Vaksin HIV Ditemukan, Uji Klinis di Oxford, Gunakan Teknologi Sama dengan Vaksin Covid-19

ERA.id - Tim peneliti dari Universitas Oxford telah memulai uji klinis Fase 1 kandidat vaksin HIV, (5/7/2021).

Dilansir dari situs resmi Universitas Oxford, tujuan dari uji klinis produk vaksin bernama HIVconsvX ini adalah untuk mengevaluasi keamanan, dampak, dan imunogenisitas vaksin. Bila berhasil, vaksin ini bisa digunakan untuk berbagai jenis HIV, atau human immunodeficiency virus, dari beberapa wilayah geografis di dunia.

Dalam uji klinis, 13 relawan berusia 18-65 tahun - kesemuanya negatif HIV dan tidak termasuk dalam kategori risiko tinggi - akan menerima satu dosis suntikan vaksin. Selang empat pekan kemudian, para relawan akan mendapatkan suntikan dosis pemacu.

Uji klinis vaksin HIV ini adalah bagian dari program European Aids Vaccine Initiative (EAVI2020), yaitu suatu proyek penelitian kolaboratif lintas-negara yang didanai oleh Komisi Eropa menggunakan program riset dan inovasi kesehatan Horizon 2020, melansir Oxford.

Uji klinis vaksin HIV ini menjadi yang pertama dalam 40 tahun terakhir, demikian sebut Profesor Tomas Hanke, guru besar imunologi vaksin dari Jenner Institute, Universitas Oxford.

"Uji klinis ini menjadi yang pertama mengevaluasi strategi vaksin jenis baru bagi seseorang yang negatif HIV, sebagai pencegahan, dan bagi pengobatan individu yang telah terinfeksi HIV."

Kandidat vaksin HIV yang diuji Universitas Oxford ini berbeda karena tidak sekadar memacu antibodi dari sel B. HIVconsvX bekerja memacu sel T sistem imun manusia yang lebih kuat dalam memusnahkan patogen. Teknik ini diharapkan mampu meruntuhkan area virus HIV - dan variannya - yang selama ini dianggap sebagai 'titik lemah' virus tersebut.

"Proteksi terhadap HIV sangatlah susah diciptakan. Kita perlu mendapatkan kedua potensi proteksi dari antibodi dan sel T dari sistem imun."

Sel B dalam ilmu kekebalan tubuh manusia ditemukan sebagai kerja sistem imun level seluler yang bekerja untuk menghalau bakteri, virus, atau parasit.

Sementara itu, melansir situs Cancer Center, sel T dikategorikan sebagai bagian sistem imun yang lebih 'canggih'. Sel T adalah bagian dari 'benteng' sistem imun yang bekerja dengan mempelajari kejadian dan interaksi yang pernah terjadi dalam tubuh, sehingga tubuh bisa mengenali ancaman patogen asing dan menyerang 'musuh' tubuh tersebut.

Selama ini, pencegahan infeksi HIV dilakukan melalui perubahan gaya hidup dan intervensi biomedis, seperti tindakan sunat bagi pria, penggunaan kondom, dan konsumsi obat retrovirus sebelum terekspos virus.

Profesor Hanke menyebut saat ini jumlah infeksi baru HIV terus berkurang. Namun, pengurangan wabah HIV ini belum sesuai target Majelis Umum PBB yang berharap pada tahun 2020 jumlah infeksi baru kurang dari 500 ribu kasus.

"Bahkan bila dibandingkan dengan perluasan pengobatan dan pencegahan anti-retrovirus, vaksin HIV-1 tetap merupakan solusi terbaik dan bakal menjadi komponen penting dalam upaya mengakhiri epidemi AIDS," ungkapnya.

Namun, publik yang menanti hasil uji klinis ini masih harus bersabar. Universitas Oxford menyatakan bahwa hasil uji klinis dari vaksin HIV ini baru akan dilaporkan pada April 2022.

Sejumlah penelitian serupa disebutkan juga bakal dilakukan di Eropa, Afrika, dan Amerika Serikat.