Mengenal Stockholm Syndrome Relationship, Mungkinkah Lesti Terjebak dalam Kondisi Ini?

ERA.id - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami oleh Lesti Kejora masih jadi sorotan. Terbaru, Lesti mencabut laporan polisi yang ditujukan kepada Rizky Billar yang tidak lain adalah suami sekaligus pelaku KDRT. Mungkinkah tindakan Lesti ini berhubungan dengan stockholm syndrome relationship?

Ilustrasi toxic relationship (unsplash)

Stockholm syndrome merupakan kondisi psikologis saat seorang korban pelecehan atau penculikan melekat atau terikat secara positif dengan pelakunya. Awalnya, pengamatan terhadap sindrom ini dilakukan saat korban penculikan tidak hanya terikat dengan penculiknya, tetapi bahkan jatuh cinta dengan penculik tersebut. Para ahli kemudian memperluas definisi sindrom ini ke ranah hubungan apa pun, dikutip Era dari GoodTherapy.

Stockholm Syndrome Relationship dan Tanda-tandanya

Stockholm syndrome mendapatkan perluasan definisi dengan memasukkan hubungan apa pun yang kondisinya berupa para korban pelecehan mengembangkan keterikatan yang kuat dan setia terhadap pelaku pelecehan.

Sindrom ini bisa terjadi pada siapa pun. Beberapa kelompok orang yang bisa terjebak dengan kondisi ini antara lain tahanan kamp konsentrasi, tawanan perang, anak-anak korban pelecehan, penyintas inses, korban KDRT, anggota sekte, dan orang-orang di lingkungan buruk (toxic).

Mungkin lebih mudah jika menyebut stockholm syndrome sebagai strategi bertahan hidup bagi para korban. Itu karena tampaknya tindakan yang dilakukan oleh para korban bisa meningkatkan peluang bertahan hidup para korban.

Selain itu, tindakan ini diyakini menjadi taktik yang dibutuhkan untuk membela diri, baik secara psikologis maupun fisik, terhadap pengalaman hubungan yang buruk, kasar, toxic, mengekang, dan terlalu mengendalikan. Stockholm syndrome relationship kerap ditemui dalam toxic relationship yang di dalamnya terdapat perbedaan kekuatan, misalnya antara orang tua dan anak atau pemimpin spiritual dengan para pengikutnya. Berikut adalah beberapa tanda stockholm syndrome.

·    Memberikan penghormatan positif terhadap pelaku pelecehan atau penculik.

·    Kegagalan bekerja sama dengan polisi dan otoritas pemerintah lain dalam meminta pertanggungjawaban pelaku pelecehan atau penculikan.

·    Sedikit atau bahkan tidak ada usaha untuk melarikan diri.

·    Keyakinan terhadap kebaikan pelaku pelecehan atau penculik.

·    Ketenangan para pelaku atau penculik. Ini menjadi strategi manipulatif untuk menjaga keselamatan seseorang. Saat korban mendapatkan imbalan—misalnya mengurangi pelecehan atau bahkan “kehidupan” itu sendiri—perilaku menenangkan pelaku diperkuat.

·    Ketidakberdayaan yang dipelajari. Karena korban gagal melarikan diri dari pelecehan atau penahanan, korban mungkin mulai menyerah dan segera menyadari bahwa lebih mudah jika mereka menyerahkan semua dayanya kepada si pelaku atau penculik.

·    Perasaan kasihan terhadap pelaku dengan berpikiran bahwa si pelaku sebenarnya adalah korban. Oleh sebab itu, para korban bisa melakukan “Perang Salib” atau misi “menyelamatkan” si pelaku.

·    Keengganan untuk belajar melepaskan diri dari pelaku dan menyembuhkan diri. Pada dasarnya, korban mungkin cenderung kurang loyal kepada diri sendiri dibandingkan kepada pelaku pelecehan atau penculikan.

Sindrom ini bisa mengancam siapa saja. Sebagian orang dengan latar belakang kekerasan mungkin lebih berisiko terpengaruh, misalnya orang-orang dengan masa kecil yang keras. Namun tetap, setiap orang bisa menjadi korban.

Satu contoh mudah dari stockholm syndrome relationship adalah seseorang yang dihajar hingga babak belur oleh pasangannya. Tak sedikit, atau bahkan banyak, si korban tak mau mengajukan tuntutan atau meminta perintah penahanan. Salah satu alasan yang mungkin muncul adalah, “Aku masih mencintainya.

Faktor Pendukung Stockholm Syndrome

Stockholm syndrome relationship terjadi saat suatu dinamika terjadi dalam keadaan tertentu. Berikut adalah beberapa hal yang bisa menyebabkan atau mengembangkan stockholm syndrome relationship.

·    Ketika korban pelecehan percaya bahwa ada ancaman terhadap kelangsungan hidup fisik atau psikologisnya. Korban juga percaya bahwa pelakunya akan melakukan ancaman tersebut.

·    Ketika korban penculikan mendapat perlakuan manusiawi atau dibiarkan hidup, mereka sering bersyukur dan menghubungkan dengan kebaikan dari si penculik atau pelaku pelecehan. Korban kemudian yakin bahwa pelaku atau pelaku memang orang baik.

·    Perilaku baik/buruk yang terputus-putus bisa menciptakan ikatan trauma. Stockholm syndrome merupakan bentuk ikatan trauma di mana para korban semacam "menunggu" perilaku buruk demi mendapatkan sedikit perilaku baik dari pelaku.

Korban diisolasi dari orang lain. Saat seseorang berada dalam kondisi yang keras, misalnya penculikan, akses dan komunikasi dari luar terbatas, atau bahkan tidak ada. Akhirnya, hanya pengaruh dari pelaku yang bisa masuk.