinggi Korea Utara.

Korea Utara tetap santai

Pascapembatalan pertemuan tersebut, Korea Utara enggak terpancing. Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara, Kim Kye Gwan mengatakan, negaranya menghargai keputusan Trump dan menyatakan akan tetap membuka diri andai Amerika Serikat ingin kembali menjalin dialog.

"Kami (sebelumnya) sangat menghormati upaya Presiden Trump (untuk bertemu Kim Jong Un). Belum pernah dilakukan oleh presiden sebelumnya untuk membuat rencana pertemuan bersejarah Korut-Amerika Serikat," kata Kim Kye Gwan sebagaimana dikutip dari kantor berita Korea Utara, KCNA.

"Kami memberitahukan kepada Amerika Serikat sekali lagi bahwa kami terbuka untuk menyelesaikan masalah kapan saja dan dengan cara apa saja," tambahnya.  

Korea Utara memang nampak lebih serius untuk meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat. Kabar terbaru, Korea Utara mengaku telah menghancurkan tiga terowongan nuklir di lokasi uji coba nuklir Punggye-ri, Provinsi Hamgyong Utar.

Saking seriusnya Korea Utara, mereka sampai-sampai mengundang sejumlah wartawan internasional untuk melihat langsung proses denuklirisasi itu. Tapi, apa mau dikata. Trump nampaknya lebih suka memagari ruang damai di antara dua negara.

Sejumlah pihak juga telah bereaksi terkait ini. Sejumlah ahli diplomasi dan pakar politik internasional seperti satu suara menyebut manuver Trump sebagai pertaruhan terhadap perdamaian di Semenanjung Korea yang tentunya akan memengaruhi situasi damai banyak negeri di dunia.

Trump dan pagar pembatas perdamaian

Trump memang kelihatannya gemar membatasi diri. Dia lebih suka jika gap-gap yang memustahilkan terwujudnya perdamaian antarmanusia itu berdiri tegak. Entah apa alasan Trump. Yang jelas, Trump memang gemar mendirikan pagar pembatas, baik secara harfiah atau pun kiasan.

Lihat saja caranya menyikapi imigran Meksiko yang kerap mondar-mandir, keluar masuk negaranya. Enggak berapa lama setelah dirinya disahkan jadi presiden, Trump langsung membangun wacana pendirian tembok di perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko.

Trump berdalih, pembangunan tembok dilakukan sebagai cara untuk menghentikan penyelundupan obat-obat terlarang dari Meksiko. "Kita membutuhkan tembok tersebut untuk membantu menghentikan banyaknya obat-obatan terlarang yang masuk (ke AS) dari Meksiko," tulis Trump melalui akun Twitter pribadinya.

Selain itu, Trump juga menyebut Meksiko sebagai negara paling berbahaya di dunia, sehingga pembangunan tembok ia yakini dapat menjadi solusi untuk melindungi warga Amerika Serikat dari bahaya-bahaya yang muncul dari Meksiko.

Terakhir, Menteri Luar Negeri Meksiko, Luis Viegaray telah merespons sikap Trump dengan menolak membiayai pembangunan tembok pembatas sebagaimana yang Trump inginkan. Selain itu, Viegaray juga menyangkal pernyataan Trump terkait Meksiko yang disebut sebagai negara paling berbahaya di dunia.
 
"Meski Meksiko memiliki masalah kekerasan yang signifikan, sangat salah jika mengatakan Meksiko merupakan negara paling berbahaya di dunia," kata Viegaray sebagaimana dilansir Independent, Januari lalu.

Selain menjauhkan angan perdamaian di Semenanjung Korea, Trump juga jadi biang kerok memanasnya situasi antara Israel dan Palestina, setelah dirinya memutuskan untuk memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Status Yerusalem memang jadi salah satu rintangan paling rumit dalam upaya perdamaian antara Israel dan Palestina. Maka, reaksi keras yang muncul dari kebijakan Trump ini pun jadi hal yang enggak mengherankan.

Pada hari Amerika Serikat meresmikan kedutaannya di Yerusalem, tentara Israel menembaki 60 warga Palestina yang terlibat dalam rangkaian unjuk rasa di perbatasan Gaza hingga tewas. Peristiwa itu pun menjadi tragedi paling berdarah di Gaza sejak perang dengan Israel pada 2014.

Jadi, kenapa pagar pembatas perdamaian harus dibiarkan ada? Jelas-jelas perdamaian adalah akar dari keseimbangan semesta raya.

Tag: donald trump memukau amerika serikat korea utara konflik korea israel-palestina

Bagikan: