Kebangkitan PKI Menurut Anak Jenderal Ahmad Yani 

Jakarta, era.id - Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia (G30S PKI), partai beraliran komunis itu dibubarkan. PKI dituduh menjadi dalang kematian tujuh perwira tinggi militer Indonesia, dan dianggap melakukan upaya kudeta terhadap pemerintahan zaman Orde lama. 

Cerita itu sudah bergulir 54 tahun lalu. Tapi, partai berlambang palu arit itu tidak mati. Setidaknya itu kata Untung, anak Jenderal Ahmad Yani--korban G30S PKI.

Dalam wawancaranya dengan era.id beberapa waktu lalu, Untung mengatakan, PKI berani memperlihatkan identitas mereka. Termasuk menggunakan atribut partai tersebut, seperti penggunaan pin dan kaus palu arit, serta lagu khas PKI.

"Saya pernah lihat orang di Hotel four season, anak-anak pakai baju palu arit," ceritanya. 

Lantas, dia memanggil anak muda tersebut, dan memnita agar mengganti bajunya. Dia menasihatinya, jangan sampai terlibat masalah karena menggunakan kaus itu.

"Daripada nanti bermasalah mending kamu ganti bajunya,"

"Bapak siapa?" tanya anak itu,

"Enggak saya cuma ngasih tau aja," kata Untung. 

Akhirnya, sang anak muda tadi mengganti kausnya. Untung khawatir anak muda tadi tidak tahu mengenai persoalan terlarangnya hal-hal yang berbau PKI.

"Tapi kan dilarang ya, nanti salah-salah dipukulin orang kan kasian," ceritanya.

Kendati demikian, menurut Untung, kemunculan kembali PKI itu tidak secara terangan-terangan. Ia hanya melihat dari adanya aktivitas-aktivitas yang merujuk ke sana. 

"Muncul secara terus terang sih enggak, cuma ada saja yang bikin seminar lah, segala macam," katanya.

Mengingat kembali peristiwa G30S PKI

Pada 30 September 1965 malam, sejumlah prajurit Tjakrabirawa pimpinan Letkol Untung menyerang sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Ada enam perwira yang diculik dan dibunuh dalam peristiwa ini, di antaranya Letnan Jendral Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jendral Raden Soeprapto, Mayor Jendral Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jendral Siswondo Parman, Brigadir Jendral Donald Isaac Panjaitan, dan Brigadir Jendral Sutoyo Siswodiharjo.

Sementara Panglima TNI AH Nasution yang menjadi target utama waktu itu, berhasil meloloskan diri. Tapi, putrinya Ade Irma Nasution tewas tertembak dan ajudannya, Lettu Pierre Andreas Tendean diculik dan ditembak di Lubang Buaya.

Usai gerakan itu, Panglima Kostrad Mayjen Soeharto mencoba menghentikan pemberontakan dan memburu pelaku. PKI dinyatakan berada di balik gerakan pengambil alihan kekuasaan dengan kekerasan ini. Para tokohnya diburu dan ditangkap.

Sebagian tokoh PKI diadili di mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), sebagian dijatuhi hukuman mati. Ketua PKI, DN Aidit yang dituding merancang gerakan ini bersama Ketua Biro Khusus PKI Sam Kamaruzzaman melarikan diri ke Jawa Tengah, namun kemudian ditangkap, dan dibunuh.

Berbagai gelombang penolakan terhadap PKI sangat besar pada saat itu. Kebanyakan mereka yang menolak kehadiran PKI adalah dari golongan Islam dan Nasionalis. 

Pada Oktober 1965 sampai Maret 1966, PKI masih berdiri namun seperti tak punya nyawa. Akhirnya, sehari setelah Letjen Soeharto menerima mandat Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), PKI dibubarkan melalui keputusan Nomor 1/3/1966. 

Keputusan itu menyatakan; pertama, membubarkan PKI termasuk semua bagian organisasinya dari tingkat pusat sampai daerah beserta semua organisasi yang seasas/berlindung/bernaung di bawahnya; kedua PKI sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah Republik Indonesia.

Hingga hari ini, aturan itu belum dicabut. Artinya, PKI masih menjadi partai terlarang di Indonesia.

Tag: pki pahlawan nasional