Makna dalam Prosesi Pernikahan Adat Jawa, Kamu Mau Pakai Adat Mana Besok?

| 23 Sep 2022 19:04
Ilustrasi pernikahan adat Jawa (indonesia.go.id)

ERA.id - Salah satu upacara adat yang sering digunakan dalam pernikahan di Indonesia adalah adat Jawa. Masyarakat Jawa melakukan serangkaian prosesi yang diajarkan secara turun-temurun. Bukan sekadar prosesi sebab ada makna dalam prosesi pernikahan adat Jawa.

Tata cara pernikahan adat Jawa terbagi menjadi dua prosesi besar, yaitu hajatan dan panggih. Masing-masing punya sub-prosesi yang isinya adalah rangkaian ritual adat penuh makna.

Meski masih sering dilakukan, tak sedikit orang yang belum tahu dengan prosesi-prosesi tersebu, terlebih makna di dalamnya. Dikutip Era dari bridestory, berikut adalah rangkaian prosesi pernikahan adat Jawa serta maknanya.

Makna dalam Prosesi Pernikahan Adat Jawa: Prosesi Hajatan

Prosesi hajatan merupakan prosesi persiapan menyambut hari pernikahan. Prosesi ini biasanya digelar dengan harapan calon pengantin dan seluruh keluarga dijauhkan dari halangan. Prosesi ini juga memiliki maksud agar keseluruhan acara bisa berjalan dengan lancar. Berikut ini adalah beberapa prosesi yang ada di dalam prosesi hajatan. 

1. Pasang Tarub dan Tratag

Tarub memiliki arti pasren yang terbuat dari janur kuning, dipasang di kanan dan kiri tratag serta pintu gapura rumah atau tempat tinggal yang sedang mempunyai hajat. Sementara, tratag adalah dekorasi tenda.

Tarub dan tratag dipasang sebagai tanda bahwa keluarga tersebut sedang mengadakan acara hajatan mantu. Ada pula janur kuning melengkung yang menjadi bentuk pengharapan kemakmuran dan berkah bagi kedua mempelai.

2. Kembar Mayang

Kembar mayang merupakan ornamen dari rangkaian akar, batang, daun, bunga, dan buah. Biasanya, pemasangan dilakukan pada batang pisang. Bentuknya akan menyerupai bentuk gunung, keris, belalang, burung, cambuk, dan payung.

Kembar mayang dipercaya sebagai sesuatu untuk meberikan motivasi dan kebijaksanaan bagi kedua mempelai untuk mengarungi samudra rumah tangga.

3. Tuwuhan

Tuwuhan diletakkan di tempat siraman. Buah-buahan, misalnya setandan pisang, bisa dipasang di masing-masing sisi. Hal tersebut menjadi bentuk harapan agar kedua mempelai cepat dianugerahi buah hati.

4. Siraman

Secara harafiah, siraman berarti ‘mandi dengan air’. Dalam pelaksanannya, tujuh orang akan menyiramkan air ke pengantin. Ayah dari mempelai wanita akan menyelesaikan ritual sebagai lambang pembersihan diri sebelum nantinya dilanjutkan dengan ritual yang lebih sakral. Selain itu, sang ayah akan menggendong mempelai wanita ke kamar pengantinnya.

5. Adol dawet

Kedua orang tua kemudian melakukan prosesi adol dawet atau ‘menjual dawet’ sebagai hidangan bagi para tamu. Penjualan dawet tidak dibayar menggunakan uang biasa, tetapi dengan kreweng atau pecahan tembikar. Ini menjadi simbol pokok kehidupan berasal dari bumi.

Dalam pelaksanannya, sang ibu melayani para pembeli, sedangkan sang ayah memayungi sang ibu. Prosesi ini memiliki makna pemberian contoh kepada anak-anaknya bahwa mereka harus bergotong-royong dalam membina rumah tangga.

Selain ke lima ritual di atas, ada beberapa prosesi hajatan selanjutnya yang akan dilakukan. Berikut adalah daftarnya.

6. Potong tumpeng

7. Dulangan pungkasan

8. Tanam rambut dan lepas ayam

9. Midodareni

Makna dalam Prosesi Pernikahan Adat Jawa: Prosesi Puncak

a. Balangan gantal

Kedua mempelai saling melempar gantal atau sirih yang diikat dengan benang putih. Pengantin pria melemparkan gantal ke dada mempelai wanita sebagai tanda bahwa dia telah mengambil hati sang kekasih. Pengantin wanita akan mengarahkan gantal ke lutut mempelai pria sebagai tanda bakti kepada suami.

b. Ngidak tigan

Ilustrasi istri membasuh kaki suami (wonokromo.bantulkab.go.id)

Prosesi ini dilakukan dengan menginjak sebutir telur ayam mentah oleh mempelai pria. Ini menjadi bentuk harapan agar mendapatkan keturunan karena keduanya (kedua membelai) telah bersatu. Mempelai wanita kemudian membasuh kaki sang suami sebagai tanda kasih sayang.

c. Sinduran

Kedua mempelai dibalut dengan kain sindur sembari diantar menuju pelaminan oleh ayah dari mempelai wanita. Kain sindur menjadi simbol pengharapan keberanian bagi kedua pengantin. Tujuannya agar kedua mempelai menjalani pernikahan dengan semangat dan penuh gairah.

d. Bobot timbang

Setelah kedua mempelai duduk di kursi pelaminan, ayah dari mempelai wanita melakukan prosesi menimbang anak dan anak menantu. Pelaksanannya adalah ayah dari mempelai wanita memangku kedua mempelai.

Ibu dari pengantin wanit kemudian ke bagian punggung suaminya untuk bertanya siapa yang lebih berat di antara kedua mempelai. Sang suami akan menjawab bahwa keduanya memiliki berat yang sama. Ini menjadi pengharapan agar kedua mempelai tahu bahwa tidak ada perbedaan kasih sayang bagi keduanya.

e. Minum rujak degan

Secara harfiah, rujak degan adalah minuman yang terbuat dari serutan kelapa muda. Prosesi ini dilakukan secara bergilir dalam satu gelas untuk satu keluarga. Prosesi dimulai dari dari sang ayah untuk diteruskan kepada istrinya, kemudian diberikan kepada kedua mempelai. Air kelapa menjadi lambang air suci yang bisa membersihkan rohani seluruh anggota keluarga.

f. Kacar kucur

Mempelai pria mengucurkan uang logam beserta kebutuhan pokok berupa beras dan biji-bijian kepada istrinya. Ini menjadi simbol bahwa sang suami akan bertanggung jawab memberikan nafkah kepada keluarga.

g. Dulangan

Prosesi ini dilakukan dengan saling menyuapi oleh kedua mempelai. Keduanya saling menyuapi sebanyak tiga kali. Ini menjadi simbol bahwa keduanya akan selalu tolong-menolong satu sama lain dan memadu kasih sampai tua.

h. Sungkeman

Prosesi adat Jawa diakhiri dengan acara sungkeman. Prosesi ini dilakukan oleh kedua mempelai dengan berlutut di hadapan masing-masing orang tua. Ini menjadi bentuk penghormatan anak kepada orang tuanya yang telah membesarkan mereka hingga akhirnya bisa menjalani kehidupan baru bersama pasangan.

Itulah makna dalam prosesi pernikahan adat Jawa, baik dalam prosesi hajatan maupun prosesi puncak. 

Rekomendasi