Starbucks Timur Tengah Pecat 2.000 Pegawai Imbas Boikot Pro-Palestina

ERA.id - Starbucks Timur Tengah memecat sekitar 2.000 pekerja di seluruh wilayah itu setelah merek tersebut menjadi sasaran boikot para aktivis selama perang Israel-Hamas di Jalur Gaza.

Alshaya Group, pemegang hak waralaba Starbucks di sana mengeluarkan pernyataan yang mengakui pemecatan di lokasi mereka di Timur Tengah dan Afrika Utara.

“Sebagai akibat dari kondisi perdagangan yang terus menantang selama enam bulan terakhir, kami telah mengambil keputusan yang menyedihkan dan sangat sulit untuk mengurangi jumlah rekan kerja di gerai Starbucks MENA kami,” bunyi pernyataan tersebut, Selasa (5/3/2024), dikutip dari CNA.

Alshaya kemudian membenarkan pihaknya memecat sekitar 2.000 karyawan. Banyak pekerjanya di Timur Tengah berasal dari negara-negara Asia.

Alshaya menjalankan sekitar 1.900 cabang Starbucks di Bahrain, Mesir, Yordania, Kuwait, Lebanon, Maroko, Oman, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab. Perusahaan tersebut telah mempekerjakan lebih dari 19.000 staf.

Sejak awal perang pada tanggal 7 Oktober 2023, Starbucks menjadi sasaran boikot para aktivis pro-Palestina karena diduga kuat mendukung Israel.

“Kami tidak punya agenda politik,” kata Starbucks. “Kami tidak menggunakan keuntungan kami untuk mendanai operasi pemerintah atau militer di mana pun dan tidak pernah melakukannya.”

Pada bulan Oktober 2023, Starbucks menggugat Workers United yang telah mengorganisir pekerja di setidaknya 370 toko Starbucks di AS atas pesan pro-Palestina yang diposting di akun media sosial serikat pekerja.

Starbucks bukan satu-satunya merek yang menjadi sasaran boikot. Di samping itu ada McDonald's yang diboikot massal setelah pemegang waralaba lokal McDonald's di Israel mengumumkan pada bulan Oktober bahwa mereka menyediakan makanan gratis kepada tentara Israel.