Bagaimana Karakteristik Wilayah Pantai Rawan Tsunami di Indonesia?

ERA.id - Bencana tsunami terjadi saat ada gelombang air laut besar yang dipicu oleh pusaran air bawah laut lantaran pergeseran lempeng, tanah longsor, erupsi gunungapi, atau jatuhnya meteor. Lantas apakah ada karakteristik wilayah pantai rawan tsunami di Indonesia?

Perlu diketahui, tsunami dapat bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan dapat mencapai daratan dengan ketinggian gelombang hingga 30 meter. Dilansir dari BPBD Jogja, berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi tinggi tsunami:

3 Karakteristik Wilayah Pantai Rawan Tsunami

1. Pantai yang Sempit

Bentuk pantai atau refraksi merupakan transformasi gelombang akibat adanya perubahan geometri dasar laut. Perlu diketahui, adanya penyempitan maka akan terjadi konsentrasi energi, sehingga tinggi gelombang di tempat itu akan membesar.

2. Pantai yang Landai

tsunami dipengaruhi oleh peredaman di bibir pantai (Unsplash)

Kemudian jarak jangkauan tsunami ke daratan juga sangat ditentukan oleh terjal dan landainya morfologi pantai, di mana pada pantai terjal tsunami tak akan terlalu jauh mencapai daratan karena tertahan dan dipantulkan kembali oleh tebing pantai.

Sementara itu, di pantai yang landai tsunami akan menerjang sampai beberapa kilometer masuk ke daratan. Bila tsunami menjalar ke pantai maka ia akan mengalami perubahan kecepatan, tinggi dan arah.

Akan ada suatu proses yang sangat kompleks yang meliputi shoaling , refraksi, difraksi, dan lain-lain. Shoaling adalah proses pembesaran tinggi gelombang karena pendangkalan dasar laut.

Kemudian Gempa bumi biasanya juga akan terjadi di dekat pertemuan lempeng benua dan samudra di laut dalam, lalu menjalar ke pantai yang lebih dangkal. Aliran tersebut akan teramplifikasi ketika mendekati daratan akibat efek shoaling.

Perlu diketahui fenomena difraksi terjadi ketika ada transformasi gelombang akibat keberadaan (ada atau tidaknya) bangunan atau struktur penghalang. Fenomena tersebut terjadi saat gelombang terintangi sehingga dipantulkan kembali.

Terkait dengan difraksi, suatu bangunan tegak dan padat akan lebih mampu memecah daripada yang miring dan tembus air. Maka dari itu, di Jepang sudah dilakukan pembangunan tembok laut (breakwater) yang efektif menghalangi terjangan tsunami.

3. Hutan Pantai yang Minim

pantai tanpa vegetasi berpotensi terkena dampak tsunami secara langsung (unsplash)

Keberadaan vegetasi dan struktur penghalang di sekitar pantai juga menjadi hal yang mempengaruhi tsunami. Perlu diketahui, kekuatan hutan pantai dapat meredam tsunami makin terbukti jika hutan semakin tebal.

Seperti contoh, hutan dengan lebar 400 meter jika dihantam tsunami dengan ketinggian tiga meter maka jangkauan run up tinggal 57 persen, tinggi genangan setelah melewati hutan pantai tersisa 18 persen, arus tinggal 24 persen.

4. Arah tsunami dari pantai

Kemudian gelombang tsunami yang datang dengan arah tegak lurus dengan pantai akan menyebabkan tinggi gelombang tsunami lebih tinggi. Berbeda dengan tinggi gelombang tsunami yang datang dengan arah sejajar atau dengan sudut tertentu (seperti datang dari arah barat, timur, barat daya ataupun dari arah tenggara).

5. Pantai yang Dengan Pulau Lain

Efek pemantulan dari pulau lain membuat gelombang tsunami yang terjadi tidak langsung berasal dari sumbernya. Tsunami yang demikian dapat terjadi karena akibat adanya pemantulan gelombang dari sekitar pulau yang terkena dampak gelombang tsunami.

Contoh tsunami yang berasal dari sumber lain adalah di pulau Babi, yang mana pulau tersebut diterjang gelombang tsunami akibat dari pemantulan dari pulau disekitar pulau Babi.

Selain karakteristik wilayah pantai rawan tsunami, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Kalo kamu ingin tahu informasi menarik lainnya, jangan ketinggalan pantau terus kabar terupdate dari ERA dan follow semua akun sosial medianya! Bikin Paham, Bikin Nyaman