(Hold Indra) Seberapa Kuat Sinyal KPU Jangkau Milenial

Jakarta, era.id - Generasi milenial menjadi penentu kemenangan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018. Demografi pemilih di agenda politik tahun 2018 tersebut diprediksi akan didominasi oleh anak muda.

Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebutkan proporsi pemilih generasi milenial akan mencangkup 55 persen dari total Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 sebanyak 192 juta jiwa pemilih.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai inisiator Pilkada 2018 tentunya harus bereaksi terhadap survei tersebut. Mengingat agenda pemilihan kepala daerah berdekatan dengan jadwal Pilpres 2019, survei SMRC bisa disikapi KPU terkait ambang batas pemilih muda pada Pilkada 2018.

Berkaca pada partisipasi anak muda pada agenda politik sebelumnya, KPU semestinya juga mampu melampaui jumlah pemilih milenial pada Pilkada 2015 dan 2017. Kondisi itu perlu ditangkap KPU mengingat besarnya anggaran Pilkada 2018 senilai Rp15,2 triliun. 

Tercapainya ambang batas generasi milenial pada Pilkada 2018 tentunya memerlukan upaya lebih dari KPU. Strategi menjaring generasi milenial agar datang dan memilih di bilik suara yang dilakukan KPU diharapkan banyak pihak berjalan maksimal.

Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengungkapkan KPU perlu melakukan sosialisasi masif untuk menggaet generasi milenial. Pekerjaan rumah KPU tersebut tidak bisa lagi menggunakan cara-cara konvensional yang pernah dilakukan dalam pilkada sebelumnya.

Titi menuturkan, ketertarikan generasi milenial untuk memenuhi kantong suara Pilkada 2018 dapat dilakukan melalui pola komunikasi dan medium yang akrab di indera mereka. 

Misalnya, ketika melakukan komunikasi persuasif, KPU harus afektif kepada milenial. Afektif dalam hal ini KPU semestinya memperoleh informasi terkait ketidaktahuan anak muda terlebih dahulu sehingga ketika milenial merespon tentang informasi Pilkada menjadi mengerti dan tergugah.  

Tak ada lagi komunikasi satu arah yang diterapkan KPU kepada pemilih agar mereka tertarik datang ke bilik suara. Strategi tersebut dirasanya sudah lawas, tak mampu lagi diterapkan kepada milenial. 

"Jadi pendekatan sosialisasi KPU tidak bisa berbasis ceramah. Tidak bisa berbasis satu arah. Harus menggunakan pola medium yang disukai oleh kelompok muda," kata Titi kepada era.id.

Titi menjelaskan perihal medium yang patut dipakai KPU. Dia menilai milenial memiliki kecenderungan menyukai kegiatan yang sesuai dengan karakter anak muda dan bersifat kolektif, seperti perlombaan, kelompok permainan (peer group) dan kelompok hobi. Dalam catatanya, ceramah, talkshow dan seminar sebaiknya ditinggalkan KPU dalam sosialisasi kepada milenial.

"Kelompok-kelompok hobi itu, hobi olahraga; basket, sepak bola, seni musik itu juga bisa digaet. Jadi intinya itu strategi komunikasi dan sosialisasi enggak boleh membosankan," lanjutnya. 

Segmentasi demografi dari Pilkada 2018 yang mencangkup 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten menjadi unsur terakhir yang patut diperhatikan KPU. Segmentasi itu terbagi tiga, milenial perkotaan, milenial wilayah rural, dan yang terakhir milenial wilayah urban.  

"Kalau urban salah satu acara musik dan hobi, sementara karang taruna kalau di desa-desa kemudian kelompok remaja masjid juga bisa," terang Titi.

Media sosial

Riset yang dilakukan aplikasi media sosial berlandaskan lokasi, Yogrt, menyebutkan teknologi digital kini menjadi sumber informasi utama generasi milenial. 

Data Yogrt menjelaskan media sosial menempati urutan teratas dari tiga asal infomasi yang diakses generasi milenial. Persentasenya meliputi 79 persen untuk media sosial, 56 persen untuk televisi, dan disusul situs berita yang diakses melalui url sebanyak 34 persen. 

Faktanya media sosial memang menjadi identitas baru generasi milenial lantaran kepemilikan informasi dapat berpengaruh pada posisi dan status anak muda di ruang publik. Secara tidak langsung, karena kebutuhan akan informasi, anak muda yang lahir antara tahun 1980 dan 2000 menjadi melek akan situasi.

