Wanita Curi Laptop Ketua DPR AS, Hendak Dijual ke Intelijen Rusia

ERA.id - Badan Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat kini sedang mencari wanita bernama Riley June Williams yang tertangkap kamera video sedang mengambil laptop Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, saat aksi kerusuhan pada 6 Januari lalu.

Pejabat FBI menyatakan mendapat informasi dari eks pacar Williams, yang mengaku ditunjukkan video mengenai aksi Williams mengambil laptop atau hard drive dari kantor Pelosi, demikian dilaporkan The Guardian, Selasa (19/1/2021).

Sang mantan pacar mengabarkan bahwa Williams berencana menjual laptop tersebut kepada temannya di Rusia, yang nantinya akan menjual barang tersebut ke pejabat intelijen Kremlin di Rusia.

Namun, belakangan diketahui bahwa rencana tersebut gagal, dan laptop tersebut entah saat ini ada di Williams atau telah ia hancurkan, seperti dilaporkan koran asal Inggris tersebut.

FBI telah merilis surat penangkapan atas WIlliams pada Minggu. Selama ini sang wanita baru dituduh memasuki Gedung Kongres AS tanpa ijin dan melakukan keonaran.

Kepala staf Ketua DPR AS, Drew Hammill, mengonfirmasi pada 8 Januari lalu bahwa sebuah laptop telah hilang dari ruang konferensi. Namun, kata Hammill, "laptop tersebut hanya digunakan untuk presentasi."

Ibu Williams, yang tinggal bersama anaknya di Harrisburg, Pennsylvania, sempat menyatakan pada reporter televisi ITV bahwa putrinya tersebut baru-baru ini saja memiliki ketertarikan pada politik Donald Trump dan informasi di platform ekstrem-kanan yang ultra konservatif.

Ayah Williams, sementara itu, mengaku pada petugas kepolisian bahwa ia dan anaknya pergi ke Ibu Kota Washington di hari terjadinya unjuk rasa, namun, mereka berpisah. Mereka baru bertemu kembali setelahnya, untuk kembali ke Kota Harrisburg, kata The Guardian mengutip FBI.

FBI yakin Williams telah "melarikan diri". Ibu Williams mengaku bahwa putrinya sempat mengepak barang-barang ke dalam tasnya dan menyatakan tidak akan pulang selama beberapa pekan ke depan. Williams kini telah mengganti nomor kontak ponselnya dan menghapus sejumlah akun media sosialnya, sebut FBI.