Pengalaman Atlet Muda Kena Stroke Akibat Infeksi COVID-19

ERA.id - Cuitan dari Riley Behrens, 23 tahun yang tinggal di Arizona, Amerika Serikat, menjadi perhatian publik setelah ia membeberkan pengalamannya opname di rumah sakit akibat menderita suatu stroke ringan yang dipengaruhi oleh infeksi COVID-19.

"Masih menyepelekan pandemi ini? Baca terus (thread) ini," tulis Behrens pada Minggu, (30/11/2020), di awal rangkaian cuitan yang menceritakan bagaimana kondisinya drop selama hanya 5 hari. Pada Selasa malam cuitan itu sudah mendapat 150.000 likes dan dicuitkan ulang sebanyak 45.000 kali.

Banyak orang tua yang memberi balasan atas cuitan Behrens dengan mengatakan mereka akan menunjukkan cuitan itu pada anak-anak mereka yang masih suka keluyuran di tengah pandemi COVID-19.

Behrens sendiri mengaku terkejut bahwa ternyata tidak sedikit sesama pengguna Twitter, yang masih berusia 20an, yang mengakui mengalami gejala infeksi COVID-19 yang sama, yaitu serangan stroke ringan. Secara medis penyakit ini dinamai dengan TIA, atau transient ischemic attack, dan gejala ini dialami banyak anak muda yang terjangkit COVID-19.

Menurut beberapa studi, termasuk Barrow Neurological Institute, AS, bukti menunjukkan bahwa infeksi korona baru menimbulkan komplikasi syaraf di kalangan orang-orang yang bahkan tidak memiliki faktor risiko, sekaligus pada orang-orang yang punya gejala ringan.

Banyak orang menganggap bahwa stroke hanya bisa dialami oleh kaum lanjut usia. Begitu pula Behrens, yang usianya kini masih 23 tahun.

'Usia Saya 23 Tahun'

Kepada koran USA Today, Behrens menceritakan bahwa Rabu pekan lalu (25/11/2020), ia hanya merasakan sakit kepala. Ia tidak terlalu menggubris hal ini karena menurutnya ia hanya mengalami stres biasa.

Namun, Kamis pagi, ia mulai kesulitan bernafas dan merasakan sakit di dadanya. Rasa sakit ini semakin berat pada hari Jumat.

Hari Sabtu, ia bangun dengan tubuh bagian kiri sangat lemas. Ia tak bisa berdiri menggunakan kaki kiri atau membuka pintu menggunakan tangan kirinya. Ia juga merasa limbung. Pandangan mata kirinya dipenuhi titik-titik buram. Dan seketika itu juga, mengikuti anjuran ayah dan dokternya, Behrens langsung dilarikan ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit, dokter menduga bahwa anak muda ini mengalami serangan stroke. Namun, setelah dilakukan tes MRI keesokan paginya diketahui bahwa Behrens mengalami kondisi bernama TIA, yang diakibatkan oleh sumbatan darah kecil di otaknya.

Behrens dirawat di rumah sakit selama dua hari, dan boleh pulang ke rumah pada hari Senin. Namun, ia masih harus menjalani serangkaian pemeriksaan selama beberapa hari ke depan.

Ia mengaku bahwa penyakit yang ia miliki sebelumnya hanyalah asma akibat berolahraga, yang menurutnya telah sembuh ketika masa SMA. Namun, pada hari Selasa, Behrens, yang saat ini menjadi mahasiswa Universitas Harvard dan mantan atlet rugby semi-profesional, masih mengalami sedikit simptom seperti badan yang agak limbung dan mudah lelah. Ia mengaku mudah lelah saat mengajak anjingnya jalan-jalan sore.

"Kamu tak pernah membayangkan bahwa di usia 23 tahun kamu kelelahan hanya karena mengajak anjingmu jalan-jalan," kata dia, dikutip USA Today. "Saya tak bisa menerima kondisi ini. Ini sangat sulit."

Tak Hanya Serang Pernafasan

Menurut Mayo Clinic, TIA biasanya pulih dengan cepat dan tidak akan menimbulkan dampak permanen. Namun, satu dari tiga orang yang pernah mengidap TIA disebutkan berpeluang mengalami serangan stroke. Dan 50 persen kasus sstroke itu terjadi kurang dari setahun setelah insiden itu.

Para dokter awalnya meyakini bahwa COVID-19 adalah penyakit pernafasan, namun, seiring penyebaran virus ini, mereka mengetahui bahwa banyak pasien juga mengalami gejala syaraf. Kehilangan kemampuan indera penciuman dan perasa adalah beberapa contohnya, seperti dikatakan Dr. Luay Shayya, seorang ahli syaraf di Neurology Consultants of Arizona, AS. Serangan stroke jelas suatu gejala syaraf.

Salah satu penjelasan atas gejala ini, kata Dr. Shayya, adalah bahwa COVID-19 menyebabkan munculnya sumbatan di pembuluh darah tang bisa menjalar ke otak.

Meski begitu, dengan sejumlah terapi pengobatan, anak-anak muda masih memiliki kemungkinan besar untuk bisa sembuh dari TIA.

Riley Behrens berfoto bersama anjing peliharaannya. (Foto: Riley Behrens)

Behrens mengakui bahwa komplikasi COVID-19 yang ia alami menunjukkan bahwa penyakit tersebut tidak pilih-pilih. Bahkan gejala yang serius bisa pula terjadi di kalangan anak muda sepertinya. Itulah kenapa ia memilih untuk membagikan pengalamannya via cuitan di Twitter.

"Para perawat menyuntikkan pengencer darah ke perutku, karena metode itu dianggap lebih efisien daripada menggunakan pil. Saya tak menyarankan siapapun mencoba pengalaman tersebut," kata dia.

"Ayo, sadarlah," kata dia. "Pandemi ini nyata, dan kamu harus mulai berhati-hati."