Kisah Bung Karno yang Mencari Keislamannya

Tim Editor

Soekarno tengah salat di Islamic Centre, Washington DC, Amerika Serikat. (Foto: Common Wikimedia)

Jakarta, era.id - Islam selalu punya tempat di hati Proklamator Indonesia Soekarno. Presiden pertama Indonesia yang akrab disapa Bung Karno itu ternyata lahir dari dua orang tua yang berbeda keyakinan. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah seorang bangsawan Hindu dari kasta Brahmana. Sementara ayahnya seorang Jawa Muslim.

Perbedaan agama di tengah keluarganya menggambarkan bahwa Bung Karno bukanlah sosok penganut Islam keturunan. Dalam menentukan Islam sebagai agamanya, Bung Karno mempelajarinya dari beberapa tokoh.

Cendikiawan Balai Pustaka, Hamid Basyaib menceritakan dalam menemukan cahaya Islam, Bung Karno berguru dengan dua tokoh nasionalis penentang kolonialisme yakni Jamaludin Al-Afgani dan Muhammad Abduh. Jamaludin merupakan seorang tokoh Islam fundamentalis, ia juga dikenal sebagai tokoh Islam penentang kolonialisme. 

Adapun Muhammad Abduh, merupakan syeikh--guru besar--asal Mesir. Muhammad Abduh sempat diusir dari Mesir karena dinilai liberal. Ia kemudian pindah ke Paris, dan mempelajari Islam di sana. Dengan keilmuan yang dimiliki, Abduh dipanggil kembali untuk dijadikan salah satu grand syeikh di salah universitas di Mesir. Dari Abduh ini, Bung Karno hanya mengambil ilmu-ilmu fikih yang dimilikinya.

Baca Juga : Soekarno, Ende Dan Pohon Sukun

Dari dua guru itu, Bung Karno berusaha mencari ilmu-ilmu yang dapat diterapkan di Indonesia. Di mana saat itu tantangannya adalah menerapkan Islam yang modern dan mengikuti zaman.

"Intinya, bagaimana mencari benih-benih rasionalisme dalam agama. Itu yang dibidik dari Abduh. Abduh sendiri di duga mencapai ide rasionalisme agama di Paris. Dia menyimpulkan ilmu dan teknologi akan mengalahkan agama, makanya mulai dicarilah korelasinya, supaya Islam selamat," jelas Hamid dalam Acara diskusi Wawasan Keislaman Bung Karno di Mega Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (6/6/2018).

Hamid menerangkan, dalam memparalelkan agama dengan kemodernan bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, saat itu muslim Indonesia cenderung konvesional dan masih mempercayai para leluhurnya. Bahkan, karena membawa pemahaman baru, Bung Karno sempat di cap liberal oleh sejumlah pihak saat itu.

Baca Juga : Bung Karno dan Islam Berkemajuan

"Jadi Bung Karno apakah berhasil memparalelkan kemoderenan dengan prinsip agama? Itu soal lain. Itu tidak mudah. Ditambah lagi kemudian dia menjadi politisi maka semakin tidak mudah. Karena harus menghormati dan menjaga kestabilan," ungkapnya.

Kerangka pemikiran Islam Soekarno

Sejarahwan, Bonnie Triyana menambahkan, dalam mengembangkan Islam di Indonesia, berdasarkan fakta sejarah yang dihimpunnya, Bung Karno memiliki tiga kerangka pemikiran.

Pertama, Bung Karno berusaha menekankan persamaan derajat seseorang. Bonnie bercerita, Bung Karno sangat kesal dengan gelar penghormatan semacam habib. Menurutnya hal tersebut tidak menggambarkan persamaan, dan Islam tidak mengajarkan hal itu.

"Islam menekankan persamaan. Bung Karno sangat sebel dengan pengkramatan orang. Sama gak sih kayak habib? Sama. Enggak boleh ada orang megang sayyid (yang terhormat) karena itu salah satu pintu terbitnya taqlid (mengikuti pendapat orang lain tanpa tahu kebenaran sumbernya)," ungkap Bonnie.

Baca Juga : Intisari Islam dari Bung Karno untuk Indonesia

Berdasarkan apa yang dipelajari Bonnie, Bung Karno menekankan tidak ada selain Islam, agama yang lebih sederhana dan rasional. Di mana Islam mengajarkan ajaran yang mudah dipahami dan diterapkan oleh pengikutnya.

Selain itu, dalam Bung Karno juga meyakini Islam itu berarti kemajuan, oleh karenanya Bung Karno menentang paham khilafah saat awal-awal Indonesia berdiri, karena khilafah akan membawa pada kemunduran.

Tag: megawati soekarnoputri forum umat islam eramadan

Bagikan: