Mengintip Filosofi Paes Ageng Kanigaran dari Yogyakarta

ERA.id - Dalam pernikahan dengan adat Jawa, salah satu yang jadi panutan adalah konsep paes ageng kanigaran yang mampu memberikan kesan megah. Dalam resepsi pernikahan adat Jawa, tata cara yang dijalankan sarat akan makna dan estetika.

Paes ageng kanigaran dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu konsep yang jadi favorit untuk digunakan. Dahulu, ini merupakan konsep yang hanya digunakan oleh kerabat kerajaan.

Namun, pada masa Sultan Hamengkubuwono IX, kebebasan diberikan kepada masyarakat luas untuk menggunakan konsep ini saat menggelar resepsi pernikahan. Keluhuran dari konsep ini tidak hanya berasal dari tampilan, tetapi yang paling mudah terlihat memang bagian riasan dan busana.

Mengintip Filosofi Paes Ageng Kanigaran dari DIY

Kirab Pernikahan Agung Kraton Yogyakarta, KPH Notonegoro dan GKR Hayu tahun 2013 (ANTARA)

Terdapat makna filosofis dari berbagai hal terkait paes paes ageng kanigaran. Salah satu yang paling khas adalah riasan pada pengantin. Berikut adalah unsur-unsur pada rias wajah dan dahi beserta penjelasan maknanya, dikutip Era dari jurnal berjudul Tinjauan Filsafat Seni terhadap Tata Rias dan Busana Pengantin Paes Ageng Kanigaran Gaya Yogyakarta karya Sri Widayanti.

1. Penunggul, bentuk paes di tengah dahi. Paes ini memiliki arti sesuatu yang paling unggul, tinggi, besar, dan baik. Makna dari bentuk tersebut adalah kedua pengantin diharapkan menjadi manusia yang unggul.

2. Wanda luruh, bentuk paes yang arahnya melengkung ke bawah. Paes ini memiliki arti bahwa sebagai wanita, pengantin diharapkan bersifat lembut dan menunduk sehingga menjadi perempuan berbudi luhur.

3. Pengapit, bentuk paes di kanan dan kiri (mengapit) penunggul. Ini merupakan simbol pendamping kanan dan kiri. Paes ini memiliki makna meski telah menjadi orang baik, tetapi pengantin masih bisa tersesat jika terpengaruh oleh sifat buruk pendamping kiri. Terkait hal itu, pendamping kanan menjadi pemomong (pengasuh) setia yang selalu mengingatkan pengantin agar tetap kuat dan teguh iman.

4. Penitis, bentuk paes di bawah pengapit (di atas godheg). Makna dari bentuk ini adalah kearifan dan menjadi simbol harapan agar kedua pengantin bisa mencapai tujuan yang tepat.

5. Godheg, bentuk paes yang mempercantik cambang—bentuknya melengkung ke belakang. Makna dari bentuk ini adalah manusia harus tahu asal-usulnya dan ke mana harus pergi. Manusia—dalam hal ini pengantin—diharapkan bisa kembali ke asalnya secara sempurna dengan syarat membelakangi keduniawian.

6. Prada dan ketep, terpasang di seluruh pinggir paesan. Makna dari hal ini adalah keagungan. Warna emas yang digunakan merupakan warna untuk menyimbolkan keagungan.

7. Kinjengan, hiasan pada tengah paesan. Bentuk dari hiasan ini mirip kinjeng atau capung. Makna dari hiasan ini adalah keuletan.

8. Cithak, hiasan yang bentuknya belah ketupat. Hiasan ini terbuat dari daun sirih dan dipasang di tengah-tengah dahi (pusat indra). Makna dari hiasan ini adalah menjadi simbol pagar atau penutup dari perbuatan jahat orang lain. Menusia memiliki kelemahan pada pusat indra tersebut. Jika pusat indra sedang lengah, manusia mudah diperdaya dengan ilmu hitam. Pemasangan cithak harus tepat dan simetris.

9. Jahitan mata, riasan mata yang memberikan kesan mata tampak redup dan anggun. Makna dari riasan ini adalah untuk memperjelas penglihatan agar bisa membedakan hal yang baik dan buruk, kemudian dicerna (dipikirkan) sehingga bisa dijadikan pegangan selama hidup. Pengantin perempuan diharapkan mampu melihat dan berpikir secara positif.

10. Menjangan ranggah, riasan pada alis berbentuk tanduk rusa. Bentuk riasan bermakna agar pengantin perempuan senantiasa waspada dan cekatan saat menghadapi persoalan.

11. Sumping, hiasan di atas telinga kanan dan kiri. Hiasan ini terbuat dari daun pepaya muda yang dibentuk seperti daun sirih, kemudian diberi prada. Hiasan ini memiliki makna memperjelas pendengaran, melunakkan suara yang berefk buruk terhadap emosi, dan mengabil hikmah dari yang didengar.

Itulah beberapa nilai filosofi paes ageng kanigaran dari segi riasan pengantin perempuan. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa menyelipkan doa-doa baik dalam riasan perempuan yang akan menempuh hidup baru (rumah tangga).