Celah itu selayaknya dimanfaatkan KPU untuk menjaring generasi milenial agar aktif dan hadir dalam Pilkada 2018. Direktur Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang menyepakati hal tersebut. KPU dinilainya tak perlu cemas memilah corong mana sosialisasi Pilkada 2018 disalurkan.

"Enggak usah khawatir dengan anak milineal sekarang. Anak sekarang (milenial) itu sangat melek teknologi, melek informasi, lewat media sosial. Jadi dengan caranya mereka akan mendapatkan infomasi," kata Salang.

Lebih lanjut, Titi menuturkan agar KPU memahami konten atau konsep yang dituturkan untuk menggapai generasi milenial di media sosial. Pasalnya konten adalah elemen penting. Konten informasi Pilkada 2018 yang dikerjakan menarik merupakan cara cemerlang meningkatkan keterlibatan dan jangkauan generasi milenial.

Atas dasar itu KPU patut mengikuti perkembangan zaman terkait konten yang diarahkan kepada generasi milenial. Titi menilai, media sosial adalah cara murah dengan manfaat yang besar.

"Maka penyelenggara pemilu jangan ketinggalan jaman, jangan pasif, masa media sosial penyelenggara pemilu tidak aktif? Padahal media sosial relatif daya jangkauanya luas, dinamis, fleksibel dan murah kan," terang Titi.

Apakah anggaran Pilkada 2018 senilai Rp15,2 triliun dapat dimanfaatkan dengan maksimal oleh KPU? Menyorot prosesnya, mari kita lihat seberapa kuat sinyal KPU menjangkau pemilih milenial. 

Sumber: 

Sebastian Salang

Enggak usah khawatir dengan anak milineal sekarang. Anak sekarang (milenial) itu sangat melek teknologi, melek informasi, lewat media sosial. Jadi dengan caranya mereka akan mendapatkan infomasi

Generasi milinel adalah generasi yang paling otonom (kelompok sosial yang memiliki hak dan kekuasaan menentukan arah tindakannya sendiri). Generasi yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapa-siapa pun. Jadi, mereka itu memilih orang berdasarkan harapan. Kalau mereka menemukan harapan pada calon itu ya mereka akan pilih.

Ya kan presiden Jokowi sudah memutuskan melalui Kepres agar semua daerah itu menggunakan sistem ebudgeting, nah dengan sistem itu ada penambahan perbaikan sistem di daerah. Kita berharap betul kepala daerah yang terpilih nanti mereka serius memanfaatkan ebugeting itu dan dikontrol dengan baik.

Anak muda itu kan sukannya perlombaan, sukanya teknologi, lalu juga kegiatan-kegiatan yang kolektif. Pendekatan itu juga bisa digunakan untuk basis-basis kelompok atau istilahnya peer groub, misalnya kelompok permainan, kelompok hobi yang menjangkau anak muda.

Titi Anggraini:

Jadi pendekatan sosialisasi KPU tidak bisa berbasis ceramah. Tidak bisa berbasis satu arah. Harus menggunakan pola medium yang disukai oleh kelompok muda.

Anak muda itu kan sukannya perlombaan, sukanya teknologi, lalu juga kegiatan-kegiatan yang kolektif. Pendekatan itu juga bisa digunakan untuk basis-basis kelompok atau istilahnya peer groub, misalnya kelompok permainan, kelompok hobi yang menjangkau anak muda.

Kalau urban salah satu acara musik dan hobi, sementara karang taruna kalau di desa-desa kemudian kelompok remaja masjid juga bisa, jadi yang didekati itu kelompok berbasis permainan (kesukaan). Tentu juga dengan muatan-muatan pesan yang sesuai dengan gaya komuikasi anak muda. 

Enggak bisa lagi tuh pendekatannya seperti seminar, talkshow, istilahnya itu yang sekedar mengandalkan komunikasi satu arah udah enggak bisa ke anaka muda.

Menurut saya kelompok-kelompok hobi itu, hobi olahraga; basket, sepak bola, seni musik itu juga bisa digaet. Jadi intinya itu strategi komunikasi dan sosialisasi enggak boleh membosankan. 

Kelompok muda ini kan segmentasinya berbeda, ada kelompok muda perkotaan, ada kelompok muda di wilayah rural, ada yang di wilayah urban, nah itu harus didekati dengan pola medium dan komunikasi yang cocok dengan masing-masing komunitas.

 

Tag: